Night Destiny

Night Destiny
Sakit Merindu



Urusan Alika sudah selesai. Masalah utama yang sebenarnya terjadi telah diatasi. Tapi sayangnya, sampai sekarang keberadaan Salsa belum juga menemukan titik terang.


Bekerja siang malam ditambah harus mencari sang istri. Apalagi dengan pola hidup dan pola makan yang berantakan membuat kesehatan Azka sedikit menurun. Tubuh pria itu terasa panas dan sedikit lemas namun dia mengabaikannya. Seolah tak memikirkan kesehatan dirinya, Azka terus mencari keberadaan sang istri tanpa kenal lelah.


Jam sudah menunjukkan pukul satu dinihari, dan jejak Salsa sama sekali tak terlihat. Kepala Azka terasa begitu berat. Ditambah tubuhnya yang kian lemas, mau tak mau pria itu menghentikan laju kendaraannya.


"Kamu dimana, sayang? Aku merindukanmu."


Azka mengambil ponselnya, membuka galeri dan menatap fotonya bersama Salsa. Pria itu kembali merasakan nyilu yang luar biasa. Azka tidak pernah menyangka akan berpisah dengan belahan jiwanya seperti ini. Setelah larut dengan kesedihannya, ia kembali menghidupkan kendaraannya, dengan kecepatan sedang, Azka kembali membelah jalanan menuju rumah.


Setibanya dihalaman rumah, pria itu segera keluar dari mobil. Tubuhnya kian terasa lemah, bahkan rasanya Azka tak mampu melangkah memasuki rumah.


"Bang!."


Saga berlari cepat lalu menyanggah tubuh kakaknya. Wajah Azka terlihat begitu pucat. Dan Saga bisa merasakan jika kulit Azka sangat panas. "Bang, ayo kita masuk kedalam."


Saga membawa tubuh Abangnya masuk kedalam rumah. Cukup kesulitan karena Azka semakin lemas. Hingga akhirnya dia berhasil membaringkan Azka di ranjangnya. Saga segera membuka sepatu dan kaos kaki milik kakaknya.


"Salsa, kembalilah sayang. Aku tersiksa hidup tanpamu!," racau Azka.


Saga turun kebawah, mengambil kompresan dan air dingin. Tak lupa dia mengabari Bundanya untuk segera datang. Dengan telaten, Saga mengompres Azka, pria itu masih meracau tidak jelas.


Melihat kakaknya yang begitu menyedihkan, Saga langsung mengambil ponselnya. Dia mencari kontak seseorang lalu menghubunginya. Panggilan pertama tak terjawab, begitupun panggilan kedua. Tak mau menyerah, Saga terus memanggil kontak tersebut, hingga ...


[Hallo, Ga.]


[Kak Salsa!]


[Ada apa kamu menghubungiku?]


Saga menekan gambar video, yang artinya, dia meminta panggilan mereka diubah menjadi videocall


Beberapa saat akhirnya Salsa menyetujui permintaan adik iparnya.


[Ga, kamu di ... Kamar kakak?], tanya Salsa lirih. Dia tidak akan pernah lupa dengan kamarnya bersama Azka.


[Ga, A-apa yang terjadi dengan Mas Azka? Dia sakit apa?], tanya Salsa khawatir. Pantas saja dia kepikiran Azka terus. Rupanya perasaannya benar, Azka sedang tidak baik-baik saja.


[Abang sakit merindu!]


Pernyataan Saga membuat Salsa bungkam,


[Lihatlah dia kak. Abang semakin kurus, makannya tidak teratur begitupun dengan tidurnya. Siang hingga sore dia menghabiskan waktunya untuk bekerja. Setelah pulang kerja dia langsung mencarimu. Menemui om Danar yang bahkan berkali-kali mengusirnya. Tapi Bang Azka tidak pernah menyerah. Tapi malam ini, mungkin tubuhnya sudah lelah. Hingga dia jatuh sakit seperti ini.]


Tut


Panggilan terputus, Saga hanya mampu menghela nafas panjang. Tapi setidaknya, dia sudah memberitahu Salsa keadaan Azka yang sebenarnya. Semoga hati wanita itu tergerak.


"Ga, bagaimana keadaan Abangmu?," Gita datang tergopoh - gopoh bersama Dirga.


Melihat anaknya meringkuk, Gita langsung menangis. Dia sungguh tidak tega melihat Azka menderita.


"Bang, makanlah dulu. Bunda membawakan bubur kesukaanku."


Azka membuka mata, dengan susah payah pria itu berusaha bangun. Gita duduk disamping putra sulungnya.


"Ayo makan dulu."


Namun baru suapan pertama, Azka sudah memuntahkan makanannya. Pria itu kembali merebahkan dirinya karena tak mampu menahan tubuhnya yang sangat lemah.


"Bawa Azka kerumah sakit, Bun. Ga, antar Bunda dan kakakmu."


"Kamu mau kemana, Mas?."


"Aku akan buat perhitungan dengan Danar!."


*


Ayah Dirga bertindak, yeay