
Danar menghela nafas panjang berkali - kali. Rasanya, pukulan ataupun umpatan tak cukup membayar sakit hati yang putrinya terima. Apapun alasannya, Azka tetap bersalah. Kebohongan yang dia ciptakan, kejujuran yang dia abaikan tentu kesalahan fatal dalam rumah tangganya bersama Salsa.
"Bang, Ayah dan Bunda selalu mengajari kamu tentang kejujuran. Bahkan kami selalu mengingatkanmu bahwa dalam rumah tangga, selain cinta dan kasih sayang, kejujuran adalah kunci utama. Berkomunikasi, berbagi suka duka dan apapun masalah yang dihadapi, semua akan selesai dengan adanya kejujuran. Saling terbuka dan menemukan solusi bersama," Dirga menghela nafas, "Kamu lihat akibat perbuatanmu sekarang? Salsa pergi. Tentu sebagai istri, dia sangat kecewa dan sakit hati."
Azka menunduk, pikirannya kacau. Hatinya perih kala mengingat tindakan bodohnya. "Aku menyesal, Yah. Aku sungguh menyesal."
Azka menatap mertuanya dengan tatapan mengiba, "Aku mohon Pa, Ma. Tolong beritahu dimana keberadaan istriku. Aku ingin memperbaiki semuanya," lirih Azka
"Mama tahu, niatmu baik. Tapi benar yang Ayahmu katakan. Caramu yang salah, Ka. Seandainya kamu jujur, semua tidak akan seperti ini. Kamu bahkan tidak tahu seperti apa tangisan pilu istrimu. Salsa juga sempat ping-!."
"Sebaiknya kalian bercerai!."
Deg
Semua terperanjat dengan ucapan Danar. Tak terkecuali Azka. Jantungnya seperti berhenti per sekian detik. Nafasnya juga terasa sesak. Tidak, bercerai dengan Salsa adalah mimpi buruk yang tidak pernah dia bayangkan.
"Aku tidak akan menceraikan Salsa. Aku mencintainya, aku menyayanginya. Aku tidak mau berpisah dengannya!," tegas Azka.
"Tapi untuk apa lagi pernikahan kalian dipertahankan. Putriku sudah sangat terluka. Dia bahkan memilih pergi tanpa memberitahumu. Menurutmu kenapa?," tanya Danar dengan sinis.
"Sudah aku katakan, semua hanya kesalahpahaman. Jika Salsa tahu yang sebenarnya, dia pasti akan Memaafkan ku!."
"Nar, apa tidak berlebihan meminta mereka bercerai? Aku rasa masalah ini bisa diselesaikan dengan kekeluargaan," ucap Dirga menimpali.
Anya mengelus lengan sang suami. Dia meminta Danar bermurah hati melalui tatapan matanya. Sayangnya Danar sudah terlanjur kecewa, "Sebagai seorang Ayah. Aku terlanjur kecewa dengan putramu. Jika keadaannya dibalik, bagaimana perasaanmu dan apa yang akan kau lakukan?."
Dirga hanya mampu menghela nafas, sepertinya Danar tidak mudah dibujuk saat ini. "Azka memang salah, tapi perceraian bukanlah solusi yang benar."
"Benar yang dikatakan Mas Dirga, Mas. Kamu tahu kan, Salsa dan Azka saling mencintai, jangan mengambil keputusan sendiri apalagi disaat emosi," Danar mendengus kesal, kenapa Anya selalu membela menantunya.
"Maafkan aku, Danar. Tapi aku setuju dengan Mas Dirga dan Anya, mereka tidak harus bercerai. Tidakkah kamu melihat kebahagiaan mereka saat bersama. Apa kamu tega memisahkan mereka? Mereka saling mencintai. Walau aku akui anakku bersalah, tapi perceraian bukanlah keputusan yang tepat. Kesalahpahaman ini harusnya bisa diselesaikan. Lagipula, aku yakin Salsa belum menentukan keputusan bercerai ini. Kamulah yang menginginkannya!."
" Ya ... Akulah yang menginginkan mereka berpisah. Untuk apa mempertahankan pernikahan jika sudah tidak sehat!."
"Kesalahan yang aku lakukan memang fatal. Tapi aku rasa masih bisa diperbaiki. Lagipula aku tidak mengkhianati istriku. Aku setia, dan aku hanya mencintai satu wanita!."
Skak
Merasa tersudutkan, Danar pun memilih bungkam. Sesekali dia melirik menantunya yang semakin tampan kacau.
"Aku tegaskan, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikan Salsa. Aku akan mencarinya dan aku pasti akan menemukannya dimanapun dia berada!."