Night Destiny

Night Destiny
Keputusan Danar



"Mas Azka ... D-dia juga akan memiliki anak dari perempuan lain!."


Deg


"Maksudmu, Azka selama ini mengkhinataimu?," tanya Danar dengan nada sedikit tinggi. Bagaimana tidak marah jika ada yang menyakiti belahan jiwanya.


"Aku memergokinya sedang mengantar wanita muda disebuah klinik kandungan. Aku juga bisa merasakan bagaimana Mas Azka begitu menjaga wanita itu. Bahkan bagaimana cara dia memberi perhatian padanya. Terlebih lagi, dokter berkata agar Mas Azka menjaga kandungan istrinya. Itu artinya, bukan sekali ini saja mereka periksa kesana bukan?," lirih Salsa.


Hati Anya dan Danar terasa diremas, mereka tidak menyangka sosok Azka akan tega melukai putri mereka. Selama ini yang mereka tahu, Azka begitu menyayangi dan mencintai Salsa.


"Sebaiknya kamu berpisah dengan Azka!."


Anya menatap suaminya tak percaya, "Mas, putri kita sekarang sedang hamil. Bagaimana bisa kamu memintanya berpisah dengan suaminya."


Danar menatap Anya dengan tajam, "Lalu kamu mau Salsa tetap bersama Azka? Kamu dengar sendiri apa kata Salsa tadi bukan?. Azka sudah berubah, Azka lebih mementingkan wanita itu daripada putri kita. Bahkan dia juga berbohong untuk menutupi rahasianya. Kamu pikir jika Salsa masih bertahan dengan Azka, Azka akan peduli pada putri kita dan anaknya? Tidak Anya, tidak. Yang ada anak dan cucu kita akan semakin menderita karena kasih sayang timpang yang diberikan oleh Azka."


Kedua wanita itu diam, mereka larut dalam pikiran masing-masing.


*Semua belum tentu benar, aku harus menyelidikinya. Mas Danar sudah emosi, dia tidak akan mau mendengarkan. Aku akan mencari tahu kebenarannya. Ucap Anya dalam hati.


Yang Papa katakan benar, aku hanya akan semakin sakit jika bersama dengan Mas Azka. Sekarang saja dia sudah berani berbohong. Dia berdalih kerja padahal kenyataannya dia bersama wanita lain sekarang. Tapi bagaimana nasib anakku kelak, dia tetap membutuhkan ayahnya. Gumam Salsa dalam hati*.


"Mas, kamu tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Bagaimanapun Salsa yang berhak mengambil keputusan untuk hidupnya kelak."


Danar tampak frustasi, ketika rumah tangga Salwa mulai membaik. Kenapa sekarang malah rumah tangga Salsa yang dilanda masalah. Bahkan bisa dikatakan bahwa masalah Salsa bukanlah masalah ringan.


"Sayang, belum tentu anak itu anak Azka. Kamu harus tanyakan dulu kebenarannya pada suamimu."


Ucapan Anya menyulut kembali emosi Danar. "Untuk apa lagi bertanya pada bajingan itu! Semuanya sudah jelas! Mengantar wanita periksa kandungan, kamu pikir Azka mau melakukannya kalau wanita itu tidak penting baginya?!," tanya Danar emosi, "Kaputusanku sudah bulat, Salsa tidak akan bersama Azka lagi apapun alasannya!." Danar meninggalkan kamar dengan wajah marahnya.


Anya mendesah pasrah, beginilah Danar kalau sudah emosi. Semua ucapan tidak akan dia dengarkan.


Anya menggenggam tangan putrinya, dia tahu Salsa sekarang tengah bimbang.


"Mama serahkan semua keputusan padamu. Kamu tahu apa yang terbaik untukmu dan anakmu, Nak. Tapi saran Mama, pikirkan semuanya dengan baik. Jangan sampai kamu menyesal karena mengambil keputusan yang salah."


Salsa hanya diam, pikirannya kacau. Dirinya bimbang dan juga gamang. Hamil tanpa ada suami akan menimbulkan asumsi yang tidak baik dimasyarakat. Bahkan menjadi single parent pun tidak semudah yang dibayangkan. Melewati kehamilan seorang diri tentu rasanya akan berbeda dengan saat didampingi suami. Tapi apa mau dikata, Azka yang sudah mengkhianati sumpah dan janji pernikahan mereka. Dan seperti yang Salsa katakan kemarin. Jika Azka terbukti berkhianat, maka Salsa akan memberikan hukuman yang paling menyedihkan untuknya. Dan mungkin, inilah saatnya.


"Ma ... Aku akan pergi bersama bayiku!."