
Karmila tersenyum, setelah sekian lama membujuk Salsa, akhirnya ibu hamil itu menyadari kesalahannya. "Ibu senang karena kamu sudah menyadari semuanya. Maaf kalau ibu terus membujuk mu. Semua ibu lakukan untuk kebaikanmu. Ibu tidak mau kamu menyesal suatu hari nanti. Lagipula, kamu sedang hamil, kamu butuh suamimu untuk melewati setiap fase kehamilanmu. Tidak mudah menjalani kehamilan seorang diri. Walaupun bisa, semua tidaklah mudah."
Salsa membenarkan ucapan Karmila. Beberapa kali ditengah malam, Salsa kehausan. Jika ada Azka, suaminya itu tidak akan membiarkannya mengambil air sendiri. Tapi sudah hampir dua bulan ini. Semua Salsa lakukan sendiri. Jujur, dia merindukan Azka. Sangat.
"Ibu tahu, diam - diam kamu sering menangis sendirian. Ibu juga tahu, kamu sering memandangi foto suamimu diponsel. Sayangkan, kemarin ego masih menyelimuti hatimu. Kekecewaan dan luapan emosi semakin membuat egomu tinggi. Bagaimana tidak, kamu tega meninggalkan suamimu dirumah. Walau ada pembantu, semua tidak akan pernah sama."
Deg
Jantung Salsa berdetak lebih cepat. Itu artinya, hampir dua bulan dia lalai menjalankan kewajibannya. Siapa yang merawat dan menyiapkan kebutuhan Azka? Siapa yang memasak makanan untuknya? Jika selama ini, semua Salsa yang membantunya.
"Bu ... Mas Azka akan memaafkanku kan?," tanya Salsa lirih.
Karmila tersenyum, "Dia mencintaimu. Tentu dia akan memaafkanmu. Jadikan kejadian kemarin sebagai pengalaman agar kedepannya, kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama. Suami adalah imam, jika dia salah, sudah menjadi tugasmu untuk mengingatkannya. Menikah bukan hanya mengikat dua orang kedalam suatu hubungan yang sakral. Tapi juga dua karakter, sikap juga watak yang berbeda. Setiap orang punya kekurangan dan kelebihan. Kamu bisa menjadi kelebihan untuknya jika dia mampu menutupi kekuranganmu dengan kelebihannya pula."
Salsa tergugu, dia sadar telah salah meninggalkan Azka. Dia salah karena mengedepankan ego. Dan pada akhirnya mereka hanya saling menyakiti.
"Pulanglah, temui suamimu. Ibu dengar, dia sakit kan? Jika sakitnya medis, dokter pasti mampu menyembuhkannya. Tapi jika dia sakit rindu, hanya kamulah obatnya."
Salsa memeluk Karmila, "Terima kasih bu. Aku senang bisa mengenal ibu. Dan aku tidak akan melupakan semua yang ibu katakan."
Wanita paruh baya itu mengusap air mata Salsa. "Berbahagialah, Nak." Salsa mengangguk. "Ibu akan menelpon teman dan menanyakan tiket penerbangan ke Jakarta. Kamu tunggu sebentar ya."
Salsa kembali mengangguk, setelah kepergian Karmila. Ibu hamil itu mengambil koper miliknya dan mulai menata pakaiannya didalam sana. Salsa tidak sabar ingin kembali kerumahnya. Menyapa suaminya, memeluknya dan menghabiskan waktu dengan pria yang dia cintai itu.
"Penerbangan ke Jakarta tidak ada. Tapi ke Surabaya ada. Apa kamu mau? Nanti kamu bisa transit disana lalu terbang ke ibukota."
"Baiklah, Bu. Aku ambil penerbangan ke Surabaya saja. Kalau memang nanti belum ada penerbangan ke Jakarta. Aku akan mencari penginapan terdekat."
"Baiklah, kalau begitu kamu siap - siap ya." perkataan Karmila berhenti saat melihat Salsa lebih dulu membereskan pakaiannya. Wanita itu tersenyum, "Sepertinya sudah ya. Duh ... Ada yang tidak sabar nih, ketemu suami."
Ledekan Karmila membuat Salsa tersenyum malu. "Heheh, sebenarnya aku memang merindukan suamiku bu. Hanya saja aku gengsi mengakuinya."
"Sudah, tidak apa. Kalau kamu sudah siap. Ayo berangkat."
Perjalanan menuju Bandara hanya ditempuh setengah jam. Wajah perempuan cantik itu nampak berbinar.
"Hati-hati ya. Sampaikan salam ibu untuk Mamamu."
"Tentu, Bu. Terima kasih sudah mau menampungku dirumah ibu. Aku tidak akan melupakan kalian. Jika ada waktu luang, aku akan mengunjungi kalian lagi."
Karmila dan suaminya tersenyum.
Saat Salsa berniat kembali ke Ibukota, Azka justru dalam perjalanan menuju kota ini. Pria itu tidak sabar melihat sang istri.
"Aku akan segera melihatmu, sayang. Walau hanya dari kejauhan.
Bersamaan dengan pesawatnya yang baru mendarat. Pesawat lain terbang menuju kota tujuan, yang mana didalamnya adalah sosok yang Azka rindukan.
Seperti rencana awalnya, Azka segera memesan taksi online. Dia akan menginap dihotel terdekat dulu. Baru nanti sore dia akan menyewa mobil untuk memudahkannya memantau keberadaan sang istri.
"Sesuai lokasi tujuan ya, Pak," Azka mengangguk.
Jam sudah menunjukkan pukul 4, dan mobil yang Azka sewa sudah ada didepan lobi hotel. Tak tanggung - tanggung, Azka menyewa mobil itu seminggu kedapan. Sesuai dengan informasi yang Saga berikan. Azka segera menuju lokasi dimana istrinya tinggal.
Azka berdiam didalam mobil, dia tampak mengamati sebuah rumah yang terlihat sepi. Tidak ada tanda-tanda keberadaan sang istri. Benarkah Salsa ada dirumah itu. Lamunan Azka buyar saat ada seorang bocah mengetuk kaca mobilnya.
"Nggolek'i sopo om?."
(Cari siapa om)
Azka yang cukup tidak mengerti dengan apa yang bocah itu katakan, mencoba mengajaknya bicara dengan bahasa Indonesia.
"Kamu bisa bahasa Indonesia kan?."
"Weh, Om iki ngenyek. Bisa lah!." ucapnya cukup keras membuat Azka terkekeh pelan.
"Kamu mau uang?."
"Piro?," melihat Azka mengernyitkan dahi, bocah itu mengubah bahasanya. "Maksudku berapa?."
Sial, dia matre juga rupanya. Bathin Azka.
Pria itu memberikan sang bocah uang lima puluh ribu.
"Uang ini buat kamu. Tapi kamu harus jawab pertanyaanku dulu! Gimana!." tangan kecilnya langsung sigap mengambil uang warna biru tersebut. Tak lupa dia memberikan jempolnya pada Azka sebagai tanpa setuju.
"Ah, rumah itu rumahnya bu Karmila kan?." bocah itu mengangguk, "Ada perempuan yang tinggal disana kan? Yang dari Jakarta."
"Mbak Salsa?."
"Benar. Dia ada disana kan?."
"Mabk Salsanya sudah pulang tadi pagi."
"Hah. Yang benar. Kamu sudah saya kasih uang. Jangan memberikan keterangan sembarangan."
"Ye, dikasih tahu ndak percaya. Itu ada bu Karmila."
Azka ingin segera menutup kaca mobilnya. Sayang, bocah itu telanjur berteriak memanggil perempuan itu lebih dulu. Mau tidak mau, akhirnya Azka turun dari mobil dan menemui wanita itu. Rencananya sudah berantakan, tidak masalah dia bertemu Salsa sekarang.
"Kenapa nak?."
Azka terdiam sejenak, "Em. Saya Azka bu. Suaminya Salsa."
"Loh ... Salsanya tadi pagi sudah pulang. Kalian salipan rupanya!."
*
*
Hehehe, gagal ketemuan mas bro. Sabar mas Azka.