
"Mas Azka ... Dia tidak harus menikahi Salwa karena bukan dia pelakunya!."
Deg
Salwa menatap kakaknya dengan tatapan kebencian. "Tidak mungkin!. Jangan mengarang cerita, jelas - jelas Azka lah yang tidur denganku malam itu!!."
"Aku pria malam itu, Sal. Aku yang tidur denganmu, dan bayi yang kamu kandung sekarang adalah anakku. Jadi, akulah yang akan bertanggung jawab dengan menikahimu!," ucap Seno.
"Tidak! Bukan kamu pria malam itu. Pria yang tidur denganku adalah Azka. Bukan kamu!," sangkal Salwa.
Anya dan Danar menatap putrinya dengan sendu, mereka begitu kecewa dengan sikap Salwa. "Sal, hentikan! Seno sudah mengakui semuanya. Dan yang akan menikah denganmu adalah Seno. Dia yang harus bertanggung jawab terhadapmu. Kamu harus bisa menerima kenyataan ini!," ucap Danar
"Mereka semua bohong, Pa. Azka hanya menutupi kebenarannya untuk menghindar dari tanggung jawab! Aku tidak mau menikah dengan Seno. Azka lah yang harus bertanggung jawab."
Salsa menghela nafas sejenak, "Kamu melimpahkan kesalahan pada Mas Azka hanya karena terobsesi padanya. Sekarang aku tanya, apa malam itu kamu dalam keadaan sadar? Kamu saja tidak tahu jika yang bersamamu bukan Mas Azka."
Salwa menatap Salsa dengan sinis, "Tentu saja aku sadar? Kami berdua sama-sama sadar saat melakukan hal itu!," bohong Salwa.
"Kalau kamu memang dalam keadaan sadar, pasti kamu bisa membedakan siapa yang tidur denganmu! Dia Seno, bukan Mas Azka! Jadi aku minta berhenti berhalusinasi!," ucap Salsa tegas.
"Aku mencintainya, bukan terobsesi padanya. Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana aku mecintai Azka!."
"Sal, jangan mempermalukan dirimu sendiri Nak. Terimalah kenyataan. Mama yakin, Seno akan mencintaimu melebihi Azka!," ucap Anya
"Kalian selalu berkata begitu tanpa mengerti bagaimana perasaanku. Aku hanya mencintai Azka. Dan aku hanya mau Azka yang menjadi suamiku!."
"Tapi itu hal yang mustahil, Sal. Bagaimana mungkin kamu meminta Azka menikahimu sementara anak yang kamu kandung adalah anak Seno," ucap Dirga.
"Kenapa kalau aku menikah dengan Azka?."
"Itu tidak akan pernah terjadi. Kamu akan menikah dengan Seno apapun yang terjadi!."
"Tidak! Aku menolak menikah dengannya!!."
"Sal, bagaimanapun kamu menyangkal, anak dalam kandunganmu bukan anakku. Dia anaknya Seno, dan yang akan bertanggung jawab menikahimu adalah Seno, bukan aku. Lagipula kamu sangat tahu, Seno sudah menaruh perasaan padamu sejak lama. Dia akan menjadi suami dan ayah yang baik untukmu dan anakmu!," sahut Azka.
"Tidak! Anak ini anakmu! Kamu harus bertanggung jawab. Kita harus menikah!," teriak Salwa histeris.
Salsa tidak bisa menahan diri lagi, dia berdiri lalu berjalan ke arah adiknya.
Plak
Semua orang terkejut saat Salsa menampar adiknya. Anya menutup mulut tak mampu menahan kesedihan dihatinya. Begitupun dengan Danar yang terlihat nelangsa melihat kedua putrinya bertengkar hanya karena memperebutkan seorang pria.
"Berhenti menjadi wanita murahan! Hentikan kegilaanmu ini! Kamu sadar, bukan Mas Azka pria dimalam itu. Jangan mengharapkan hal yang mustahil terjadi. Lagipula dalam video itu, terlihat jelas siapa pelakunya. Aku tegaskan, Seno yang akan menikahimu bukan suamiku! Jadi, lupakan semua obsesi dan mimpi gilamu pada Mas Azka!."
"Kamu pikir mudah melupakan semuanya? Bertahun-tahun kami bersama bahkan hampir menikah tapi semua hancur karena kehadiranmu. Kamu yang bersalah dalam hal ini. Kamu bahkan menggunakan tubuhmu untuk menjerat tunanganku. Jadi siapa yang pantas disebut murahan disini?."
"Salwa!!," ucap Azka emosi.
"Kenapa? Bukankah aku mengatakan kenyataan? Dia memang murahan. Merangkak naik keranjang seorang pria. Memberikan tubuhnya begitu saja. Bahkan sampai hamil diluar nikah. Bukankah caranya begitu licik, lalu kenapa sekarang aku disalahkan karena menggunakan cara yang sama?."
"Sal, hentikan!," Seno memberanikan diri membuka suara.
"Diam kamu! Kamu tidak punya hak bicara disini!."
"Bersikap baiklah pada calon suamimu!."
"Hahaha, calon suami? Siapa? Dia?," tunjuk Salwa pada Seno. "Aku tidak mau menikah dengannya, Azka lah yang akan menjadi suamiku!."
"Salwa, hentikan semuanya. Kamu hanya menyakiti dirimu sendiri," ucap Gita. Jujur dia merasa kasihan pada Salwa.
"Aku tidak mau mundur dan tidak akan pernah mundur!."
"Sebagai seorang wanita, harusnya kamu menjunjung tinggi harga dirimu, bukan merendah seperti ini. Dengarkan aku baik - baik, sampai kapanpun Mas Azka tidak akan pernah menikahimu. Tidak bahkan meski dalam mimpi sekalipun!."