
Sore harinya, Azka dan Saga mendatangi Mall milik Dirga yang kemarin terbakar. Mereka juga sempat berbincang dengan polisi terkait kasus kebakaran tersebut. Kerusakan terjadi sampai 48%, dan beruntung tidak ada korban jiwa. Beberapa pegawai hanya mengalami luka ringan dan sudah ditangani dokter. Kebakaran terjadi karena hubunga arus pendek listrik dan semua murni kecelakaan kerja, bukan karena sabotase.
Masalah sudah terselesaikan dan kini Azka juga Saga sudah kembali ke hotel.
"Bang, kamu mau pulang sekarang?."
"Iya, aku sudah memesan tiket penerbangan. Seharusnya kasus ini tidak perlu sampai melibatkan kehadiranku. Polisi sudah mengurusnya. Lain kali, kamu cek dulu, jangan sampai membuang-buang waktu untuk masalah kurang penting seperti ini. Kamu kan punya orang kepercayaan, fungsikan perannya sebaik mungkin. Kalau masih bisa dihandle olehnya, kita tidak perlu turun tangan langsung!."
Saga mencebik kesal, "Ya aku mana tahu, Bang. Aku kan masih belajar. Lagipula, Ayah langsung yang menyuruhku kemari dan mengajakmu. Jadi kalau mau marah, marah pada Ayah sana!."
Azka tak menghiraukan, dia sibuk dengan ponselnya. "Kemana dia, kenapa telponku tidak diangkat!," gerutu Azka.
"Bang, sekarang jam setengah lima. Siapa tahu kakak ipar sedang mandi atau mempersiapkan makam malam. Lagian Abang sudah menelponnya setengah jam lalu!."
Saga benar-benar geleng-geleng kepala dengan tingkah Azka. Selain bucin, Abangnya juga over sekali.
"Bang, jam delapan nanti ada makan malam dengan tuan Adam. Apa masih keburu dengan penerbangan Abang?."
Azka melirik adiknya sekilas, "Masih. Kamu tidak mau pulang bersama denganku sekalian?."
"Tidak, aku besok saja. Ada hal yang harus ku urus terlebih dahulu."
Setelah tidak berhasil menghubungi istrinya, Azka memilih memejamkan mata sejenak.
"Bang, kalau sedang bersamaku, jangan berkhayal tentang kakak ipar. Abang membuatku ngeri saja!."
"Kenapa?," tanya Azka seraya membuka mata.
"Punya Abang tegang!."
Sial, Azka tidak bermaksud membayangkan malam panas dengan istrinya. Hanya mengingat tubuh Salsa saja membuatnya tegang.
Kamu harus bertanggung jawab nanti karena membuatku tegang sayang. Bathin Azka
Pria itu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tentunya menuntaskan permainan solonya juga.
"Apa semua orang seperti Abang kalau sudah menikah. Membayangkan saja Abang sudah tegang. Bagaimana kalau ada kak Salsa. Bisa-bisa aku nonton blue film secara live!," ucap Saga sambil terkekeh. "Aku lupa menghubungi dia." Saga mengambil ponsel sakunya, kemudian menghubungi seseorang.
Azka sudah segar dengan rambutnya yang masih setengah basah. Saga yang melihat itu langsung menggoda Abangnya. "Bang, solo kariernya lancar?."
Brug
Handuk basah milik Azka langsung mendarat dikepala Saga.
"Jorok sekali, taruh digantungan kan bisa?," gerutu Saga kesal.
"Pikiranmu yang jorok. Anak bau kencur sudah bertanya hal dewasa!."
Saga memberenggut kesal, "Aku sudah dewasa, Azka Ibrahim yang terhormat. Bahkan membuat sebelas bayi pun aku bisa!."
Azka tersenyum remeh, "Alah, omdo! Pacar saja tidak punya!."
"Tidak punya pacar, bukan berarti tidak punya pengalaman. Aku bahkan lebih pintar daripada dirimu!."
"Oh ya? Disebelah mana titik sensitif seorang wanita?."
Pertanyaan Azka membuat Saga terdiam, Abangnya itu semakin tersenyum remeh. "Pengalaman itu penting, Bung. Kalau hanya teori tanpa praktik, itu nol besar!."
Saga hanya mampu mendengus kesal, dia memang kalah kalau berbicara soal pengalaman. Pengalaman itu kan ilmu alam, kejadian yang sudah pernah dialami. Jelas Akza lebih berpengalaman.
"Baiklah, aku mengaku kalah."
Azka tersenyum, dia kembali meraih ponselnya untuk menghubungi Salsa.
"Bang, tuan Adam ingin bertemu di klub Night Flower, beliau sudah mem-booking ruang VVIP"
Azka masih fokus dengan ponselnya tanpa menghiraukan Saga.
Azka terlihat asyik dengan obrolannya bersama Salsa.
"Bang, sudah setengah depalan."
"Ya sudah. Kita berangkat sekarang!."
Kedua pria tampan itu langsung menuju club yang sudah dipesan rekan bisnis Dirga. Perjalanan yang ditempuh hanya sekitar 40 menit. Setibanya disana, mereka langsung di antarkan menuju ruangan VVIP yang sudah dipesan tuan Adam. Suasana didalam tampak gelap, hanya lampu kelap kelip yang terlihat menyinari para pengunjung klub.
"Wah, kalian sudah datang rupanya. Ayo, silahkan duduk!."
"Aku yang senang bisa bertemu dengan kalian. Bagaimana kabar tuan Dirga?."
"Ayah baik."
"Hm, senang sekali sudah pensiun. Andai aku memiliki putra, aku sudah pasti pensiun juga."
"Anak anda perempuan?."
"Aku tidak punya anak!," sahut Adam santai.
"Oh, maafkan saya tuan. Saya tidak bermaksud--!."
"Tidak apa, Bung. Aku tidak menikah lagi sejak istriku meninggal. Jadi, aku sampai sekarang masih sendiri."
Azka dan Saga hanya manggut - manggut. Mereka mengobrol santai masalah pekerjaan.
Diluar ruangan, seorang perempuan tengah menyiapkan minuman yang sudah dia campur dengan obat perangsang.
"Ingat, jangan sampai salah dan pastikan dia meminumnya. Berikan minuman ini pada pria berjas merah yang ada didalam ruangan ini."
"Baik nona."
Gadis itu tersenyum senang, tidak sia-sia usahanya mengikuti Azka ke kota ini. Jika dia tidak bisa mendapatkan Azka secara langsung. Maka cara haluspun akan dia lakukan.
Didalam ruangan, pelayan tadi memberikan minuman tersebut pada Adam, Azka dan Saga. Ketiganya langsung meminum minuman tersebut dengan sekali tenggak. Pelayan itu tersenyum senang karena tugasnya berjalan dengan lancar. Dengan senyum diwajahnya dia keluar dari ruangan tersebut.
"Bagaimana?."
"Sudah nona, bahkan tuan itu sudah meminumnya!."
"Bagus, ini untukmu!."
Setelah memberikan sejumlah uang pada pelayan itu, Salwa meminum minumannya, rasa pahit menyambangi tenggorokannya.
Kamu akan segera menjadi milikku, Azka Ibrahim.
"Kenapa kepalaku pusing? Sial ... Kalau begitu rencanaku bisa berantakan."
Kepala Salwa terasa berkunang - kunang, pandangannya mulai buram. Gadis itu melihat Azka keluar dari ruangan.
"Itu Azka, aku harus menemuinya!."
Dengan langkah terseok-seok, Salwa berjalan ke arah Azka.
"Ka!."
"Salwa!."
Salwa meraih lengan Azka, menatap pria itu dengan lamat lalu menariknya memasuki kamar yang sudah dia pesan.
"Ka, aku kangen kamu. Akhirnya kita bisa bersama lagi!."
"Sal, apa yang kamu lakukan?."
"Aku sudah lama menantikan hal ini. Aku tahu kamu masih mencintaiku, begitupun aku yang sangat mencintaimu!."
"Apa yang kamu katakan?."
"Ssttt, jangan berisik. Aku tidak mau kamu banyak bicara. Ayo kita tidur bersama?."
"Maksud kamu apa?."
"Jangan berlagak polos, kamu bukan anak kecil yang tidak paham dengan apa yang aku katakan."
Salwa membuka bajunya, lalu menyerang pria didepannya. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia membalas serangan Salwa dengan tak kalah liar. "Kamu yakin akan melakukan ini denganku?," tanya pria itu.
"Lakukan, aku rela kehilangan kehormatanku kalau itu denganmu!."
"Baiklah, tapi jangan pernah menyesal karena kamu sendiri yang memberikannya!."
*
*
😱 Benarkah itu Akza.