Night Destiny

Night Destiny
Kejadian Malam Itu



"Jadi ... Ada yang kamu sembunyikan dari ceritamu tadi, Mas?."


Glek


Azka menelan saliva dengan susah. Mati aku, alamat puasa kalau begini. Bathin Azka


"T-tidak ada, sayang."


"Kalau tidak ada, kenapa kamu jadi gugup?."


Azka semakin salah tingkah, ingin sekali dia menghilang jika begini situasinya. "Kamu tidak percaya padaku?."


Salsa menatap suaminya dengan lamat, "Percaya," Azka tersenyum tipis mendengar jawaban dari mulut istrinya. "Tapi aku yakin ada bagian yang tidak kamu ceritakan. Ah, lebih tepatnya ... Kamu belum cerita apapun tentang kejadian malam itu."


Senyuman Azka seketika pudar. Pria itu lalu menghela nafas, "Aku lupa kalau belum cerita apapun," ucapnya menyengir


Salsa berjalan lebih dulu memasuki rumah namun baru beberapa langkah, dia berhenti dan berbalik menatap suaminya. "Aku tunggu penjelasanmu dikamar."


Glek


Lagi - lagi Akza menelan ludah kasar. Setelah menarik nafas panjang, dia berjalan memasuki rumah. Tak lupa mengunci pintu rumah lalu berjalan menuju kamar mereka.


Sesampainya disana, Azka melihat Salsa duduk diatas ranjang. Baju istrinya juga sudah berubah menjadi baju tidur. Tapi ada yang berbeda, jika biasanya Azka selalu melihat senyuman manis, kali ini hanya ada adalah tatapan yang mengintimidasi. Dia berjalan ke arah lemari, mengambil pakaian tidur lalu berganti dikamar mandi. Setelahnya, dia menyusul Salsa yang ada diatas ranjang.


"Jadi, apa yang ingin kamu ketahui, sayang?," tanya Azka pada istrinya.


Salsa kembali menatap suaminya dengan tatapan mengintimidasi. "Se-mu-a-nya!."


Azka terkekeh mendengar kata semuanya yang terdengar ditekankan oleh sang istri. "Kamu takut terjadi sesuatu antara aku dan Salwa ya?," tanya Azka meledek.


Salsa memberenggut, "Dengarkan aku tuan Azka Ibrahim yang sok tampan. Kamu suamiku, wajar kalau aku curiga apalagi kalian adalah mantan kekasih. Kekasih terindah! Apa salah kalau aku bersikap begini?."


Azka mencubit hidung Salsa dengan gemas. "Hahah, tidak sayang, tidak. Aku malah senang kalau kamu cemburu, curiga, dan protektif padaku. Itu artinya kamu mencintaiku."


Salsa memutar matanya malas, "Jangan bertele - tele. Sekarang jelaskan bagaimana bisa kejadian itu terjadi. Dan bagaimana Seno bisa ada di kota S. Bukankah dia dosen yang sibuk?."


Azka membetulkan duduknya, lebih tepatnya, dia tidur dipangkuan Salsa. Posisi yang selalu Azka suka.


"Baiklah, dengarkan aku baik-baik dan jangan menyela sebelum aku selesai menceritakan semuanya."


"Oke, deal."


Flash Back On


"Bang, kamu tahu siapa yang aku lihat tadi dipesawat?," tanya Saga saat mereka berada di hotel.


"Siapa? Gigi Hadid?," jawab Azka asal.


Saga berdecak, "Kamu memang tidak bisa diajak serius. Kalau begitu aku tidak akan membantumu!."


Azka menatap adiknya dan tersenyum remeh, "Tidak terbalik? Aku yang disini membantumu!."


Saga berbaring disamping Abangnya, "Kalau masalah pekerjaan, kamu memang membantumu. Tapi jangan lupa kalau aku juga sering membantumu!."


"Baiklah, terserah kau saja. Jadi apa yang sebenarnya ingin kau katakan?."


"Kamu tidak akan percaya kalau aku bilang melihat mantan terindahmu satu pesawat dengan kita!."


Azka mengubah posisinya menjadi duduk, "Salwa maksudmu?."


Saga mengangguk, "Kamu tahu, sejak kita duduk, Salwa selalu mencuri pandang ke arahmu."


Azka berdecak, "Kamu yakin tidak salah lihat?," tanya Azka meyakinkan. Saga kembali mengangguk. "Mau apa lagi dia? Kenapa kebetulan sekali dia datang kemari saat kita juga datang ke kota ini."


"Abang jangan khawatir, aku sudah meminta temanku untuk mengawasinya. Dan aku juga sudah menyusun rencana balik kalau dia berusaha merencanakan hal buruk untuk Abang."


Azka tersenyum tipis, "Kamu memang bisa diandalkan."


Saga memberenggut, "Tentu saja. Aku selalu jeli dan peka terhadap situasi apapun. Tidak seperti Abang yang ... Ah sudahlah, Abang juga sudah tahu diri Abang sendiri."


Keduanya terdiam, "Padahal ada Seno yang mencintai Salwa dengan tulus. Kenapa dia tidak bisa melihat ketulusan pria itu. Miris!."


Saga menoleh ke arah Abangnya. Terbersit sebuah ide dalam otak cerdasnya. Pemuda itu mengeluarkan ponsel dan mengetik sesuatu.


[Mas, aku dan Bang Azka sedang berada di kota S. Pujaan hatimu juga ada disini. Kamu tidak mau menyusul kami?]


Saga menunggu beberapa saat hingga terdengar bunyi pesan balasan dari orang yang dia kiriman pesan.


[Aku sibuk. Sedang banyak kelas]


Saga berdecak, [Padahal mungkin saat inilah kamu dan Salwa bisa bersama. Sayang, kamu malah tidak bisa datan.]


Saga menyeringai, ia yakin sebentar lagi pria itu akan segera menyusul mereka kemari.


Ting


[Jika kali ini takdir berpihak padaku. Aku akan mentraktirmu apapun yang kau mau. Aku segera berangkat]


Tawa Saga menggema, "Dasar bucin!."


"Kamu sedang merencanakan hal buruk?," tanya Azka penasaran.


Saga tidak menjawab, dia hanya mengedikkan bahu acuh.


*


*


Setelah beristirahat sejenak, kedua pria tampan ini mendatangi lokasi Mall yang terbakar. Mereka juga bertemu dengan beberapa polisi yang menangani kasus kebakaran tersebut. Setelah mengetahui kebakaran terjadi karena unusr ketidaksengajaan, maka Azka dan Saga pamit undur diri.


"Bang, Tuan Adam meminta bertemu di klub Night Flower jam delapan malam. Masih keburu dengan penerbangan Abang?."


"Masih. Apa kamu mau pulang bersama Abang?."


"Tidak Bang. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan dulu."


Azka mengedikkan bahunya acuh. Dia memilih memejamkan mata dan istirahat sejenak.


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Dua pria tampan itu segera berangkat menuju klub dimana rekan kerja ayah mereka meminta bertemu.


Sesampainya di klub, mereka langsung menuju ruang VVIP yang sudah dipesan tuan Adam.


Saga selalu siaga dengan ponselnya. Senyuman diwajahnya merekah kala satu pesan muncul dilayar notifikasinya.


[Wanita itu juga berada di Night Flower. Dia sejak tadi berbicara dengan seorang pelayan. Dan setelah saya selidiki, dia meminta pelayan mencampur obat untuk minuman yang akan diantar ke ruang VVIP].


Saga menyeringai, dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


[Dimana, Mas?]


[Aku baru datang. Sekarang kamu dimana?]


[Aku di ruang VVIP nomor 3. Datanglah kemari].


[Oke!]


"Mas, ayo masuk."


Seno melirik ke arah meja yang dimana wanita pujaan hatinya ada disana.


"Tenang Mas. Dia aman. Ayo kita kedalam dulu supaya tidak menimbulkan kecurigaan padanya."


Seno mengangguk, dia mengikuti Saga yang masuk kedalam ruangan.


"Maaf, saya mengajak teman saya," ucap Saga pada tuan Adam.


"Tidak masalah, silahkan bergabung."


"Apa kabar, Sen?," sapa Azka.


"Baik bro."


Mereka mengobrol dengan santai. Saga mengirim pesan pada Abangnya dan Azka dengan cepat membaca pesan dari adiknya. Azka menatap Saga, dia mengangguk mengerti. Hingga beberapa saat, seorang pelayan datang dengan nampan berisi minuman di tangannya.


"Silahkan, tuan," pelayan itu menaruh minuman didepan tuan Adam, Azka dan Saga.


Saga melirik Abangnya. Azka yang paham langsung mengerti maksud adiknya. Ia melihat minuman yang pelayan berikan untuknya. Dengan cepat Azka memberikan minuman itu pada Seno.


"Maaf, saya tidak minum alkohol," ucap Azka beralasan. Pelayan itu terlihat kikuk, dia langsung pamit undur diri.


Azka yang melihat itu langsung izin kekamar mandi. Pelayan itu belum jauh dan Azka segera mencegatnya.


"Berapa wanita itu membayarmu?," pertanyaan Azka membuat pelayan itu pias.


"A-apa maksud tuan?."


"Aku bisa memastikan kamu dipecat malam ini juga kalau kamu tidak mengakui perbuatanmu."


"J-jangan tuan. Saya punya adik yang harus saya biayai. Saya mengaku salah, saya hanya disuruh."


Azka menyeringai, "Bagus! Aku suka kejujuranmu! Kalau kamu tidak mau dipecat, kamu harus melakukan sesuatu."


"A-apa yang harus aku lakukan tuan?."


"Berikan minuman yang sama pada wanita itu. Dan jangan berani - beraninya kamu mengelabuhiku. Kalau sampai kamu melakukannya, aku tidak segan - segan membuat hidupmu menderita.


"B-baik!."


Azka kembali masuk kedalam ruangan. Dan bertepatan dengan tuan Adam yang pamit lebih dulu.


"Senang bertemu denganmu, tuan Azka."


"Saya juga senang bertemu dengan anda tuan Adam!."


Mereka berjabat tangan, "Sampai bertemu lain waktu!."


Azka langsung duduk disamping Saga. Dia bisa melihat jika Seno sudah tampak gelisah. Dia dan Saga saling lirik, "Bang, kita seperti mucikari yang akan mempertemukan anak asuh dengan klien nya." Saga terkekeh,


"Sekarang kamu cek kondisi Salwa. Kalau beres, kita segera eksekusi. Lihatlah, Seno sudah seperti cacing kepanasan!."


"Laksanakan komandan!."


Saga segera berdiri, dia mengintip dibalik pintu, lalu Azka dan mengacungkan jempolnya.


"Sen, Salwa ada didepan. Kamu masih bisa mengendalikan diri kan?."


Seno menatap Azka, "Kamu mencampur obat dalam minumanku?."


Azka terkekeh, "Bukan aku. Tapi wanita pujaan hatimu. Sebenarnya, ... Minuman itu dia tujukan padaku. Tapi karena aku berbaik hati padamu, aku memberikannya untukmu!."


"Kau memang sialan, Ka."


"Sudahlah, cepat keluar. Dan nikmati malam panjang kalian!."


Sekaut tenaga Seno berusaha menahan diri. Panas tubuhnya membuat tubuhnya terasa panas.


"Ka!."


"Salwa!."


Salwa menarik lengan Seno, dia membawa pria itu menuju kamar yang sudah dia pesan.


"Ka, aku kangen. Akhirnya kita bisa bertemu lagi!."


"Sal, apa yang kamu lakukan?."


"Aku sudah lama menantikan hal ini. Aku tahu kamu masih mencintai, sama seperti aku yang sangat mencintaimu."


"Apa yang kamu katakan?."


"Stttt, jangan berisik. Aku tidak mau kamu banyak bicara. Ayo kita tidur bersama!."


"Maksud mau apa?."


"Jangan berlagak polos, kamu bukan anak kecil yang tidak paham apa yang aku maksud."


Salwa membuka bajunya lalu menyerang pria didepannya. Tak menyia - nyiakan kesempatan. Seno yang juga dalam pengaruh obat membalas serangan Salwa tak kalah liar.


"Kamu yakin mau melakukan ini denganku?," tanya Seno setengah sadar.


"Lakukan, aku rela kehilangan kehormatanku kalau itu denganmu."


Salwa kembali memagut bibir Seno, "Baiklah, tapi jangan pernah menyesal karena kamu sendiri yang memberikannya!."


"Aku siap, Ka!."


Seno tidak peduli walau nama Azka yang Salwa sebut. Yang terpenting setelah ini dia akan memiliki Salwa segera.


Sementara diluar kamar, Azka dan Saga saling memandang kala terdengar suara khas malam indah.


"Tugas kita sudah selesai, aku harus segera pulang. Aku juga ingin menghabiskan malam indah dengan istriku!."


Saga mendelik, "Kalian memang sialan. Sudah sana, pulang. Aku mau kembali ke hotel saja."


Flash Back Off


"Jadi kamu ikut andil dalam kejadian yang menimpa Salwa?," tanya Salsa menyelidik.


"Aku hanya mengarahkan Salwa pada pria yang tulus mencintainya. Tidak mungkin aku yang akan bermalam dengannya kan?."


Azka menutup mulutnya kala Salsa mendelik ke arahnya. "Oh, jadi kalau tidak ada pria yang mencintai Salwa dengan tulus, kamu mau bermalam dengannya?."


Glek


Astaga, aku salah bicara. Ucap Azka dalam hati


"Tuan Azka Ibrahim yang terhorma, nikmati puasa anda seminggu penuh!."