Night Destiny

Night Destiny
Sisi Baik



Berbeda dengan Azka dan Salsa yang berbahagia. Salwa justru termenung dikamarnya. Ucapan Seno masih terngiang di telinganya. Tidak, sejahat apapun dirinya. Salwa tidak akan tega membunuh darah dagingnya sendiri. Dia hanya membenci anak ini. Ya, hanya sebatas benci dan tidak menginginkan kehadirannya, itu saja. Tapi bukan berarti dia akan benar-benar melenyapkan dia.


"Makanlah, kamu belum makan sejak sore."


Salwa hanya menatap Seno sekilas lalu kembali menatap ke jendela.


Seno menghela nafas, "Aku tahu kamu membenciku. Tapi jangan benci anakku. Setidaknya, makanlah untuk dia. Aku yakin, kamu tidak sejahat ibu tiri yang tega membuat anaknya kelaparan."


Salwa beranjak, mengambil nampak berisi makanan itu lalu memakannya. Seno tersenyum tipis, walau tanpa kata, setidaknya Salwa sudah mau makan, itu sudah cukup." Jangan lupa minum susunya juga."


Seno pergi meninggalkan Salwa dikamar setelah memastikan istrinya makan. Dia menuju dapur untuk makan malam juga.


Selesai makan malam, Seno kembali ke kamarnya. Dia melihat Salwa yang masih menatap jendela. Sedangkan nampan berisi makanan tadi sudah tandas tanpa sisa, begitupun dengan susunya.


"Tidurlah. Sudah malam, angin malam tidak bagus untuk wanita hamil!."


Salwa bergeming, andai Azka yang memberikan perhatian itu, tentu dia akan sangat bahagia. Nyatanya, pria itu bukan Azka.


"Aku akan tidur disofa, kamu tidurlah di ranjang."


Seno mengambil selimut dari dalam lemari. Mengambil bantal dari ranjang lalu menuju sofa. Dia merebahkan dirinya di sofa yang tidak terlalu besar itu.


Salwa masih menatap jendela, sesekali melirik suaminya. Malam ini mendung, tidak ada bintang yang terlihat. Awan gelap menyelimuti malam ini, sama seperti hatinya yang juga gelap.


Aku akhirnya terbuang. Bahkan mereka tidak menanyakan kabarku sama sekali. Ternyata aku sama sekali tidak berharga bagi mereka. Seandainya aku masih punya orang tua kandung. Pasti hidupku tidak seperti ini. Bathin Salwa.


Dengan pelan dia melangkah menuju ranjang. Merebahkan tubuhnya dan mencoba memejamkan mata. Hingga entah jam berapa dirinya benar-benar terlelap dan masuk ke alam mimpi.


"Mimpi indah, sayang."


Seno kembali ke sofa, merebahkan tubuhnya yang terasa tidak nyaman. Bagaimana mau nyaman jika sofanya kurang besar. Bahkan dia harus rela tidur meringkuk agar tubuhnya cukup.


Berbalik ke kanan dan ke kiri, Seno sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Ini pertama kalinya dia tidur di sofa. Badannya tidak terbiasa dan sekarang, tubuhnya mulai pegal.


Salwa yang mendengar krasak - krusuk membuka mata. Dia melihat Seno yang tidurnya tampak tidak nyaman.


"Pindahlah ke ranjang!."


Seno membuka mata, dia menatap Salwa yang entah sejak kapan ada didepannya. "Kamu belum tidur?."


"Bagaimana aku bisa tidur kalau kamu bergerak gelisah daritadi!."


"Maaf kalau aku mengganggu tidurmu."


Salwa memutar matanya malas, "Tidurlah diranjang. Tapi jangan melebih batas tengah!."


"Aku tidak papa tidur disini saja."


Salwa jengah, "Kamu mau membuatku tidak tidur semalaman dengan gerakanmu yang menggangu itu?."


Seno tersenyum tipis, akhirnya dia mengikuti langkah Salwa menuju ranjang.


Ternyata benar kan? Kamu tidak sejahat itu. Sebenarnya aku tahu kalau kamu punya sisi baik, Sal.