Night Destiny

Night Destiny
Curhat Bersama



"Biar aku yang menguasai permainan," bisik Salsa.


Azka tercengang, dia menatap wajah cantik Salsa yang sudah berkabut. Tanpa suara, pria itu merebahkan diri disamping Salsa seolah pasrah dengan apa yang akan Salsa lakukan padanya.


Pelan, lembut dan hangat. Begitulah sentuhan yang Azka rasakan dari belaian tangan Salsa. Lama tidak bertemu, banyak sekali perubahan yang terjadi pada Salsa. Istrinya semakin berisi dan cantik. Apalagi dia semakin terlihat seksi dan agresif. Siapa yang tidak suka, coba? Tentu saja Azka sangat menikmatinya.


Azka memekin nikmat saat Salsa memberikan servis lolipop kesukaannya. Azka dibuat tebang melayang bahkan rasanya sungguh membuatnya gila.


"K-kamu sangat liar, sayang. Tapi aku justru menyukainya."


Salsa tersenyum, mendengar pujian dari Azka membuatnya semakin bersemangat. Malam ini, dialah ratu dalam permainan panas mereka.


*


*


Azka kembali mencium Salsa dengan lembut. Setelah permainan panas mereka setengah jam lalu. Kini keduanya kembali berpelukan setelah membersihkan diri. Azka masih setia dengan tangan yang memeluk pinggang istrinya. Sesekali tangannya juga mengelus lembut perut Salsa dimana sedang tumbuh bayi mereka disana.


"Sayang, kamu tahu? Aku sempat menyusulmu ke Jember. Sayangnya, kamu rupanya sudah pulang."


"Benarkah?," tanya Salsa sambil menatap suaminya.


"Hm. Aku sempat masuk rumah sakit dua hari. Mungkin karena kasihan dengan kondisiku, akhirnya Saga menceritakan dimana kamu berada."


Salsa kembali menatap suaminya sendu, "Kamu masuk rumah sakit?."


Melihat wajah bersalah sang istri, Azka mencoba menghiburnya. "Bukan salahmu. Aku yang kurang menjaga diri. Pekerjaan dihotel juga tak kalah banyak."


Salsa bergeming, dia memainkan tangganya didada Azka. Dan Azka tahu, Salsa sedang menahan tangis. Pria itu segera menarik dagu istrinya, membuat Salsa kini menatap ke arahnya. Benar, matanya sudah berkaca-kaca.


"Dengarkan aku. Semua yang terjadi padaku kemarin, bukan salahmu. Wajar kamu marah. Karena aku sudah mengkhianati kepercayaanmu. Aku mengingkari janji kita. Dan aku pantas mendapatkan hukuman, bukan."


Pecah, akhirnya ibu hamil itu menangis didada sang suami. Sensitif, itu pula sikap Salsa yang Azka sadari. Dia pernah mendengar, ibu hamil itu mood swing, gampang marah dan sensitif juga. Dan dia memahami itu.


"Jangan menangis. Kalau kamu sedih, anak kita ikut sedih. Kamu tidak mau dia sedih kan?."


Salsa mengangguk, Azka mengusap air mata yang mengalir dipipi cantik itu. "Jadikan semuanya pelajaran. Mengambil keputusan tergesa itu tidak baik. Dan aku juga akan belajar dari kesalahanku, jika jujur adalah kunci utama dalam sebuah hubungan."


Salsa kembali mengangguk, "M-maaf. Kamu pasti menderita karena aku tinggalkan. Padahal rencananya aku akan pulang kalau anak kita lahir."


Melongo, Azka tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Kamu tidak serius dengan apa yang kamu katakan barusan kan, sayang?."


Salsa menatap wajah Azka, "serius. Bahkan aku sempat berfikir untuk kembali setelah lima tahun. Tapi ya begitu, aku akhirnya sadar setelah bu Karmila memberiku wejangan. Aku juga kepikiran sama kamu. Terbukti kan, kamu ajdi kurus kering tak terurus begini."


Fix, bolehkah Azka kesal sekarang? Rasanya ia ingin teriak gemas. Beginikah rasanya menghadapi wanita hamil, gemas - gemas sayang.


" Tapi buktinya kamu pulang, sekarang!."


" Ya mau bagaimana. Aku sudah merindukanmu, Mas."


Azka tersenyum senang,


"Tapi kalau ingat pas kamu bohongin aku. Rasanya aku pengen bejek - bejek kamu deh. Bisa - bisanya kamu bohong dan menyembunyikan semuanya dari aku. Padahal, kalau kamu jujur. Aku nggak keberatan bantuin kedelai hitam itu," ucap Salsa dengan menggebu.


"Kedelai hitam?."


Ok sabar. Hadapi semua dengan senyuman. Bathin Azka.


"Alika, sayang. Bukan Malika," koreksi Azka.


"Yang ngomong Malika siapa?."


"Kamu," jawab Azka gemas.


"Mulutnya siapa?."


"Ya kamulah, sayang."


"Kalau aku yang ngomong, mulut aku yang berucap. Artinya suka-suka akulah!."


Azka menghela nafas pelan, dia tersenyum dengan gigi lebar seolah tidak menahan kesal. Dibalik kesenangannya karena Salsa makin agresif, rupanya Salsa juga menyebalkan.


"Kamu tidak sedang mengumpatiku dalam hati, kan Mas?."


Azka terperangah, "T-tentu saja tidak, sayang."


"Bagus deh. Jangan sampai kamu mengumpat karena kesal sama aku."


"Kamu nggak bikin kesel, kok. Kamu malah semakin menggemaskan."


"Beneran?."


"Tentu saja."


"Duh, makin sayang deh sama kamu. Suami siapa sih ini, tampan banget deh."


Azka terkekeh, bumil memang suka berubah ubah.


"Kamu sayang sama aku, kan Mas?."


Azka menatap Salsa lekat, "Tentu saja, kenapa bertanya?."


"Kalau sayang, berarti mau ngelakuin apa saja buat aku kan?."


"Pasti sayang. Kamu suruh mendaki gunung lewati lembah juga akan aku lakukan."


"Ish, kayak lagunya kartun dong."


"Heheh, emang kamu mau aku ngelakuin apa sih?."


"Aku ...."


"Pengen apa?."


"Kamu tahu pohon mangga yang ada dibelakang rumah Ayah kan?."


"Tahu. Kenapa?."


"Aku pengen makan rujak mangga. Dan aku mau mangganya kamu yang petik." glek, Azka menelan ludahnya kasar. Memanjat, seumur - umur dia tidak pernah memanjat. "Dan aku pengen mangga yang buahnya tumbuh paling atas!."