Night Destiny

Night Destiny
Pria Sempurna



Setelah berbicara dengan Bunda. Salsa mencari keberadaan Azka dan Gab untuk mengajak mereka makan siang. Menyusuri hampir seluruh penjuru rumah, akhirnya Salsa menemukan mereka dihalaman belakang. Rupanya Azka mengajak Gab bermain bola.


Salsa memperhatikan keakraban antara suami dan adiknya. Perempuan itu akui, Azka adalah sosok yang sempurna. Dia tampan, mapan, perhatian dan hangat. Siapa yang tidak ingin menjadi istri seorang Azka. Bahkan adiknya sendiri masih belum bisa melupakan Azka. Pria itu juga kebapakan, sudah sangat pantas memiliki seorang anak. Semoga setelah ini mereka segera dikarunia momongan lagi.


"Kak Caca, ayo kemari," panggil Gab saat melihat Salsa yang memperhatikan mereka.


Salsa mendekati dua pria berbeda generasi tersebut, "Waktunya makan siang. Kalian berhenti dulu mainnya. Semua sudah menunggu!."


Hap


Azka menggendong Gab, pria kecil itu tertawa geli kala Akza menciumi perutnya. Salsa yang melihatnya ikut tertawa.


"Gab senang?."


"Om Aka baik. Dia juga punya banyak mainan. Gab suka."


Salsa terkekeh, tadi Gab tidak menyukai Azka. Sekarang malah terlihat lengket sekali. "Bukannya Gab tidak menyukai Om Aka?," pancing Salsa.


Gab menggeleng, "Om Aka janji akan sering mengajak Gab main. Gab seperti punya ayah sekarang."


Salsa dan Azka saling menatap. Anak kecil memang selalu jujur. Mungkin Gab ingin memiliki ayah seperti anak lainnya.


"Kalau begitu, Gab boleh menganggap Om sebagai Ayahnya Gab. Mau kan?."


Anak itu mengangguk antusias, "Yey, Gab punya Ayah."


Mereka tiba diruang makan. Azka menurunkan Gab, anak itu segera berlari ke Maria. Setelah mencuci tangan, Gab bergabung dengan yang lain di meja makan.


"Kamu duduklah dulu. Aku akan membantu Bunda menyiapkan makanan untuk anak-anak!."


Azka menggeleng, "Biar aku bantu."


Azka ikut membagikan makanan untuk anak-anak. Menuangkan nasi dan lauk diatas piring anak-anak yang berjumlah sekitar 35 orang. Setelah berdoa bersama, mereka menyantap makan siang dengan penuh syukur. Menu sederhana yang begitu lahap dinikmati anak-anak yang kurang beruntung itu, membuat hati Azka tersentuh.


"Makanlah, jangan hanya melihat anak-anak. Kamu tidak akan kenyang kalau hanya memperhatikan mereka."


Azka tersenyum lalu mengangguk. Dia ikut menikmati makan siang sederhana itu dengan penuh syukur.


"Ayah, Gab ingin disuapi Ayah!."


"Gab, makan sendiri ya, Nak. Ayah Azka juga harus makan," tegur Bunda


Gab memberenggut, Azka yang melihatnya langsung menghampiri bocah tersebut. Dengan sigap dia mengambil piring milik Gab dan menyuapinya. Bocah tampan itu terlihat sangat riang.


Seusai makan siang, anak-anak kembali ke aktivitas mereka masing-masing. Azka dan Salsa berbincang diruang tengah.


"Gab memanggilmu Ayah. Kau tidak keberatan Nak?."


Azka tersenyum, "Tidak masalah, Bunda. Aku justru senang Gab memanggilku Ayah. Aku menyukainya. Dia lucu dan menggemaskan. Lagipula, aku sedang berlatih menjadi seorang Ayah. Benarkah, Sayang?."


Salsa hanya tersenyum malu tanpa menjawab pertanyaan Azka, "Bunda doakan semoga kalian segera diberi kepercayaan lagi!."


"Amin!," jawab Azka dan Salsa kompak.


"Oh ya Bun, saya ingin memberi sedikit rejeki untuk anak-anak. Sudah saya kirimkan ke rekening Bunda. Semoga bisa membantu kebutuhan disini."


Maria melihat ponselnya. Ada notif M-Banking yang masuk ke dalam rekeningnya. "Nak Azka, kamu tidak salah? I-ini banyak sekali," Maria terkejut dengan nominal yang diberikan Azka.


"Itu untuk anak-anak, Bun. Setiap bulan aku akan mengirim dengan jumlah yang sama."


"Terima kasih banyak, Nak Azka. Semoga Allah membalas kebaikanmu. Memudahkan segala urusanmu dan mengganti rejeki yang kamu berikan untuk kami. Bunda juga mendoakan semoga rumah tangga kalian selalu bahagia."


Azka tersenyum, "Terima kasih atas doanya, Bun. Kalau ada apa-apa. Bunda jangan sungkan memberitahuku."


"Terima kasih banyak ya. Kamu begitu baik pada kami. Bunda jadi lega menitipkan Salsa padamu. Bunda yakin, denganmu dia akan bahagia."


Salsa memeluk lengan Maria, "Bunda benar. Azka adalah pria baik, Bun. Jadi Bunda tidak perlu khawatir kalau aku tidak akan bahagia."


Setelah berbincang dengan Maria. Azka dan Salsa memutuskan pulang. Esok Azka sudah mulai kembali bekerja. Kasihan Redi dan Alvin jika Azka terlalu lama meninggalkan kantor.


"Bagaimana? Kamu sudah mengambil keputusan?," tanya Azka.


Salsa mengangguk, "Aku ingin berdamai dengan hatiku dan keadaan, Mas."


Azka mengangguk, "Kapan kamu akan menemui mereka?."


"Kalau kamu siap. Nanti malam kita bisa kesana."


Salsa mengangguk, kemudian dia menatap ke luar jendela. Perjalanan cukup lengah karena siang hari.


"Apa yang mengganggu pikiranmu? Apa kamu masih ragu?," tanya Azka yang melihat istrinya seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Aku hanya tidak tahu bagaimana harus bersikap ketika bertemu mereka. Dan Salwa ....!"


Azka langsung paham kemana arah pembicaraan istrinya. "Kamu takut aku kembali dekat dengan Salwa?."


Salsa menatap suaminya, raut wajahnya langsung bisa Azka baca. Pria itu tersenyum tipis, "Jangan khawatir. Walaupun kami akan menjadi ipar, aku tidak pernah kembali pada Salwa. Lagipula, kita tidak akan tinggal bersama dengan, kan? Apa yang kamu khawatirkan?."


Salsa menghela nafas, "Walau dia adikku, tentu ada rasa tidak nyaman ketika kita bersama, bukan? Apalagi dia mengenalmu lebih lama. Dia lebih tahu apapun tentangmu dibanding aku."


"Makanya, kita harus saling mengenal lebih dalam kan."


"Kan semua butuh proses, Mas. Tidak bisa instan."


"Makanya, kita harus menghabiskan banyak waktu berdua. Dengan begitu, kita akan lebih cepat mengenal satu sama lain."


"Satu lagi sifat kamu yang baru aku temukan."


"Apa?," tanya Azka penasaran.


"Modus."


Tawa Azka menguar. Sikap Salsa membuatnya gemas. "Baru kamu yang berani mengataiku modus, sayang."


"Memang benar kan. Kamu selalu modus untuk bersama denganku."


"Memang apa yang salah jika aku ingin menghabiskan waktu bersama istriku, hm. Kita suami istri, wajar jika aku ingin terus bersamamu. Atau kamu tidak mau terus bersamaku?."


"Mana ada," jawab Salsa cepat. Perempuan itu langsung membekap mulutnya karena malu.


"Hahah, kamu juga ingin menghabiskan waktu bersamaku kan? Kalau begitu jangan mengatakan aku modus."


"Baiklah, apapun yang membuatmu senang."


Azka kembali menatap lekat sang istri, "Aku jadi tidak sabar mengajakmu bulan madu."


Salsa berdecak, "Mas pasti memikirkan hal mesum kan?."


"Tidak!."


Azka menepikan mobilnya, dia kembali menatap Salsa dengan tatapan lembut.


Cup


Salsa mendelik saat Akza mengecup singkat bibirnya. Pria itu menatapnya dengan kekehan.


"Kamu selalu bertindak tiba-tiba," protes Salsa


"Kalau aku memintanya dengan benar. Apa kamu akan memberinya?."


Salsa menunduk, namun Azka segera menarik dagu sang istri, membuat Salsa kini menatapnya. Perlahan namun pasti, Azka semakin mendekatkan dirinya pada Salsa.


Sebuah lu*matan lembut menyapa bibir Salsa. Awalnya dia diam, namun lama kelamaan, Salsa merespon sang suami. Keduanya terbang bersama rasa yang tak bisa tergambarkan. Dua insan itu masih terhipnotis dengan kegiatan yang mereka lakukan. Hingga luma*tan itu harus terhenti karena pasokan udara ditubuh mereka menipis.


Azka mengusap sudut bibir Salsa. Azka akui, bibir istrinya itu membuatnya candu.


"Aku menyukai bibirmu, sayang."


Blush


Wajah Salsa memerah mendengar ucapan Azka. "Kamu membuatku candu, aku menyukai semua yang ada pada dirimu. Jika saja kamu tidak dalam masa nifas. Aku tidak yakin untuk melakukannya disini."


Salsa mendelik, "Kamu selalu saja mesum. Apa yang ada dipikirkanmu hanya hal begitu?."


"Aku kan pria normal, sayang. Wajar kalau aku bersikap demikian. Apalagi--!," Azka menjeda ucapannya membuat Salsa menaikkan sebelas alisnya.


"Apalagi apa?."


Azka menatap Salsa lalu menurunkan pandangannya ke bawah, "Apalagi ... King sudah menegang!."