Night Destiny

Night Destiny
Kedatangan Mertua



Azka sudah kembali segar. Wajahnya terlihat sangat berbinar. Berbeda dengan Salsa yang wajahnya memerah malu.


"Istriku ini, tambah cantik saja kalau sedang merona!."


Salsa hanya tersenyum tipis, "Sudah jam delapan, Mas. Nggak papa kalau kamu terlambat?," tanya Salsa mengalihkan pembicaraan.


Azka memeluk Salsa dari belakang, menyadarkan dagunya dibahu istri tercinta. "Memang siapa yang akan marah? Aku bosnya!," sahut Azka sombong.


"Iya deh, iya. Bos mah bebas. Tapi kamu jangan marah kalau sikapmu dicontoh sama anak buahmu nanti!."


Azka tergelak, "Semua yang bekerja denganku, harus memiliki disiplin tinggi. Karena kantor menggaji karyawan diatas rata-rata. Bahkan bonusnya juga banyak. Mereka mana berani melanggar peraturan kantor."


"Ya tetap saja. Seorang atasan harus memberikan contoh yang baik pada bawahannya."


"Baiklah ibu ratu, aku akan belajar menjadi bos yang lebih baik lagi."


"Harus itu!."


Azka membalik tubuh Salsa hingga keduanya berhadapan, "Tapi tidak janji kalau keadaannya seperti tadi pagi!."


Blush


Sekali lagi wajah Salsa merona. Kenapa Azka selalu membahasnya?


"Duh, duh, duh. Gemes banget lihat wajah cantik ini. Istri siapa sih?."


"Ya istri kamu lah, Bang!."


"Bunda!," panggil Azka dan Salsa kompak.


Gita berjalan mendekati anak dan menantunya. Senyum bahagia tersungging diwajah wanita paruh baya itu.


"Pantes sampai nggak dengar salam Bunda berkali-kali. Kalian lagi mesra-mesraan rupanya."


"Bukan, Bun. Kami--!."


"Bunda kayak nggak pernah muda saja!," potong Azka cepat.


Salsa hanya mampu tersenyum malu, menatap suaminya yang malah mengedipkan sebelah matanya.


"Mas, sudah siang. Berangkat sana."


"Alah, memangnya dirumah dengan penjagaan seketat ini akan ada apa? Bucin kamu nih," seloroh Gita.


Azka hanya mendengus kesal, namun tak urung berangkat ke kantor.


Selepas kepergian putranya, Gita memperkenalkan Bi Sari yang akan menjadi ART untuk Salsa.


"Ini Bi Sari. Dia yang akan membantu kamu dirumah ini. Bi Sari ini sudah ikut Bunda puluhan tahun. Dia juga yang membantu Bunda mengurus Azka. Jadi, kalau ada apa-apa, kamu bisa tanya pada Bi Sari."


"Salam kenal, Bi. Saya Salsa."


"Saya Sari, nona."


Gita menyuruh Bi Sari istirahat dulu, sementara dirinya kini berada diruang tamu bersama Salsa.


"Bagaimana hubungan kamu sama Azka?."


Salsa tersenyum lembut, "Hubungan kami baik, Bun. Bahkan bisa dikatakan banyak mengalami kemajuan!."


Gita membalas senyuman menantunya, "Syukurlah kalau begitu. Bunda berdoa, semoga kalian selalu bahagia. Bunda baru sekarang melihat Azka sebahagia ini."


"Maksud Bunda?."


"Azka memang belum pernah menjalin hubungan dengan wanita lain selain Salwa. Mungkin dia terjebak dengan perasaan sayangnya pada Salwa. Lebih tepatnya, Azka bukan orang yang peka terhadap perasaannya sendiri. Sejak kecil selalu bersama Salwa, sekolah bersama bahkan menjadi pelindung bagi Salwa saat ada yang mengganggu gadis itu. Azka mengira dia mencintai Salwa sebagai seorang wanita. Nyatanya semua hanya rasa sayang kakak pada adiknya. Kebersamaan mereka bertahun-tahun membuat Azka tidak bisa membedakan mana cinta pada wanita, mana cinta pada adiknya. Hidupnya monoton, saat masih sekolah dia sibuk belajar. Setelah itu kuliah, lalu sibuk membuka usahanya sendiri. Dia mana ada waktu memikirkan perasaannya. Sampai akhirnya, Azka berfikir untuk menikahi Salwa."


Salsa masih menyimak perkataan mertuanya,


"Bunda bersyukur, karena Azka bertemu dengan wanita baik seperti kamu. Terlepas bagaimana awalnya kalian bertemu. Tapi Bunda tetap menyayangi kamu seperti putri Bunda sendiri. Buktinya, Azka sudah banyak berubah. Dia lebih dewasa dan peka," Gita terkekeh.


"Akulah yang beruntung bertemu dengan Mas Azka, Bun. Dia begitu sempurna. Bahkan terkadang aku ragu, mampukah aku mendampinginya."


"Apa Azka sudah mengungkapkan perasaannya padamu?," Salsa mengangguk malu, "Itu artinya, dia sudah mencintai kamu. Dia sudah menjatuhkan pilihannya padamu. Azka tipe orang yang setia. Dan dia pasti akan melindungi apapun yang dia cintai. Jangan pernah merasa ragu pada dirimu, Nak. Kamu bahkan sangat pantas mendampingi putra Bunda. Azka suamimu, dia milikmu. Jadi kamu harus menjaga apa yang sudah menjadi milikmu. Peka terhadap keadaan dan situasi itu penting, mempertahankan apa yang menjadi milik kita adalah sebuah keharusan."


"Apa aku tidak terkesan egois, Bun. Bunda tahu kan, Salwa ternyata adalah adikku. Dan dia masih mencintai Mas Azka!."


Gita meraih tangan menantunya, menggenggamnya lembut dengan tatapan teduh seorang ibu. "Kamu rela Azka kembali pada Salwa?," Salsa menggeleng, "Kalau begitu, jangan pernah ragu pada dirimu sendiri."


"Terima kasih, Bun. Aku akan menjaga suamiku dengan baik. Aku juga akan belajar menjadi istri yang lebih baik lagi!."


"Tentu, Nak. Bunda yakin kamu bisa menjadi istri yang baik untuk putra Bunda. Bunda percaya, dia akan bahagia denganmu."