Night Destiny

Night Destiny
Kehancuran Azka



"Kak Salsa sudah pergi!."


Deg


Azka menghentikan langkahnya. Dia menatap Saga yang terlihat begitu santai. "Apa maksudmu?."


Saga tersenyum sinis, "Kamu bukan orang bodoh yang tidak bisa memahami maksud perkataanku!."


Azka tetap menuruni tangga, bukan waktunya berdebat dengan Saga sekarang. Saat ini tujuannya adalah mencari keberadaan Salsa, istrinya.


"Percuma kamu mendatangi rumah Om Danar. Kamu pikir, dia mau mengatakan dimana keberadaan putrinya setelah putrinya disakiti, begitu?."


"Semua hanya salah paham. Aku yakin mereka akan mengerti!."


Saga tertawa, dia sungguh kesal dengan sikap Abangnya. "Itu menurutmu. Tapi tidak dengan mereka."


"Jangan memperkeruh suasana. Aku yakin Salsa akan percaya padaku!."


"Semua sudah terlambat. Kak Salsa sudah lebih dulu pergi dengan perasaan kecewanya."


"Itu tidak mungkin!," Azka sedikit berlari menuju keluar, namun Saga lebih dulu mencekal tangan Abangnya.


"Abang selalu meminta kejujuran padanya. Tapi apa yang Abang lakukan?. Masalah sebesar itu dan Abang menutupinya dari kak Salsa. Wajar kalau dia marah dan kecewa, apalagi yang Abang sembunyikan adalah seorang wanita! Aku sungguh heran dengan jalan pikiran Abang," ucap Saga dengan kesal," Sekarang Abang baru akan mengatakan semuanya? Terlambat Bang, terlambat. Kak Salsa sudah lebih dulu mengetahui hal ini."


Deg


Jantung Azka berdetak dengan cepat. Tidak terbayang jika keputusannya menyembunyikan hal ini akan membawa rumah tangganya dalam kehancuran.


"Bertanggung jawab bukan harus Abang sendiri yang turun tangan. Itulah akibatnya jika Abang sok jadi pahlawan kesiangan. Rumah tangga Abang yang dipertaruhkan!."


"Arggkkk!!."


Azka berlari menuju mobilnya. Dia mengemudi kerumah sang mertua. Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, yang penting Azka harus tahu dimana keberadaan istrinya.


Namun sayang, Danar dan Anya tak bersedia menemuinya bahkan meski Azka menerobos masuk kedalam rumah. Yang ada justru satpam mengusirnya keluar.


"Pa, Ma. Katakan dimana istriku berada?!."


Didalam rumah, Anya mencoba membujuk suaminya. Dia merasa kasihan melihat Azka. "Mas, apa tidak sebaiknya kita temui Azka."


Danar menatap istrinya tajam, "Tidak perlu. Biarkan dia pergi. Pecundang tidak berguna itu pantas menerima semua ini!."


Danar mengacuhkan teriakan menantunya. Tidak peduli Akza memaksa masuk, Danar tetap pada pendiriannya. Dan besok, dia akan mengunjungi besannya untuk membahas masalah ini.


Azka harus menelan kekecewaan karena tidak mendapat jawaban dimana keberadaan istrinya. Jangankan mendapat jawaban, mertuanya bahkan tak mau menunjukkan batang hidungnya.


Tidak patah semangat, Azka menghubungi orang suruhannya untuk melacak keberadaan Salsa. Namun sama saja, semua hasilnya nihil. Danar tentu sudah menutup semua akses keberadaan istrinya.


"Kemana aku harus mencarimu, sayang. Jangan pergi, kamu hanya salah paham!."


Azka tak mampu menahan air matanya, keputusan bodohnya benar-benar membuatnya hancur.


Sedangkan kini Salsa sedang berada didalam pesawat. Dia akan menuju kota Jember, sebuah kota yang berada di provinsi Jawa Timur. Bukan tanpa alasan dia memilih kota itu. Selain Azka yang tidak mungkin menemukannya, ada teman Anya yang tinggal disana. Dan Anya sudah menghubungi temannya untuk menitipkan Salsa.


Bunda harap kamu sehat sayang. Tumbuh besar sampai kamu dilahirkan nanti. Bunda sayang kamu.


Jujur, berat memilih keputusan untuk pergi. Namun mungkin, inilah yang terbaik untuk semuanya. Salsa sudah terlanjur kecewa pada Azka. Walau tidak dipungkiri, rasa cinta dan sayangnya pada Azka masih begitu besar. Namun ego lebih menguasai hatinya. Dan inilah keputusan yang Salsa pilih, meninggalkan Azka.