Night Destiny

Night Destiny
Terpaksa Menerima



"Saga, kamu datang?," sapa Salsa pada adik iparnya


Saga dengan santai berjalan ke arah meja makan. "Pas banget, aku belum makan malam. Basonya kelihatan sangat enak," celetuknya membuat Azka kesal.


"Ayo duduk, Ga. Kakak siapkan mangkok dulu."


"Kakak ipar memang yang terbaik," ucapnya sambil melirik Azka yang wajahnya terlihat kesal.


"Kamu selalu saja datang tanpa diundang. Merusak suasana saja!," gerutu Azka


Saga terkekeh geli, "Sekali-kali, bagilah kebahagiaanmu padaku, Bang!."


Azka kembali berdecak, tak lama Salsa kembali dengan membawa mangkok, "Kamu mau makan baso?," Saga mengangguk semangat.


"Ehmm, tolong utamakan suami daripada adik ipar!," seloroh Azka


Salsa tersenyum, dia mengambilkan suaminya makan lebih dulu. Kemudian baru adik iparnya. Mereka menikmati makan malamnya dengan lahap dan nikmat.


"Pasti ada yang ingin kamu sampaikan," tebak Azka ditengah makan mereka.


Saga mengangguk, "Ada. Tapi jangan dibahas pas makan. Bikin selera makanku jadi hilang!."


Lagi-lagi Azka berdecak, hilang bagaimana kalau Saga sudah menghabiskan tiga mangkok baso. Hilang ditelan perut?.


Mereka kembali melanjutkan makan malam dengan nikmat.


Seusai makan malam, Saga dan Azka duduk diruang tamu. Tak lama Salsa datang membawa brownies yang tadi sore dia buat.


"Pantas saja Abang gendutan. Kak Salsa jago masak. Baru makan malam enak, eh sekarang ada kue lagi!."


Plak


Azka mengeplak tangan adiknya yang akan mencomot brownies kesukaannya.


"Itu punyaku!," ucapnya ketus.


"Ish, ini kak Salsa suguhkan untukku. Ya kan kak?."


Salsa hanya mengangguk dengan senyuman tipsi, "Makan saja, didapur masih ada banyak. Oh ya, nanti bawakan untuk Ayah dan Bunda juga!."


Wajah Saga langsung berbinar. Tanpa memperdulikan tatapan Abangnya yang melotot tajam, dengan asyik Saga menyuap brownies kedalam mulutnya.


"Hue akak enyak," ucapnya disela kunyahannya.


"Aku jadi tidak berselara, lihat bagaimana cara dia makan. Membuat kesal saja."


Salsa terkekeh, "Biarkan saja. Lagipula, jarang-jarang Saga datang kemari."


Azka menghela nafas, benar juga. Kalau tidak ada yang penting, Saga pasti tidak akan kerumahnya.


Saga menatap kakaknya, lalu menyeruput teh yang kakak iparnya hidangkan. "Sebenarnya aku disuruh Ayah mengurus Mall Cabang kota S. Kemarin sempat terjadi kebakaran, beruntung petugas pemadam kebakaran segera datang, jadi yang rusak hanya 48%."


"Lalu?."


"Aku kan belum berpengalaman Bang. Aku masih belajar. Jadi, Ayah meminta Abang membantuku mengurus masalah itu. Lagipula, Abang pasti sudah ahli mengurus hal kecil seperti ini."


"Bukannya kamu sudah sering membantu Ayah? Kenapa masih minta bantuanku?."


Saga menatap Abangnya sedikit kesal, "Aku kan belum berpengalaman dengan masalah seperti ini, Bang. Lagipula apa susahnya Abang membantuku."


"Bantu saja, Mas. Saga tidak akan meminta bantuanmu kalau dia bisa mengatasinya sendiri," timpal Salsa


Azka menghela nafas, "Masalah ini akan melibatkan kepolisian juga. Paling cepat, kita akan berada dikota S selama dua hari."


"Lalu kenapa? Dua hari hanya sebentar!," sahut Saga.


"Tentu sebentar bagi jomblowan sepertimu. Tapi tidak sepertiku yang sudah punya istri!."


Saga mencebikkan bibirnya, "Bucin amat. Ajak kak Salsa sekalian tidak masalah!."


Salsa mengusap bahu suaminya, "Hanya dua hari kok. Demi usaha Ayah juga."


Azka menatap istrinya dengan lembut, "Baiklah, aku rela berpisah denganmu selama dua hari demi bisnis Ayah."


"Lebay syekaliii."


"Jomblo dilarang iri. Sudah, sana pulang!."


Saga semakin memberenggut kesal, "Susah bicara dengan orang bucin. Dasar mantan jomblo sejati. Untung saja kakak tidak jadi menikahi gadis manja itu. Kalau tidak, aku tidak yakin hidup kakak akan senyaman sekarang!."


Azka tak memperdulikan adiknya, dia malah sibuk memeluk istrinya dengan gemas. Daripada menjadi obat nyamuk, Saga akhirnya berpamitan pulang.


Kini tinggallah mereka berdua, Azka masih memeluk Salsa dengan manja. Dia sudah seperti anak kecil yang takut kehilangan ibunya.


"Aku berat meninggalkanmu."


Salsa tersenyum kecil, "Cuma dua hari. Sangat sebentar kok!."


Azka menatap sang istri kemudian mengecup bibirnya pelan. "Kita kan pengantin baru. Harusnya kita masih menikmati masa-masa berdua," gerutu Azka kesal.


"Sudahlah, kamu harus ikhlas. Lagipula kamu kesana untuk mengatasi masalah Ayah kan? Nanti kalau Saga sudah paham, dia pasti tidak akan meminta bantuanmu!."


"Kamu benar juga sih. Ya sudahlahl." jawab Azka tampak pasrah.


Salsa terkekeh pelan. "Itu baru suamiku. Hebat, penyayang dan bersahaja!"