
"Seno, kalau boleh tahu. Bagaimana kamu bisa bermalam dengan putriku?."
Glek
Seno menelan salivanya kasar, dia memandang Azka yang hanya mengedikkan bahu.
"Em ... Anu Om. Em ... Itu."
"Jelaskan saja, Mas. Bukankah kejadian malam itu sudah membuahkan hasil. Masih untung kamu tidak dicincang Om Danar!," celetuk Saga yang entah datang dari mana.
Seno menatap Saga dengan kesal, bagaimana mungkin ia bisa menceritakan kejadian malam itu, kalau malam itu sendiri adalah malam penuh drama selama hidupnya.
Saga mengambil posisi duduk disamping Azka. Dia tersenyum jahil seolah meledek pria yang sudah seperti abangnya sendiri itu.
"Om, kalau Om tahu kejadian yang sebenarnya, aku yakin Om akan menggorok leher pria ini. Bagaimanapun dia tetap salah, walau mereka berdua sama - sama menikmatinya!."
Seno mendelik, kurang ajar sekali Saga pikirnya. Saga mendadak gugup, dia seperti terdakwa yang sedang dihakimi.
"Bagaimanapun perbuatan kalian tidak bisa dibenarkan. Sama seperti yang Azka lalukan dulu. Kamu dan Salwa tetap bersalah. Kedepannya, kamu harus bisa belajar dari pengalaman hidup sebelumnya. Ambil hikmah dari kejadian ini dan jadilah pribadi yang lebih baik lagi!," ucap Dirga.
Seno semakin pias, "S-saya tahu saya salah, Om. Maka dari itu saya akan mempertanggung jawabkan semuanya."
"Bagus itu. Sebagai pria sejati, kamu memang harus bertanggung jawab," sahut Gita.
"Sebenarnya Om ingin marah padamu. Lebih tepatnya, Om kecewa dengan perbuatan kalian. Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Kita tidak bisa memutar waktu. Yang harus kita lakukan adalah terus melangkah kedepan. Om harap dengan adanya kejadian ini, kamu bisa belajar dari kesalahan yang sudah kamu lakukan dan terus memperbaiki diri agar tidak mengulang kesalahan yang sama."
"Saya sungguh minta maaf, Om, Tante. Saya sebenarnya tidak bermaksud melakukan hal itu. Tapi malam itu, ....!" Seno nampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Sudahlah, terlepas apapun kesalahan kalian. Semua yang terjadi tidak akan kembali seperti semula. Tante hanya berpesan, tolong kamu selalu sabar menghadapi sikap istrimu nanti, dia sangat keras kepala bahkan terkesan angkuh. Tapi kalau kamu bisa meraih hatinya, tente yakin dia akan menjadi istri yang baik," ucap Anya sambil menatap calon menantunya.
Suasana terasa hening, mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sesekali terdengar suara Salwa yang berteriak sambil menggedor pintu.
Azka melirik istrinya yang hanya diam. Dengan pelan pria itu memegang tangan Salsa membuat wanita itu menoleh ke arahnya. "Aku tidak akan pernah mengingkari janjiku. Seperti yang aku bilang, aku hanya butuh kepercayaanmu."
Salsa tersenyum tipis, "Aku selalu mempercayaimu. Jadi jangan sampai mengkhianati kepercayaanku."
Tak lama seorang ustadz datang. Setelah mengutarakan niatnya. Danar menjabat tangan Seno. Pernikahan pun terjadi, dan sekarang Salwa dan Seno sudah resmi menjadi suami istri secara agama. Seno dengan lantang mengucap akad dengan sekali tarikan nafas.
Setelah akad digelar, ustadz membacakan doa dan memberikan sedikit wejangan pada Seno.
Acara pun berlalu, mereka masih berada di ruang tamu. Terlihat lega raut wajah Danar dan Anya, begitupun dengan Salsa, Azka dan Seno.
"Aku titipkan putriku padamu. Sekarang dia menjadi tanggung jawabmu. Papa berharap dia akan menerimamu dan menyadari ketulusanmu. Memang tidak mudah, tapi Papa yakin kamu akan berhasil merubah Salwa menjadi wanita yang lebih baik lagi."
"Aku janji akan berusaha sekuat tenaga, Pa. Dan aku berjanji akan bertanggung jawab terhadap Salwa dan anak kami. Papa jangan khawatir dan doakan rumah tangga kami langgeng sampai maut memisahkan."
Danar tersenyum, "Aku percaya padamu."
Dirga dan Gita ikut tersenyum, setidaknya rumah tangga Azka akan baik-baik saja kedepannya.
"Papa serahkan Salwa padamu."
"Tentu, Pa."
Dirga dan Gita mengantar besannya sampai ke teras. Sedangkan diruang tengah, masih ada Azka, Salsa, Saga dan Seno.
"Mas, tugasmu pastilah berat. Tapi jangan patah semangat. Aku yakin kamu bisa menaklukkan hati wanita keras kepala itu!," celetuk Saga.
"Benar Sen. Semangat, aku yakin kamu tidak akan kalah pada Salwa. Dan pada akhirnya, dia akan takluk padamu."
Dirga dan Gita baru datang dari depan, kini mereka bergabung diruang tamu.
"Kamu akan langsung membawa Salwa kerumahmu?," tanya Ayah dari Azka tersebut.
Seno mengangguk, "Salwa sekarang tanggung jawabku. Dan tugasmu untuk menjaganya baru saja dimulai."
"Tante yakin kamu akan berhasil. Semangat Sen, memang butuh perjuangan untuk mencapai kebahagiaan."
"Terima kasih, Tante. Aku akan berjuang sekuat tenaga." Seni tersenyum tipis, "Kalau begitu aku akan melihat Salwa dulu."
Azka dan Salsa menemani Seno menuju kamar tamu. Setelah membuka kunci, mereka masuk kedalam kamar. Terlihat Salwa tertidur ditepi ranjang. Wanita itu tertidur, mungkin dia kelelahan karena terus berteriak dan menggedor pintu.
Seno tersenyum, "Aku langsung akan membawanya pulang." Seno menggendong istrinya. Bahkan ketika berjalan Salwa masih terlelap. Dia pasti sangat kelelahan.
"Loh, dia tidur?," tanya Gita
"Iya tante, mungkin kelelahan berteriak."
"Ya sudah, kamu hati - hati dijalan."
Azka mengantar Seno sampai dimobil. Dia membukakan pintu agar Seno dengan mudah memasukkan Salwa kedalam mobil.
"Hati - hati dijalan Sen. Kalau ada apa-apa jangan sungkan mengabari ku."
"Tentu, Ka. Terima kasih atas bantuanmu selama ini. Aku pastikan, Salwa tidak akan mengganggu rumah tanggamu lagi."
"Thanks Bro."
Azka segera kembali kedalam, dan dia melihat orang tuanya juga Saga tengah bersiap pulang.
"Kalian tidak menginap disini saja?," tanyanya
"Kami ingin istirahat, Bang. Cukup lelah juga dengan drama yang terjadi tadi."
"Baiklah, hati - hati dijalan."
Saga tersenyum pada Abangnya, sebelum benar-benar memasuki mobil, pria itu berbisik. "Hati-hati, Bang. Aku yakin Kak Salsa akan meminta penjelasanmu. Selamat berpuasa!."
"Sialan!," ucap Azka sambil menonjok lengan adiknya, namun Saga lebih dulu menghindar.
"Kalian selalu saja ribut kalau bersama," kata Salsa
"Kak Salsa, mintalah penjelasan padanya. Dan berikan pria ini hukuman!," teriak Saga sambil berlari.
Azka terlihat begitu kesal pada adiknya, dia tidak sadar jika Salsa menatapnya dengan tajam. "Jadi ... Ada yang kamu sembunyikan dari ceritamu tadi, Mas?."