
Setelah berbincang sebentar dengan Karmila. Azka pamit pulang. Dia tentunya harus kembali ke hotel dulu karena penerbangan ke Ibukota belum ada. Azka sempat menertawai takdirnya, niatnya menjadi detektif gadungan gagal karena Salsa yang ternyata lebih dulu kembali ke Jakarta.
"Kamu membuatku semakin rindu, sayang. Awas kalau sampai kita bertemu, aku akan menghukummu," ucapnya lalu memejamkan mata.
Keesokan harinya, pagi - pagi sekali Azka sudah bersiap. Sebulan ditinggal oleh istri tercinta membuatnya terbiasa melakukan semuanya sendiri. Wajah tampannya tampak berbinar, raut bahagia menyelimuti hati Azka. Dia sudah tidak sabar bertemu dengan Salsa.
Memakai taksi online, Azka berangkat menuju bandara. Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya pesawat membawanya terbang kembali ke Ibukota.
Senyum tak henti membingkai wajah tampannya kala kakinya telah menginjak ibukota. Azka sudah menghubungi sopir dan meminta dijemput di Bandara.
"Silahkan masuk, Tuan."
"Terima kasih, Pak."
Sebentar lagi kita akan bertemu, honey. Aku sungguh merindukanmu.
Tidak sampai satu jam, mobil yang membawa Azka telah sampai di rumah. Berharap Salsa menyambutnya, nyatanya semua hanya harapan. Rumahnya masih tampak sepi seperti sebelumnya. Benarkah Salsa sudah pulang, kalau benar, kenapa tidak ada tanda - tanda keberadaan wanita itu.
Azka segera memasuki rumah. Sama, suasana rumahnya masih sepi.
"Anda sudah pulang, tuan."
"Dimana istriku?," tanya Azka langsung.
"Maksud tuan, nyonya Salsa?."
"Tentu saja. Memang istriku ada berapa?," jawab Azka sedikit kesal.
Bibi menatap Azka bingung, "Bukankah nyonya pergi."
Deg
Azka segera berlari menuju tangga. Dengan tergesa tangannya membuka handle pintu setelah tiba didepan kamar. Sepi, lebih tepatnya kosong. Harapan yang sebelumnya ia bumbung tinggi kini sirna diterpa kenyataan. Apa Karmila membohonginya.
Harusnya aku tidak langsung percaya. Salsa tidak ada dirumah, ucap Azka dalam hati.
Pria itu kembali menatap kamarnya lesu. Kenangan indahnya bersama Salsa kembali terlintas. Bagaimana awal pernikahan mereka. Bagaimana keduanya berjanji akan menghabiskan waktu hingga tua. Bahkan saat Salsa meninggalkannya begitu saja, Azka tak diberi kesempatan melihat istrinya untuk terakhir kalinya. Bukankah ini tidak adil.
*
*
"Jangan di uyel - uyel pipinya. Nanti merah!," peringat Salwa
Salsa hanya terkekeh sembari kembali mencium bayi mungil tersebut. "Semoga anakmu tidak menuruni sifatmu yang galak."
Seno hendak tertawa namun langsung urung karena pelototan sang istri. "Ck, kau tidak pernah mendatangiku, sekalinya datang kau bersikap sangat menyebalkan."
"Hehe, bukannya aku tidak mau datang. Tapi kamu yang sepertinya tidak mau menerima kehadiranku."
Salwa memberenggut, "Ck, itu dulu. Sekarang kakak boleh datang kapan saja. Tapi jangan lupa, bawakan hadiah untuk keponakan cantik mu ini."
"Ish, sayang. Kamu dengar? Mamamu matre sekali."
"Kak, jangan berbicara sembarangan didekat putriku. Sini, dia harus minum susu dulu."
"Sayang, jangan begitu. Ini pertama kalinya kak Salsa kemari. Wajar kalau dia gemas melihat anak kita," ucap Seno
"Tuh, dengerin suamimu," sahut Salsa sambil menyerahkan bayi Salwa
Salwa menimang bayinya sambil menyusui bayi cantik itu. Seno memilih keluar dan membiarkan mereka mengobrol berdua agar lebih akrab.
Salsa menatap Salwa yang tampak bahagia mendekap bayinya. Dia juga berubah menjadi wanita yang lebih lembut dan keibuan. "Kamu hidup bahagia sekarang?," pertanyaan Salsa membuat Salwa menatapnya.
"Tentu saja. Aku bersyukur karena memiliki suami seperti Seno. Kami sama - sama sebatang kara. Jadi, kami tidak akan menyia-nyiakan kebahagiaan yang kami miliki saat ini."
"Hei, siapa bilang kamu sebatang kara. Kamu punya Mama, Papa dan juga aku. Kita adalah keluarga. Jadi jangan pernah lagi berkata seperti itu."
Salwa tersenyum, "Ya, kakak benar. Aku masih punya kalian. Dan itu adalah kebahagiaan yang sempurna. Ditambah suami dan anak yang semakin melengkapi kebahagiaanku saat ini."
Salsa tersenyum, "Aku senang karena akhirnya kamu bahagia."
Salwa menatap bayinya yang perlahan memejamkan mata, "Ya, hidup tidak ada yang tahu. Siapa yang mengira aku akan menjadi istri Seno. Dan kami memiliki bayi cantik ini. Awalnya aku mencintai Azka dan berharap akan menjadi pendamping hidupnya. Semua berjalan tidak seperti yang kita rencanakan. Tapi aku tidak menyesali takdir ku. Karena sekarang, aku sudah menemukan kebahagiaan yang aku cari selama ini. Tidak peduli bagaimana dan dengan cara apa kebahagiaan itu datang. Satu yang pasti, kita akan hidup bahagia jika selalu bersyukur dengan apa yang kita punya."
"Tentu saja. Kebahagiaan kita, kita sendiri yang menciptakannya."
Salwa tersenyum, perlahan dia menaruh bayinya kedalam box. "Oh ya, aku dengar kakak hamil. Azka pasti senang sekali."
Deg