Night Destiny

Night Destiny
Tetaplah Bersama Kami



Disebuah rumah sakit, didalam ruang bersalin. Seorang wanita muda sedang bertaruh nyawa melahirkan buah hatinya. Peluh memenuhi dahinya, tubuhnya terasa remuk bak dipukul ribuan kali. Disampingnya, terlihat seorang pria terus menggenggam tangannya. Memberikan kecupan dan semangat tak lupa doa selalu dia lafalkan dalam hati.


"Tarik nafas, Bu. Lalu hembuskan. Ulangi lagi. Dan ikuti instruksi saya."


Wanita itu mengangguk lemah, tubuhnya lelah, namun dia belum mau menyerah.


"Tarik nafas panjang, lalu dorang!."


Erangan kembali terdengar, kesakitan jelas tergambar diwajah Salwa. Sejak satu jam yang lalu, perempuan itu berjuang melahirkan buah hatinya dan Seno.


"Istirahat dulu."


Salwa memeluk perut sang suami. Membenamkan wajahnya disana dan menitikkan air mata. Sungguh besar perjuangan seorang ibu. Kini dia merasakannya. Dan tentunya tidak sampai disini perjuangannya. Seorang ibu masih harus menyusui anaknya. Merawat, membesarkan dan mendidiknya agar menjadi anak yang sholeh dan sholeha.


Salwa menatap wajah sendu Seno, pria yang berstatus suaminya. Pria yang begitu perhatian padanya dan pria yang selalu ada saat dia butuhkan. Seno tetap sabar padanya walau kerapkali Salwa ketus bahkan kasar terhadapnya. Pria itu begitu tulus menyayanginya. Bahkan Salwa sadar, Senolah pria terbaik yang ditakdirkan untuknya. Namun dia gengsi untuk mengakui itu.


Tapi kini, dia menyadari bahwa dirinya telah jatuh cinta pada Seno. Dia tidak mau kehilangan suaminya.


"Tarik nafas panjang lalu dorong."


Salwa mengejan sekuat tenaga hingga suara tangis bayi pecah memenuhi seluruh ruangan.


"Selamat Pak, Bu. Bayinya perempuan dan dia sempurna."


Seno menitikkan air mata. Tubuhnya lemas setelah menyaksikan sendiri bagaimana putrinya diangkat dan dikeluarkan dari rahim sang istri. Perasaan menghangat, kini dia sudah menjadi seorang ayah. Ya, Ayah. Entah Ayah, atau merangkap menjadi ibu sekaligus.


Setelah dibersihkan, bayi Seno diletakkan diatas dada ibunya. Dia melihat dengan jelas, bagaimana putrinya menggeliat, tubuhnya yang merah berusaha menggerakkan tubuhnya. Dan mulut mungilnya berusaha mencari ****** susu ibunya.


"Anak kita cantik seperti kamu."


Pujian Seno membuat Salwa tersenyum tipis. Bentuk wajah bayinya memang mirip dengannya tapi hidung, mata dan mulutnya mirip dengan Seno.


"Kamu bebas, Sal. Kamu sudah melahirkannya dan mulai sekarang aku mengizinkanmu pergi."


Deg


Jantung Salwa berpompa lebih cepat. Dia menatap Seno yang tersenyum sendu ke arahnya.


"A-aku--."


"Maaf, Pak, Bu. Bayinya kami bawa untuk dipakaian pakaian dulu. Ibunya juga akan kami bersihkan."


Mendengar ucapan suster, Seno langsung keluar ruangan. Disana ada Danar dan Anya yang terlihat begitu bahagia.


"Bagaimana? Bayi dan ibunya sehat kan?," tanya Anya.


"Bayi dan Ibunya sehat, Ma, Pa. Mereka sedang dibersihkan dan akan segera dipindahkan keruang perawatan."


Danar mendekati Seno, dia menepuk pelan punggung menantunya. "Jangan pesimis. Semoga hati Salwa terbuka dan dia akan mempertahankanmu juga bayimu."


Seno tersenyum tipis, "Aku berharap juga begitu Pa. Tapi aku tidak mau terlalu berharap, aku harus siap dengan apapun keputusannya."


Danar menatap miris menantunya, putri angkatnya keras kepala. Rumah tangga mereka juga belum dikatakan baik - baik saja. Sementara rumah tangga putri kandungnya juga bermasalah.


Perawat membawa brangkar Salwa menuju kamar perawatan. Dibelakangnya juga ada suster yang mendorong box bayinya. Anya langsung mendekati box tersebut. Dia menatap haru wajah cucu cantiknya. Dengan antusias wanita paruh baya itu mengikuti suster menuju kamar dimana Salwa akan beristirahat. Begitupun dengan Danar dan Seno.


Setibanya dikamar, suster berpamitan. Anya langsung menuju kearah putri dan cucunya.


"Kamu baik-baik saja, sayang?."


Salwa hanya memberikan jawaban berupa anggukan. Pikirannya kembali melayang pada ucapan Seno beberapa menit yang lalu.


"Putri kalian cantik sekali," ucap Danar menatap cucunya. Lalu pria paruh baya itu menatap putrinya. Putri yang dia sayangi seperti anak kandungnya sendiri. "Kamu sudah menjadi seorang ibu. Kamu tahu bagaimana kerasnya perjuangan seorang wanita melahirkan anaknya. Lihatlah bayimu," Salwa menatap bayinya yang tertidur pulas. "Dia berhak mendapatkan kasih sayang lengkap dari kedua orang tuanya. Papa harap kamu mengesampingkan ego kamu demi kebahagiaan putrimu."


Salwa tidak menjawab, hal itu membuat Danar menghela nafas panjang. "Kalian butuh waktu bicara berdua. Kami akan pergi dulu. Papa harap, kamu mengambil keputusan yang tepat, sayang."


Danar dan Anya meninggalkan Salwa dan Seno berdua. Dua insan itu sama-sama diam.


Seno menatap wajah istrinya yang masih terlihat lelah. Seharusnya, sekarang Salwa beristirahat. Tapi keputusan yang diambil Danar juga untuk kebaikan mereka. Ada anak yang tidak bisa mereka abaikan.


"Aku tidak akan memaksamu bertahan dengan kami. Kalau kamu ingin pergi, aku--!."


"Bayi ini juga anakku. Aku tidak akan meninggalkannya."


Seno bungkam, dia salah mengira. Dia pikir, Salwa tidak mau menyerahkan bayi mereka padanya. Seno sadar, dirinya tidak boleh egois. Yang dibutuhkan anaknya adalah Salwa. Apalagi kehidupan anaknya enam bulan kedepan bergantung padanya.


"Baiklah jika itu keputusanmu. Aku yang akan pergi dari hidup kalian. Tapi aku minta, tolong jangan halangi aku ber--."


"Tetaplah bersama kami!."


Deg


Seno menatap Salwa dengan rasa tak percaya. Tak ingin salah dengar, pria itu menanyakan kembali ucapan yang baru saja didengarnya.


"K-kamu bilang apa?."


"Tetaplah bersama kami," ucap Salwa lirih. Kini wanita itu memberanikan diri menatap sang suami. "A-aku ingin kamu tetap menjadi suami untukku dan ayah untuk anak kita."


Tidak bisa tergambar, perasaan Seno sungguh bahagia. Namun dia tidak boleh terlena, Seno ingin bukti langsung "Kamu yakin dengan ucapanmu. Bukankah kamu tidak ingin hidup bersamaku? Dan kamu juga mencintai Azka."


Salwa menggigit bibir bawahnya, antara kesal, dan juga malu. "A-aku ... Ehm, aku menyadari sesuatu. Perasaan tidak bisa dipaksakan, begitupun perasaanku pada Azka. Dia mencintai Salsa. Kenapa aku harus menunggu orang yang jelas - jelas tidak mau menerimaku jika ada pria lain yang tulus menyayangi dan mencintai aku."


Seno diam - diam tersenyum, "Jadi?."


"Aku tidak mau menyia-nyiakan hidupku dengan hal yang tidak pasti. Aku juga harus lebih bersyukur dengan apa yang aku miliki saat ini. Aku diangkat anak dan dibesarkan oleh orang tua yang baik seperti Mama dan Papa. Awalnya aku terbuai, aku bahkan dengan egois menyakiti putri kandung mereka. Tapi sekarang aku sadar, semua yang aku lakukan salah. Aku tidak benar-benar memiliki keluarga kandung. Semua keluargaku sudah menghadap Allah. Saat aku sudah memiliki anak dan suami yang menjadi alasanku tetap bertahan, kenapa aku harus melepas salah satunya."


"Jadi kamu mau menerimaku sebagai suamimu? Kamu juga mau hidup bersamaku hingga tua?."


Salwa mengangguk, "Aku tidak boleh melepaskan pria baik sepertimu. Apalagi ada anak diantara kita. Aku tidak mau mengorbankannya hanya demi keegoisanku."


"Apa kamu mencintaiku?," pertanyaan Seno membuat Salwa bungkam. Kalau ditanya cinta? Mungkin jawabannya ia. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa rasa untuk Azka masih ada walau perlahan mulai terkikis dengan sendirinya.


"Pasti belum," Jawab Seno lirih.


Salwa menatap suaminya, dia sudah yakin memilih pria dihadapannya ini untuk mengarungi hidupnya hingga ajal menjemput. "Disadari atau tidak, a-aku mulai mencintaimu. Dan aku harap, kamu mau membantuku agar aku benar-benar mencintaimu."