Night Destiny

Night Destiny
Kejujuran Saga



Azka terbaring lemah diranjang rumah sakit. Wajahnya terlihat begitu pucat dengan selang infus yang terpasang dijari kirinya. Pria itu kembali memejamkan mata setelah dokter memeriksanya.


"Bagaimana, Mas. Apa berhasil?," tanya Gita yang melihat suaminya baru datang.


Dirga menghela nafas, dia mendudukkan dirinya disofa sesaat setelah melihat putra sulungnya beristirahat. "Baji*ngan itu masih bungkam. Aku jadi semakin kesal, bisa-bisanya dia bertindak seperti ini. Tidakkah dia mengingat masa lalu, betapa besar kesalahan yang dia lakukan padamu! Dia bersikap seperti seorang yang tidak punya dosa."


Gita hanya mampu menenangkan suaminya. Ibu mana yang tidak sedih melihat rumah tangga putranya berantakan. Apalagi sekarang Azka harus terbaring tak berdaya dirumah sakit.


"Kemana lagi kita harus mencari Salsa. Bahkan orang suruhanku tidak menemukannya dimanapun."


"Bagaimana mau ketemu kalau kak Salsa berada sangat jauh dari ibukota," ucap Saga keceplosan.


Kini pemuda itu mendapat tatapan tajam dari kedua orang tuanya.


Matilah aku,


"Kamu mengetahui sesuatu Sagara Ibrahim?."


Pertanyaan sederhana dari Ayahnya membuat Saga menelan ludah kasar. Tatapan menghunus seperti pedang tajam seolah siap menusuk jantungnya


"Kamu menyembunyikan sesuatu, Ga?," kali ini Gita yang bertanya.


Saga menghela nafas, kalau sudah begini. Mau tak mau dia harus berterus terang.


"Aku sudah berjanji pada kak Salsa untuk tidak mengatakan keberadaannya pada siapapun termasuk Abang. Tapi karena aku salah bicara, ya sudahlah, aku akan katakan semuanya."


"Awk Awk ...," teriak Saga saat Gita menjewer telinganya dengan sangat keras. Perempuan itu begitu kesal karena rupanya Saga tahu keberadaan Gita dan menyembunyikannya dari semua orang.


"Kamu bikin semua orang susah. Dasar anak kadal ... Kamu tahu kami kelimpungan mencari kakak iparmu tapi kamu malah menyembunyikan keberadaannya. Lihat Abang kamu, dia sampai masuk rumah sakit gara-gara mencari istrinya. Tapi kamu malah diam saja. Kamu tidak kasihan melihat Abangmu? Hah! Sekarang katakan dimana kakak iparmu berada!."


Saga menggosok telinganya yang sudah memerah. "Aku kan tidak mau dibilang sebagai orang yang suka ingkar janji, Bun. Orang itu yang dipegang kata - katanya. Benarkan, Yah!."


"Apa?," jawab Dirga dengan nada kesal.


"Ucapanku barusan!."


Dirga tak menyahut, dia masih kesal pada Saga. Gita pun sama kesalnya, "Bukan waktunya membahas yang lain. Sekarang cepat katakan dimana keberadaan Salsa, Ga!."


Saga berdecak, dia kira Bundanya akan lupa masalah tadi. "Kak Salsa ada di Jember."


"Hm. Ada teman tante Anya yang tinggal disana. Dan yang pasti, baik Ayah maupun bang Azka tidak mungkin menemukannya. Dan ternyata benar kan? Kalian tidak berhasil," ucap Saga terkekeh.


Plak


Lagi, Gita memukul lengan Saga dengan keras membuat empunya meringis.


"Bunda nih, dari tadi kekerasan mulu sama anak. Nanti aku laporin Kak Seto loh."


"Heleh ... Yang ada kamu bakal ketawain. Umurmu sudah expaired buat dibilang anak-anak. Kamu bahkan sudah cocok buat anak!."


Saga mendelik, ini pertama kalinya Bunda berkata vulgar. "Wah, kayaknya Bunda kesurupan!."


Gita tak menjawab. Dia berjalan ke arah ranjang Azka dan menatap putranya dengan perasaan lega.


"Bunda janji, akan segera mempersatukan kalian lagi, Ka. Kamu harus cepat pulih biar bisa bertemu dengan istrimu."


Azka mengerjapkan mata, samar - samar dia mendengar ucapan ibunya. "Apa aku tidak salah dengar, Bun. Bunda tahu keberadaan istriku?."


Dirga dan Saga ikut berjalan menuju ranjang Azka.


"Si peka ini sebenarnya tahu dimana istrimu berada, Bang. Dia menyembunyikan semuanya dari kamu."


Azka menatap tajam Saga yang menyengir ke arahnya. "Sagara Ibrahim, tunggu pembalasanku!."


Glek


Saga kembali menelan ludah. "Peace, Bang. Peace!."


"Sudahlah, jangan hiraukan dia. Sekarang apa yang akan kamu lakukan, Bang. Kamu akan menemui istrimu segera?."


Azka nampak berfikir sejenak, senyuman muncul dari sudut bibirnya. "Kalau Salsa memberikan hukuman menyakitkan padaku. Bolehkan, kalau aku membalasnya sedikit?."


*


*


Hayo, kira - kira apa yang Azka lakukan?