
"Kamu tahu dia siapa?!! Dia itu istriku. Berani sekali kamu mengusirnya. Sekarang juga kamu dipecat!!."
Resepsionis tersebut mengangkat kepalanya dengan wajah pucat pasi.
"M-maafkan saya, Pak. Saya tidak tahu kalau dia Istri bapak. Tolong jangan pecat saya. Saya punya dua anak yang harus saya biayai!."
Salsa merasa iba, dia mencoba membujuk suaminya. "Mas, dia tidak tahu kalau aku istrimu. Jangan pecat dia ya. Kasihan anaknya!."
"Tapi tindakannya tidak bisa ditolerir, sayang. Dia sudah bersikap tidak sopan padamu!."
"Aku juga salah karena tidak mengatakan jika aku istrimu! Dia tidak sepenuhnya salah."
Resepsionis tersebut menatap Salsa tidak percaya. Bahkan setelah dia menghinanya, istri bosnya itu masih membelanya.
"Maafkan saya nona, saya benar-benar tidak tahu kalau anda istri tuan Azka. Tolong maafkan saya."
Salsa menoleh pada suaminya yang masih diam dengan wajah sangarnya, "Mas, maafkan dia ya. Kasihan anaknya. Kalau kamu memaafkannya. Aku akan memberimu yang seperti tadi pagi!," bisik Salsa.
Wajah Azka langsung berubah sumringah, pria itu kemudian berdehem. "Hm, saya akan memberikan kamu kesempatan sekali lagi. Jangan pernah ulangi kesalahanmu! Bersikaplah baik pada semua tamu!! Kamu mengerti??."
"Mengerti tuan. Terima kasih atas kesempatan yang anda berikan!."
"Kalau bukan karena istri saya. Kamu sudah saya pecah dan saya pastikan tidak ada satu kantorpun yang akan menerima kamu. Minta maaf pada istri saya sekarang!!."
Resepsionis tersebut langsung bersujud di kaki Salsa. "Saya minta maaf nona. Terima kasih sudah memberi saya kesempatan!."
"Bangunlah," Salsa membantunya berdiri. "Ingat pesan suami saya ya. Perlakukan semua tamu dengan baik."
"Tentu nona, saya akan selalu mengingat pesan anda dan tuan Azka!."
"Sudah, kembali bekerja semuanya."
Azka menggandeng tangan Salsa, membawanya menuju ruang kerjanya. Banyak karyawan yang langsung bergosip mengenai berita tadi. Awalnya mereka mengira bahwa Salsa adalah sosok yang tidak baik. Bahkan mereka sempat men-judge Salsa sama seperti pelakor karena merebut Akza dari tunangannya. Namun dugaan mereka semua rupanya salah. Salsa merupakan sosok yang baik hati. Berbeda dengan Salwa yang terkesan cuek dan ketus jika menyangkut Azka.
"Pantas bos berpaling, selain cantik, istri bos juga baik hati!."
"Benar, bos tidak salah memilih istri. Dia bahkan jauh lebih baik daripada mantan tunangan bos yang jutek itu. Istri bos juga ramah sekali!."
"Kalau bukan kebaikan hati istri bos, Eny sudah kehilangan pekerjaannya. Dan tahu kan, jika sudah keluar dari kantor inj
Sementara kini Azka sudah berada diruangannya bersama Salsa. Senyum tentu mengembang diwajah pria itu. Alvin yang melihat tingkah berbeda Azka hanya terkekeh geli. Benar kata orang, jatuh cinta akan membuat seseorang berubah.
Azka tersenyum, "Tadi aku mau pergi makan. Tapi urung karena mendengar keributan tadi."
"Ya sudah, sekarang ayo makan. Oh ya, untuk Alvin juga ada."
Alvin yang namanya disebut langsung merapat, "Wah, Bu bos baik sekali, terima kasih banyak."
Salsa tersenyum manis, "Semoga kamu suka masakanku."
"Aku pasti menyukainya, kelihatannya enak sekali. Pantas saja si bos pagi-pagi sumringah. Dapat istri yang pinter masak sih. Beda sama mantan," sahut Alvin, hal itu membuat Azka mendengus kesal.
"Jangan bawa-bawa masa lalu. Sudah sana makan, atau saya ambil lagi makanan kamu!."
"Mas, jangan begitu. Alvin sudah membantu semua pekerjaan kamu loh."
"Ck, jangan bela pria lain didepan saya. Saya tidak suka!."
"Dasar posesif," celetuk Alvin pelan.
"Saya mendengarmu, Alvin Andreas! Kamu makan dikantin sana!!."
Alvin keluar ruangan dengan kesal, namun saat kembali memandang kotak makan yang diberikan Salsa, dia kembali tersenyum sumringah.
Sedangkan didalam ruangan, Azka dengan manjanya meminta Salsa menyuapinya. Dia sudah seperti anak Tk yang minta disuapi ibunya.
"Aku akan mengadakan resepsi untuk pernikahan kita!."
Salsa menatap suaminya. "Apa perlu, Mas?."
"Sangat perlu, aku tidak mau kejadian tadi terulang lagi. Biar semua orang tahu kalau Salsabila Safitri adalah istri Azka Ibrahim."
Salsa mengulum senyum, "Padahal aku memang sudah jadi istrimu."
Azka menatap Salsa dengan sedikit tajam, "Tapi semua orang belum tahu itu. Pokoknya aku ingin membuat pesta mewah untuk memperkenalkanmu pada dunia."
"Terserah Mas saja!."
Azka kembali meminta Salsa menyuapinya. "Jangan lupa janjimu tadi. Nanti malam, aku mau yang seperti tadi pagi!."
Glek