
"Aku setuju dengan idemu. Aku yakin Salwa akan bahagia. Aku selalu menyayanginya walau dia bukan putri kandungku!."
Deg
Salwa membekap mulutnya dengan tangan. Dunianya terasa runtuh seketika. Air mata langsung membanjiri matanya. Jadi, dia hanya anak angkat. Dan Salsa adalah anak kandung orang tuanya. Bagaimana bisa takdir begitu kejam padanya sekarang. Masih belum cukupkah semua yang terjadi. Kenapa sekarang dia harus mengetahui kenyataan pahit lain dari hidupnya.
Dengan cepat gadis itu berlari meninggalkan kantor Danar.
"Loh, kok malah pulang. Ya sudahlah, minuman ini rejeki saya," ucap sekertaris Danar.
Salwa masuk kedalam mobilnya. Tangisannya pecah kala mengingat ucapan Papanya. Dia yang selalu dimanja, dia yang selalu dituruti apapun keinginannya dan dia yang begitu di sayangi oleh orang tuanya nyatanya hanyalah anak angkat. Dan semua yang selama ini Salwa rasakan akan kembali pada pemilik aslinya, Salsa.
"Aku membencimu, Salsa. Aku membencimu. Kenapa kamu harus datang dan merebut semua kebahagiaanku? Azka, impian pernikahanku dan sekarang kedua orang tuaku. Tidak, aku tidak akan diam saja. Aku akan membuat hidupmu menderita. Lihat saja, kau tidak akan bisa mengambil semua milikku!!."
Salwa melajukan mobilnya dengan kencang, dia bahkan menerobos lampu merah. Polisi yang sedang berjaga akhirnya mengejar Salwa. Memberikan peringatan agar wanita itu menepi. Namun Salwa tak mengindahkan, dia tetap mengemudi dengan kecepatan tinggi. Hingga tiba di perempatan jalan, sebuah mobil melaju dari arah berlawanan yang sama kencangnya. Tabrakan tak terhindarkan, mobil Salwa terpelanting setelah menabrak pembatas jalan.
Polisi langsung memeriksa keadaan korban. Melihat banyak darah dan korban yang tidak sadarkan diri, polisi langsung menghubungi ambulans. Salwa dan korban kecelakaan lainnya dibawa ke rumah sakit terdekat. Setelah mendapat penuangan dari dokter, polisi langsung menghubungi keluarga masing-masing korban.
Danar langsung menuju rumah sakit setelah mendapat telpon dari polisi yang mengatakan Salwa kecelakaan. Begitupun dengan Anya yang juga langsung menuju rumah sakit setelah suaminya memberi kabar.
"Mas, Salwa!," Anya menutup mulutnya menahan tangis.
"Salwa pasti baik-baik saja."
Mereka berjalan ke ruang gawat darurat, disana sudah ada polisi yang menjaga ruangan koran lakalantas tersebut.
"Selamat siang, Pak. Kami orang tua korban kecelakaan atas nama Salwa!."
"Putri Bapak masih dalam penanganan. Setelah dia sadar kami akan melakukan pemeriksaan terhadap korban!."
"Bukan, Pak. Sebenarnya putri Bapak sedang dalam pengejaran petugas lakalantas lantaran mengemudi dengan kecepatan tinggi serta melanggar lampu lalu lintas."
Anya semakin terisak, pasti pertemuannya dengan Salsa tadi yang membuat Salwa kecelakaan. Putrinya itu jelas kecewa dengan kenyataan yang ada. Jadi, dialah yang membuat putrinya kecelakaan.
"Semua ini salahku, Mas. Salwa kecelakaan karena aku!."
"Apa maksudmu, Anya?."
"Salwa mendatangi rumah Azka. Dia meminta Azka kembali padanya. Dan kami sempat berdebat disana. Salwa marah pada Salsa karena menganggap Salsa merebut semua kebahagiaannya. Dan ..."
"Dan apa?," tanya Danar penasaran.
"S-Salwa menghina Salsa, dia mengatakan jika Salsa adalah wanita murahan. Bahkan Salwa juga berkata jika Salsa adalah anak dari wanita penghibur. Aku sontak marah, dan aku mengatakan jika Salsa anak kandung kita."
Anya tergugu, Danar langsung memeluk istrinya. Semua bukan sepenuhnya kesalahan Anya, tapi juga Salwa yang keras kepala.
"Aku menyayangi Salwa meski dia bukan putri kandung kita. Aku tidak akan merubah apapun meski putri kita sudah ditemukan. Aku hanya ingin Salwa mengikhlaskan takdirnya. Karena aku tidak mau di tersakiti sendiri. Apa aku salah, Mas?."
Danar menatap ke atas, mencoba menahan air matanya yang akan turun, "Sebenarnya semua ini salahku, Nya!."
Anya melepas pelukan sang suami kemudian menatap Danar, "Maksudnya bagaimana, Mas?."
Danar menghela nafas dalam, "Ratih bilang, Salwa sempat ke kantor. Tapi tiba-tiba, Sawla pergi begitu saja. Aku takut dia mendengar ucapanku dan Galih."
Perasaan Anya mendadak gugup, "P-perkataan apa?."
"Saat aku mengatakan jika Salwa bukan putri kandungku!."