Night Destiny

Night Destiny
Tasyakuran 7 Bulanan



Tak terasa usia kehamilan Salsa sudah menginjak tujuh bulan. Suka duka menjadi calon ibu begitu dinikmati wanita cantik tersebut. Mual muntah yang biasa disebut morning sickness kadang kala menyambanginya, walau tidak terlalu parah. Mood swing juga seringkali membuat dirinya dan Azka beradu argumen yang tentunya berakhir dengan mengalahnya sang suami. Tidak hanya mood yang berubah sewaktu-waktu. Salsa juga semakin posesif dan sensitif. Tentu saja Azka harus menyetok kesabaran tiada batas. Namun semua bukanlah halangan, karena baik Azka maupun Salsa, keduanya menjalani semuanya dengan suka cita.


"Bun, aku pengen jalan - Jalan sebantar ya. Kalau dirumah terus, aku bosan."


Gita menatap menantunya sejenak, kemudian mengangguk. Pernah kehilangan calon cucunya membuat Gita sedikit protektif terhadap Salsa. Sejak usia kehamilan sang menantu memasuki tiga bulan, Gita sering menginap dirumah Azka hanya untuk memastikan Salsa tidak melakukan pekerjaan berat. Perempuan itu juga sering membawakan makanan sesukaan menantunya.


"Boleh, tapi sama Azka ya. Dan jangan terlalu jauh, nanti siang Bu Qomariah kan datang sama anak - anak panti."


Salsa tersenyum, "Tentu bun. Aku juga tidak lupa dengan acara besok. Tapi aku juga ingin menghirup udara segar sebentar. Kalau begitu, aku akan panggil Mas Azka dulu."


Salsa berjalan menuju kamarnya dan Azka. Bukan lagi dikamar atas, tapi dikamar bawah lebih tepatnya kamar yang ada didekat ruang tamu. Kenapa? Tentu saja karena dua ibunya yang sangat protektif menjaga kehamilannya. Bukan hanya Gita, Anya pun tidak kalah memberikan perhatian pada Salsa. Begitupun dengan Salwa. Ketiga wanita itu tak henti berceloteh dan memperingatkan Salsa agar tidak terlalu lelah.


"Mas, bangun. Aku ingin jalan - jalan sebentar."


Azka menggeliat, ucapan Salsa selalu seperti titah yang harus ia laksanakan. Pria itu mengucek matanya lalu tersenyum, "Selamat pagi anak Ayah. Tetap sehat ya sayang, Ayah sudah tidak sabar melihat kamu lahir." Azka mencium perut Salsa berkali - kali dan


Dug


Tendangan cukup keras dari jabang bayi memberi tanda bahwa ia menjawab sapaan Ayahnya. "Aku yakin dia akan menjadi pesepak bola. Tendangannya keras sekali."


Salsa hanya terkekeh, sejak masuk bulan ke lima, bayinya sudah mulai bergerak dan menendang walau belum terlalu aktif. Tapi menginjak tujuh bulan, tendangan calon bayinya sudah begitu terasa.


"Aku ke kamar mandi dulu ya, sayang. Tunggu sebentar." ucap Azka setelah mendaratkan kecupan di dahi sang istri.


Salsa mengangguk, betapa beruntung dirinya memiliki suami seperti Azka. Ditambah dua ibu juga Ayah dan Adik yang sangat menyayanginya. Ah, jangan lupakan Bunda Maria yang juga selalu menelpon dan bertanya kabar calon cucunya itu.


"Ayo!," ajak Azka. Pria itu sudah terlihat tampan dengan setelan baju santainya.


Salsa menggandeng lengan sang suami dan berjalan keluar rumah. Dirumah mereka sudah ramai karena besok akan ada acara tujuh bulanan kehamilan Salsa.


"Kalian mau pergi kemana?," tanya Anya yang baru datang.


"Mau cari udara segar sebentar, Ma. Aku bosan dirumah terus."


"Jangan lama-lama dan hati - hati."


Azka mengangguk, dia membawa istrinya jalan - jalan seperti keinginan Salsa. Walau hanya berkeliling komplek, tapi rasanya senang sekali. Udara yang masih sejuk membuat suasana terasa begitu nyaman.


"Sayang, kamu mau beli sesuatu?."


Salsa menggeleng, "Aku minta Bunda Maria membawakan masakan kesukaanku. Jadi nanti aku akan makan dirumah saja."


"Baiklah, sekarang kita duduk dulu ya. Kita sudah jalan lumayan jauh."


Salsa menurut, mereka duduk dikursi yang berada dibawah pohon cemara. Suasana sangat sejuk dan segar. Mereka berbincang dengan canda tawa, sesekali Azka mengajak bayinya berbicara.


Setelah cukup lama diluar, mereka memutuskan pulang. Rupanya Bunda Maria dan anak-anak panti sudah datang. Salsa yang melihat bundanya diteras langsung menghampiri perempuan itu.


"Bunda, Salsa kangen. Bunda sudah datang dari tadi?."


Maria tersenyum, "Barusan datang. Padahal Bunda baru dua minggu lalu kemari. Sudah kangen saja."


"Salsa kan sayang Bunda, jadi pasti kangen lah, Bun."


"Ah, iya. Aku sampai lupa. Ya sudah, ayo masuk. Kita makan bersama. Bunda tidak lupa dengan yang Salsa minta kan?."


"Tentu saja tidak, Nak. Semua sudah ada dimeja makan. Tadi Mama dan mertua kamu yang menyiapkannya."


"Asyik, ayo kita kedapur. Aku sudah sangat lapar."


Salsa menggandeng lengan Maria dan melupakan keberadaan Azka. Pria itu menghela nafas pendek, "Nasib. Harus sabar, Ka. Ingat, dia bulan lagi kamu akan bertemu little baby."


*


*


Halaman belakang rumah sudah disulap menjadi tempat pengajian yang mewah. Dekorasi serba putih ditambah bunga serba putih terlihat begitu mendominasi. Sesuai dengan jadwal, pagi ini akan digelar pengajian. Dan siangnya akan ada cara santunan untuk anak yatim piatu sekaligus makan bersama. Selain dari panti asuhan milik Maria, Azka dan Salsa juga mengundang beberapa panti asuhan lainnya. Dengan jumlah sekitar 800 anak yatim piatu, pengajian digelar mulai pukul delapan pagi.


Suasana begitu hikmat kala Azka melantunkan surah Ar-rahman juga surah Maryam. Selama ini, tidak ada yang tahu jika pria berstatus suami Salsa itu cukup religius. Rasa haru dan syukur menyelimuti acara tersebut, apalagi ketika semua keluarga memberikan doa terbaik untuk calon anak mereka. Salsa tak bisa menyembunyikan rasa harunya, wanita itu sampai menitikkan air mata bahagia.


"Semoga kamu selalu sehat dan dilancarkan persalinannya," ucap Anya


"Amin." Salsa memeluk Mamanya kemudian bergantian memeluk Papanya.


"Ka, kamu harus selalu siaga menjaga Salsa. Diusia kehamilan tua, ibu hamil kadang mengalami beberapa keluhan, seperti nyeri pinggang. Kaki bengkak bahkan kesulitan berjalan. Kamu sebagai suami harus peka."


"Tentu, Bun. Aku akan selalu menjaga istriku dengan baik."


Setelah memberi santunan kepada anak yatim, mereka makan siang bersama.


"Ma, Salwa kemana? Kenapa dia tidak datang ke acaraku. Padahal kemarin dia paling heboh," keluh Salsa.


"Katanya Salwa mendadak sakit, sayang. Tadi sudah mama telpon. Dan katanya, Seno yang akan datang kemari."


"Salwa sakit apa?," tanya Salsa sedikit khawatir.


"Sayang, mungkin Salwa hanya kecapean saja. Tunggu Seno datang, nanti kita tanya dia Salwa sakit apa," ucap Azka mencoba menenangkan istrinya.


Terlihat Seno masuk dari pintu belakang, dia berjalan menghampiri keluarganya yang kini sedang makan bersama.


"Salwa sakit apa Sen?," todong Salsa


Seno tersenyum kikuk, "Em, anu ... Sakit pusing."


Jawaban Seno membuat semuanya melihatnya heran, pria itu semakin salah tingkah. "Jangan bicara tidak jelas, Sen. Kenapa kamu gugup begitu kalau Salwa memang benar cuma pusing."


Seno mendesah pelan, lalu kembali tersenyum kikuk, "Sebenarnya, Salwa lagi ... Hamil."


"HAH!!."


*


*


Lah, Seno mau balapan sama Azka dan Salsa ya.... Hehehe