Night Destiny

Night Destiny
Cinta Pandangan Pertama



Diusia yang baru memasuki tiga puluh tiga, Azka sudah mempunyai dua orang anak. Aura ketampanannya semakin terpancar ketika pria itu menggendong putra pertamanya, Gavin. Azka juga sering membawa Gavin ke kantor karena sang istri masih harus mengurus Kara yang usianya baru satu tahun. Banyak yang semakin mengagumi sosok hot Daddy tersebut. Tapi semua hanya debu bagi Azka, karena dunianya hanya Salsa. Hidupnya bahkan dirinya hanya milik Salsa. Pagi ini, Azka menemani Gavin bermain dihalaman belakang, karena Salsa sedang memasak sarapan untuk mereka.


"Yah, I want meet uncle Saga, please."


Jangan heran jika Gavin begitu dekat dengan adiknya, Saga. Hampir setiap hari pria jomblo itu datang kerumahnya hanya untuk bertemu Gavin dan Kara. Padahal usianya hampir 26, tapi Saga masih betah menjomblo alias tidak memiliki pasangan. Kadang Azka berfikir, apakah adiknya itu punya kelainan.


"Hei boy, uncle datang!," teriak Saga yang tiba-tiba muncul, padahal Azka baru saja akan menghubunginya.


"Baguslah kamu datang, aku akan melihat Kara dulu." Azka meninggalkan dua pria beda generasi itu.


"Bang, aku mau ngajak Gavin jalan - jalan ya!."


Azka menoleh, "Di taman komplek saja, sarapan segera siap!."


Saga mengangkat jempolnya. Pria tampan itu segera menggandeng sang keponakan menuju taman komplek. Meski perumahan elit, jika hari minggu begini, disana cukup ramai dengan padagang yang menjual berbagai makanan. Tentunya makanan sehat.


Saga menggendong Gavin setelah mereka sampai ditaman. Suasana taman yang lumayan ramai membuat Gavin terlihat senang. Mereka duduk disebuah bangku panjang yang kebetulan kosong, karena sebagian mereka yang datang, memilih duduk diatas rumput yang terlihat segar itu.


"Gavin mau beli ap--!," ucapan Saga terpotong saat dirinya tak sengaja menatap wajah sendu seorang gadis yang berhasil mencuri perhatiannya. Karena penasaran, Saga memilih diam dan mendengarkan percakapan mereka.


"Mbak, saya bukan tidak suka sama kamu. Kamu dan Ale boleh menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, tapi kalau sebagai istrinya, maaf, tante tidak bisa. Keluarga kita sangat jauh berbeda. Tante tentu ingin yang terbaik untuk putra tante satu-satunya. Kamu paham kan maksud tante?."


Saga memperhatikan gadis yang sedang menunduk tersebut, terlihat jelas wajahnya begitu sendu. Entah kenapa dia merasa iba melihatnya. Ah, bukan iba. Ia sendiri bahkan tak paham kenapa begitu tertarik pada gadis itu. Padahal sebelumnya dia tidak pernah tertarik dengan gadis manapun. Mungkinkah dia jatuh cinta pada pandangan pertama? Ah, tidak. Mana ada yang seperti itu. Pikir Saga. Pria itu kembali memperhatikan dan mendengarkan obrolan mereka.


"Tapi kami saling mencintai, tante," ucapnya terdengar lirih.


Wanita paruh baya itu menatap gadis tersebut lalu menghela nafas, "Hidup itu tidak hanya butuh cinta. Kamu tahu kan, Ale itu seorang manajer. Sedangkan kamu, hanya lulusan SMA. Maaf, bukan maksud tante merendahkan kamu. Tapi, kalau kalian bersama, hanya Ale yang akan bekerja. Sedangkan kamu tahu, bapak kamu sakit - sakitan. Tentu biaya rumah sakitnya tidak sedikit. Kalian itu jomblang. Tidak setara. Jadi tante minta, kalau kamu memang mencintai Ale, tolong lepaskan dia. Dia berhak bahagia dengan Khaira, wanita pilihan keluarga kami." ucap wanita itu lalu pergi.


Saga mengepalkan tangan, tega sekali perempuan itu berbicara dengan begitu kasar. Walau tidak dengan emosi, tapi kata - katanya terdengar begitu menyakitkan. Saga masih memperhatikan gadis itu sampai tidak sadar jika Gavin beranjak dari kursinya.


Perlahan namun pasti, Saga sangat yakin jika gadis itu sedang menangis. Walau tidak bersuara, namun bahunya terlihat bergetar dan dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Aku harus bagaimana, haruskah aku melepas Mas Ale demi kebahagiaannya?."


"Jangan menangisi pria yang tidak bisa memberimu ketegasan dan kepastian. Kamu berhak memilih kebahagiaan lain. Jangan buang air matamu untuk hal yang percuma!."


Gadis itu mendongak lalu mengusap air matanya kasar. Dia menatap heran pada pria didepannya. "Jangan ikut campur masalah yang bukan menjadi urusanmu!," sahutnya ketus.


"Cih, wanita itu sudah menghinamu. Seharusnya kau menjunjung tinggi harga dirimu. Buktikan, kalau semua yang dia ucapkan tidak benar. Kamu bisa menjadi wanita hebat tanpa putranya!."


"Dengar, bung. Pertama, kita tidak saling mengenal, jadi aku tidak perlu mendengarkan semua ucapanmu. Kedua, kalaupun ucapanmu benar, semua tidak semudah membalikkan telapak tangan, ketig--!."


"Menikahlah denganku, dan buktikan pada mereka kalau kau bisa bersinar meski tidak bersama Ale - Alemu itu!."


Deg


*


*


Tok Tok Tok


Azka segera membuka pintu ketika mendengar ketukan pintu,


"Saya tidak tahu, Pak Azka. Tadi saat saya dan istri jogging, tidak sengaja melihat putra anda. Dia sendirian, jadi, saya membawanya pulang."


Azka mengeratkan giginya. Dimana Saga sampai membiarkan Gavin sendirian. "Maafkan saya pak Gunawan. Tadi Gavin pergi dengan adik saya, dan terimakasih sudah membawa anak saya pulang. Saya tidak tahu bagaimana nasib Gavin kalau tidak bertemu bapak."


"Sama - sama, pak. Kalau begitu, saya permisi. Lain kali, hati - hati."


Azka membawa Gavin menuju dapur, tentu dengan raut wajahnya yang begitu marah.


"Mas, siapa yang bertamu? Loh, Sayang, kamu sudah datang? Mana uncle Saga?."


Azka tidak menyahut, dia mengambil ponsel dan menelpon seseorang.


[Pulang sekarang juga!.]


"Mas, ada apa? Saga mana?," tanya Salsa.


"Saga meninggalkan Gavin ditaman. Untung ada pak Gunawan, kalau tidak, aku tidak tahu bagaimana nasib Gavin. Pria bodoh itu--!."


"Siapa yang kamu sebut bodoh?," potong Gita yang baru datang bersama Dirga.


"Anak kedua Bunda, tentu saja. Dia meninggalkan Gavin sendirian ditaman!."


"APA!."


"Bang, Gavin hil--!."


Bug Bug Bug


"Sakit Bunda!." teriak Saga karena dipukul tas oleh Bundanya.


"Biar saja. Kamu itu bagaimana sih? Kenapa kamu meninggalkan Gavin sendiri. Kalau dia culik orang bagaimana? Kenapa kamu ceroboh sekali!."


"Ga, kamu tahu, tindakanmu mengundang bahaya. Memangnya apa yang kamu lakukan sampai kamu melupakan keponakanmu. Cucu kesayangan Bunda dan Ayah?."


Glek,


Saga menelan ludah, haruskah dia jujur dan berkata kalau dia melamar wanita yang bahkan tidak dia kenal. Astaga, bisa mengomel seminggu penuh Bundanya kalau tahu hal ini.


"Jawab, Ga. Kenapa kamu meninggalkan Gavin sendirian? Kamu tidak sedang melakukan hal yang tidak benar kan?," selidik Azka


Saga menghela nafas, dia menatap abangnya, kaka iparnya, Bunda dan Ayahnya.


"Aku ... Aku baru saja melamar gadis yang kutemui di taman!."


*


*


Yang minta bonchap udah aku kasih ya. Cerita selanjutnya tentang Mas Saga nih. Yang setuju, angkat jempol dan kasih komenan