Night Destiny

Night Destiny
Belajar Sabar



Setelah mengambil keputusan bodoh yang membuatnya harus kehilangan sang istri. Azka tak lagi peduli pada Alika dan suaminya. Semua ia serahkan pada Alvin. Saga benar, dia tak seharusnya berlagak bak pahlawan kesiangan yang akhirnya menghancurkan hidupnya sendiri. Menyesal, jangan ditanya. Bahkan jika bisa memutar waktu, Azka tak akan mengambil keputusan gegabah yang merugikan dirinya sendiri. Namun apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Azka hanya berdoa semoga hati Danar terbuka dan mau memberitahu keberadaan Salsa.


"Bos, Alika meminta bertemu dengan anda untuk terakhir kalinya," lapor Alvin


Azka hanya mengangkat sebelah alisnya. "Bukankah semua urusan sudah kau atur. Kenapa masih ingin bertemu denganku?."


"Sudah sebulan ini Alika tidak bisa bertemu dengan suaminya. Dia meminta saya--!."


"Suruh Pak Darius menemui ku. Aku akan berbicara melalui dia. Aku enggan bertemu dengan Alika lagi. Lagipula, Dani sudah sadar."


Alvin mengangguk, dia segera menghubungi Darius untuk menemui bosnya.


Pak Darius, ayah Dani merupakan salah satu manager cabang hotelnya. Lebih tepatnya hotel milik Azka yang berada di kota B.


"Saya sudah menghubungi Darius, bos. Dia sudah berangkat menuju kemari."


"Hm."


"Sudah waktunya makan siang. Apa anda ingin makan sesuatu?."


Azka hanya menggeleng membuat Alvin menghela nafas dalam. Dia pamit undur untuk makan siang. Bertepatan dengan Alvin yang keluar dari ruangan Azka, Saga datang bersama Redi.


"Kamu mau kemana, Vin?," tanya Saga


"Makan siang."


"Makan dengan kami saja, aku membeli makan siang untuk empat orang."


Alvin mengangguk dengan wajah berbinar. Mereka bertiga masuk kedalam ruangan Azka.


"Ruanganku bukan cafe, jadi silahkan makan diluar."


Saga tak mendengarkan, dia dan kedua teman kakaknya langsung duduk disofa. Tak ingin berdebat, Azka membiarkan mereka makan di ruangannya.


"Patah hati boleh, bro. Tapi badan diurus juga. Kalau kamu sakit, kamu nggak bisa nemuin Salsa," celetuk Redi. Tapi sayang, Azka masih fokus dengan pekerjaannya.


Mendengar kata Ayam, Azka segera bangkit dan duduk didepan mereka bertiga. Saga menyunggingkan senyumannya, idenya berhasil membuat Azka ikut makan.


"Bang, kamu harus banyak makan. Jangan sampai kalau Kak Salsa kembali, badan kamu jadi kurus dan tak terurus. Dia bisa berpaling jika kamu sudah tak menarik lagi."


Azka menghentikan makannya, "Kamu pasti tahu sesuatu."


Redi dan Alvin terdiam, kini Saga dan Azka saling tatap. "Katakan Ka, kamu pasti tahu sesuatu kan? Dimana Salsa berada?."


Saga menghela nafas, "Aku sungguh tidak tahu, Bang. Tapi terakhir kali bertemu dengannya. Kak Salsa janji akan pulang suatu hari nanti. Dia hanya sedang menghukummu atas kebohongan yang kamu lakukan. Dia hanya sedang melampiaskan kekecewaannya saja."


Harapan yang tadi sempat ada kini pupus kembali. Azka kembali meratapi nasibnya yang menyedihkan. Benar, tidak ada kebohongan yang membawa bahagia. Dan dia sudah membuktikannya sendiri.


"Kamu harus belajar sabar, Ka. Kesabaran pasti akan membuahkan kebahagiaan," timpal Redi


Azka tersenyum getir, sabar? Bisa saja dia sabar, tapi sampai kapan? Sudah sebulan dirinya belum juga menemukan keberadaan Salsa.


Nafsu makan Azka kembali hilang. Dia memilih duduk kembali kekursinya dan mengerjakan pekerjaan yang masih banyak.


Kasihan kamu, Bang. Andai saja kamu tidak ceroboh. Semua tidak akan seperti ini.


Tok Tok Tok


Azka dan yang lainnya mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu.


"Masuk."


"Selamat siang, Pak. Ada yang ingin bertemu dengan Anda."


"Siapa?," tanya Azka


"Namanya Alika."