
Salsa sudah berada di ruang make up, ditemani Gita dan Anya, perempuan cantik itu sedang dirias oleh MUA.
Azka sendiri sudah siap, dia terlihat begitu gagah dengan setelah jas warna putihnya. Senyum tak henti menghiasi bibir pria tampan tersebut.
"Nanti gigimu kering kebanyakan senyum, Bang."
Azka melirik adiknya, lalu kembali tersenyum. "Iri, bilang! Dasar jomblo!."
"Ck, jangan bawa-bawa status. Abang menikah juga karena MBA."
Azka menatap tajam kepada adiknya, "Tapi Abang bahagia tuh. Setiap orang kan punya cerita sendiri bagaimana dia bertemu dengan jodohnya."
Saga mendengus kesal, "Terserah Abang. Semoga aku tidak mengikuti jejak Abang dalam menemukan jodohku kelak. Tapi yang jelas, aku selalu mendoakan kebahagiaan Abang bersama kakak ipar. Jangan lupa buatkan aku keponakan yang lucu, yang banyak dan jangan yang seperti Abang. Aku mau yang seperti kakak ipar saja!."
Azka berdecak, "Kenapa kalau seperti Abang? Bukankah Abang ini tampan? Keponakanmu jelas akan menuruni Abang, entah wajah atau sifatnya."
"Maksud Abang, sifat tidak pekanya, begitu?," ledek Saga. Azka tak menggubris. Dia sibuk melihat tampilannya dari balik cermin. "Oh ya, jangan lupakan mantan Abang yang obsesi itu. Dia selalu punya rencana licik untuk mengusik rumah tangga Abang!," peringat Saga.
"Tenang saja. Abang akan selalu waspada. Abang tahu, dia akan melakukan apapun untuk mengusik rumah tangga kami. Jika dia bermain halus, Abang akan melakukan hal yang sama!," Azka menyeringai.
"Dia pasti kebingungan dan malu untuk keluar sekarang!," Saga terkekeh mengingat kejadian semalam.
"Acara akan segera dimulai. Pengantin wanita sudah siap," asisten MUA memberitahu Azka.
Dua kakak beradik itu segera keluar dari kamar. Sesampainya didepan kamar, Azka mematung. Dia begitu terpesona melihat kecantikan istrinya yang sudah ada didepannya. Salsa tampak begitu anggun dengan kebaya putih panjang yang ditaburi permata dibagian dada. Make up flawless begitu pas dengan kulit wajahnya yang putih. Aura kecantikannya terpancar jelas, ditambah senyum manis yang membuatnya semakin mempesona.
"Bang, lap air liurmu!."
Azka seketika tersadar dari lamunannya, dia tersenyum malu karena ditertawakan Bunda dan Mertuanya.
"Salsa cantik kan, Bang?," tanya Gita menggoda.
"Harusnya aku dulu yang memujinya, Bun!," keluh Azka
Gita dan Anya terkekeh pelan, "Ya sudah, kami masuk dulu ya. Nanti kalian ikuti instruksi dari MUA." Gita dan besannya segera memasuki ruangan, diikuti Saga yang mengekori Bundanya.
Azka menghampiri istrinya. Menatap lekat wajah cantik yang menjadi candunya itu.
"Kamu sangat cantik, sayang," puji Azka.
Salsa tersenyum manis, "Kamu juga tampan, Mas."
"Aku sangat beruntung mendapatkan istri cantik sepertimu!."
"Kamu selalu saja gombal."
Azka terkekeh, "Aku serius. Kamu memang cantik, apalagi kalau lagi menari diatasku seperti semalam."
Blush
Wajah Salsa seketika merona, dia kembali mengingat malam panasnya bersama sang suami semalam.
"Aku ingin mengulangnya nanti malam," bisik Azka.
"Kamu selalu saja mesum, Mas. Jangan membahasnya sekarang. Malu kalau ada yang dengar!," protes Salsa.
Azka mencubit hidung istrinya gemas. "Tidak ada orang. Semalam saja kamu mendes-- Awh, sakit sayang," ringis Azka karena Salsa mencubitnya.
"Itu hukuman karena kamu bicara tidak tahu tempat," ucap Salsa kesal.
"Uluh-uluh, istriku marah nih ceritanya. Baiklah, nanti malam biar Mas yang menguasai permainan."
"Mas, ih!!," Azka semakin tertawa.
Dua insan itu terlihat begitu bahagia, aura kebahagiaan begitu terpancar dari kedua mempelai.
"Sudah waktunya, resepsi akan segera dimulai. Pengantin bisa memasuki balroom sekarang," instruksi MUA
Azka memberikan tangannya, kemudian Salsa menyambutnya dengan melingkarkan tangannya dilengan sang suami. Keduanya berjalan menuju balroom diiringi senyum tak tak pernah henti.
Semua mata tertuju pada pasangan pengantin yang baru saja memasuki ruangan. Pujian tak henti mereka lontarkan atas kekaguman pada pasangan tersebut. Salsa begitu cantik, sangat cocok bersanding dengan Azka yang tampan.
Suasana begitu meriah. Nuansa putih begitu kentara disana. Karena selain dekorasi ya yang serba putih, dresscode tamu undangan juga berwarna putih. Hanya keluar besar yang menggunakan baju berwarna putih kombinasi tosca.
Berbagai hidangan disiapkan untuk para undangan. Tak lupa dengan hiburan yang mendatangkan artis papan atas, Rossa dan Tulus sebagai pengisi acara.
Para tamu perlahan menaiki pelaminan untuk mengucapkan selamat. Mereka juga memberikan doa terbaik untuk Azka dan istrinya.
Kebahagian juga terpancar dari wajah Dirga dan Gita, mereka bersyukur karena akhirnya Azka menemukan pendamping sejatinya. Salsa adalah gadis yang baik. Bahkan dia mampu merubah Azka menjadi sosok yang lebih dewasa.
"Semoga mereka selalu diiringi kebahagiaan. Dan semoga Allah segera mengganti cucu kita yang sudah di surga," ucap Dirga.
Disisi lain, Danar menatap haru kebahagiaan putrinya. Sebagai seorang Ayah, dia belum sempat membahagiakan putrinya. Tapi sekarang semua tugas itu justru diambil alih suaminya. Ada rasa menyesal karena baru saja menemukan Salsa. Bahkan Danar merasa gagal menjadi Ayah. Selain itu, kematian cucunya juga masih membayanginya hingga sekarang.
"Mas," sapa Anya. Danar menatap istrinya lalu tersenyum, "Aku ayah yang gagal. Belum sempat membahagiakannya, sekarang tugasku sudah diambil alih suaminya," ucap Danar lirih.
Anya menyentuh tangan sang suami. Dia tahu rasa bersalah Danar begitu besar pada putri kandungannya, "Kamu masih bisa menebus kesalahanmu. Kamu masih bisa membahagiakan putri kita. Dia tetaplah anak kita walau dia sudah menikah."
Danar mengangguk pelan, hatinya bahagia melihat kebahagiaan putri kandungnya. Danar berharap Salsa akan selalu bahagia bersama Azka.
"Oh ya, dimana Salwa? Sejak tadi dia belum terlihat."
"Ah ya, dimana ya? Aku akan lihat ke kamarnya dulu."
Anya segera keluar dari ruang acara, dia menuju ruang kamar Salwa menginap. Saga yang melihat hal itu langsung mengikuti Anya.
Tok tok tok
"Sal, kamu didalam, Nak?."
Ceklek
Terlihat Salwa masih mengenakan gaun biasa.
"Kenapa kamu masih memakai baju itu? Kenapa belum bersiap? Acara sudah dimulai sejak tadi," keluh Anya
Salwa terlihat bingung harus menjawab pertanyaan Mamanya. Semua keluarga memakai baju berwarna putih kombinasi tosca, dan sekarang dirinya tidak memilikinya. Memakai warna lain akan membuatnya mencolok, mau membeli - pun sudah tidak ada waktu.
"Ayo, sekarang Mama bantu kamu ganti."
Anya akan masuk kedalam kamar Salwa sebelum suara Saga membuatnya terkejut.
"Sepertinya, Salwa kehilangan bajunya, Tante."
Anya menatap adik menantunya dengan bingung, "Kehilangan bagaimana?."
Saga menatap Salwa yang terlihat gugup. Gadis itu masih mematung didepan pintu.
"Apa benar yang Saga katakan, Sal? Baju kamu hilang?."
Saga tersenyum sinis kearah Salwa. Perempuan itu terlihat menghela nafas,
"S-sebenarnya, aku tidak sengaja merusak bajunya, Ma!."
Flash Back On
Salwa masuk kedalam kamar fetting. Dia melihat gaun yang terpasang rapi pada sebuah manequin. Salwa mengira baju itu milik Salsa.
Dia tersenyum jahat, ditangannya sudah ada sebuah gunting tajam yang langsung dia goreskan pada gaun tersebut. Senyuman menyeringai terbit dari bibir tipisnya.
"Aku pastikan, acara kalian akan batal. Hahaha, bagaimana bisa acara berlangsung jika gaun sang mempelai wanitanya rusak!!."
Salwa segera keluar dari kamar tersebut dengan senyum kemenangan. Saat Salwa sudah tidak terlihat, Saga segera masuk kedalam kamar itu. Dia menatap gaun malang itu dengan senyum miris.
"Gaun sebagus ini harus bernasib tragis. Hancur sebelum digunakan!."
Saga mengambil pembungkus gaun lalu memasukkan gaun itu kesana. Tak lupa memberikan tulisan nama Salwa Adiaksa.
"Hahah, kasihan sekali. Kamu harus melewatkan momen bahagia Bang Azka dan Kak Salsa."
Saga segera keluar dan kembali ke ruang makan.
Flash Back Off
"Bagaimana mungkin kamu tidak sengaja merusaknya Sal? Apa yang sebenarnya terjadi?."
"Kalau tante ingin tahu yang sebenarnya, sebaiknya minta rekaman CCTV," Saga meninggalkan ibu dan anak tersebut.
Salwa terlihat semakin gugup saat Anya menatapnya dengan tajam, "Apa kamu sudah melakukan hal buruk?," tanya Anya mengintimidasi
Salwa gelagapan, "T-tentu saja tidak, Ma. Mama menuduhku melakukan hal buruk?."
Anya menghela nafas, sekarang bukan waktunya berdebat. "Baiklah, kamu bisa menjelaskan ini nanti. karena gaunmu rusak, pakai saja gaun yang kamu bawa."
"Tapi Ma. Aku akan terlihat mencolok berada disana. Sebaiknya aku dikamar saja!."
Anya menatap Salwa tak percaya, "Apa kata orang kalau kamu tidak hadir. Orang akan berfikir kamu belum Move on dari kakak iparmu! Sudah cepat pakai gaunmu, memang kamu bawa gaun warna apa?."
"M-merah!."