Night Destiny

Night Destiny
Kecurigaan Yang Mulai Terbukti



"Dia cantik, bahkan banyak orang yang memilihnya untuk dijadikan hadiah ataupun saat mengungkapkan perasaan mereka. Tapi tanpa mereka sadari, duri mawar bisa melukai sang pemilik jika dia tidak berhati-hati."


Deg


Azka terperanjat, dia cukup terkejut dengan ucapan Salsa. Namun sebisa mungkin dia menetralkan raut wajah terkejutnya.


"Akupun sama, Mas. Aku bisa saja melukaimu jika kamu menodai sumpah janji pernikahan kita."


"Tentu, lukai aku sebanyak yang kamu mau jika aku menodai janji pernikahan kita. Aku siap dengan hukuman apapun yang kamu berikan. Tapi aku pastikan, semua itu tidak akan pernah terjadi."


Azka menyandarkan kepalanya dibahu sang istri. Dan Salsa paham betul apa yang diinginkan suaminya.


"Aku pegang janjimu, Mas. Akan kuberikan hukuman paling menyakitkan jika terbukti kamu menyalahgunakan kepercayaan yang aku berikan."


Azka acuh, dia terlalu sibuk dengan rasa yang ingin dia wujudkan. Salsa pun tak bisa menolak, pesona Azka selalu mampu membuatnya lemah dan tidak berdaya.


Akhirnya mereka menghabiskan malam panjang yang indah. Memadu dikasih ditengah gelapnya malam yang menjadi saksi cinta mereka.


*


*


*


Salsa membuka mata. Kesadarannya perlahan kembali dan akhirnya dia benar-benar bangun dari tidurnya. Namun kamarnya kosong, tidak ada jejak Azka disana. Kemana suaminya itu pergi? Apa Azka sudah berangkat ke kantor? Tapi sekarang masih jam tujuh pagi. Biasanya Azka suka menghabiskan waktu dengannya apalagi sekarang hari sabtu.


Matanya tak sengaja menangkap secarik kertas tepat diatas bunga mawar yang suaminya berikan tadi malam. Masih dengan gaun malamnya, tangan putih Salsa meraih kertas tersebut lalu membacanya.


Sayang, maaf aku pergi sebelum kamu bangun. Tidurmu sangat lelap jadi aku tidak tega untuk membangunkanmu. Aku janji tidak akan pulang terlambat lagi. Istirahatlah yang banyak, aku mencintaimu.


Salsa mendesah lelah, bangun dengan mood yang kurang baik membuatnya malas menjalani harinya.


Memasuki kamar mandi, wanita itu mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Menetralkan pikirannya yang sedikit kacau. Dia menatap tampilannya didepan cermin. Wajahnya masih sama seperti pertama kali bertemu dengan Azka. Tubuhnya pun demikian. Tidak ada yang berubah dengan dirinya. Tapi kenapa Azka sekarang berubah. Dia lebih mementingkan pekerjaan atau mungkin, ada wanita lain diluar sana.


Tidak mau terbawa dengan pikiran buruknya, Salsa menyudahi mandinya. Dia berencana mengunjungi Panti untuk mencari ketenangan. Bertemu dengan Bunda dan anak-anak, rasanya bisa mengobati hatinya yang perlahan mulai curiga pada sang suami.


Setelah memakai pakaian yang pas, Salsa segera keluar kamar. Tak lupa dia membawa tas, dompet dan juga ponselnya.


Menempuh jarak yang lumayan jauh, lagi - lagi pikiran Salsa dipenuhi curiga. Apa sebaiknya dia menanyakan keberadaan Azka pada Alvin atau Redi. Salsa menghentikan mobilnya ditepi jalan. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Alvin. Asisten suaminya itu pasti bersama Azka jika mereka memang lembur hari ini.


Setelah panggilan kedua, akhirnya Alvin mengangkat teleponnya.


[Suaramu seperti orang yang baru bangun tidur. Kamu tidur dijam kerja?]


Alvin tidak menyahut, [Hallo Vin, kamu masih mendengarku?]


[Tentu saja bu, Bos. Maaf nyawaku belum terkumpul, aku masih ngantuk]


[Tidak masalah. Tumben sekali Mas Azka mengizinkanmu tidur dijam kerja?]


[Aku tidur dirumah dan yang jelas dihari libur. Bu Bos ini ada - ada saja pertanyaannya, mana mungkin aku tidur dijam kerja. Bisa - bisa aku dipecat Bos Azka]


Salsa terpaku, [K-kamu ada dirumah?]


[Benar, kalau kalian mau kerumah, maaf, agak sorean saja. Saya benar-benar lelah dan butuh istirahat. Beberapa hari ini Bos Azka selalu menyuruh saya menggantikan tugasnya?], tanya Alvin tanpa sadar.


Alvin menggantikan pekerjaan Mas Azka beberapa hari ini. Itu artinya, Mas Azka beberapa hari ini tidak bekerja. Kemana dia? Semalampun dia pulang terlambat dengan alasan lembur. Apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang kamu sembunyikan, Mas?


[Hallo Bu Bos?]


[Ah ya. Em ... Apa Kamu tahu dimana Mas Azka sekarang?]


Hening, mungkin Alvin kembali terlelap,


[Vin?]


[Em, maaf. Bos mungkin di kota B, karena hampir setiap hari dia kesana]


Jantung Salsa berdetak cepat, di kota B? Menemui siapa?


[Kamu tahu apa yang Mas Azka lakukan disana?], Salsa berusaha menanyakan hal yang belum tentu akan Alvin jawab. Namun dengan keadaan Alvin yang belum sepenuhnya sadar, mungkin saja dia mendapatkan titik terang.


[Menemui Alika]


Deg


*


*


Benar nggak sih Akza mendua?