Night Destiny

Night Destiny
Anugerah Terindah



Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Usia kehamilan Salsa sudah memasuki sembilan bulan. Menurut perkiraan dokter, dia akan melahirkan satu minggu lagi. Azka sudah mengambil cuti, begitupun dengan Gita dan Anya yang sesekali menginap dirumah mereka. Kamar bayi sudah mereka siapkan berikut dengan segala keperluannya.


Diusia kehamilan tua, kaki Salsa mulai bengkak, dia juga mulai kesulitan berjalan. Sebagai suami, Azka selalu siap siaga menjaga istrinya. Mengambilkan apapun yang Salsa perlukan.


"Sayang, sudah aku bilang. Kalau butuh apa-apa, katakan padaku. Kamu jadi kesusahan kan, harus jongkok begini," keluh Azka.


Salsa memutar bola mata malas, menurutnya, Azka berlebihan. "Mas, kamu ingat kata dokter kan? Aku harus banyak gerak. Cuma ambil sisir yang jatuh aja, kamu udah protektif. Kalau aku cuma dia aja, rasanya malah aneh."


"Ya tapi, kan kamu akhirnya nunduk - nunduk begitu. Punggung kamu bisa nyeri."


Salsa tak menanggapi ucapan suaminya. Dia kembali menyisir rambutnya yang masih basah. Sesuai arahan dokter, mereka boleh melakukan olahraga malam agak sering agar jalan bayi lebih terbuka. Dan tentunya, itu tak Azka sia - siakan.


Mata Azka membulat saat melihat air dibawah kaki istrinya, "Sayang, kamu pipis?."


Pertanyaan Azka membuat Salsa menatap kebawah, dia melihat ada air yang cukup banyak dari kakinya. "Mas, sepertinya ketuban ku pecah."


Azka mulai panik, dia langsung menggendong istrinya keluar kamar. "Bunda!."


Gita yang mendengar teriakan putranya segera menghampiri mereka. "ASTAGA, apa Salsa akan melahirkan?," tanyanya tak kalah panik.


"Bunda tolong bawa perlengkapan bayinya. Aku akan jalan duluan kerumah sakit."


Gita mengangguk, dia langsung masuk kekamar Azka dan mencari keperluan cucunya. Sementara Azka langsung menuju kerumah sakit diantar sopir.


"Sayang, kamu tahan ya. Apa sakit?."


Salsa menggeleng, "Sakitnya hilang datang, Mas. Cuma nyeri biasa, belum terlalu sering. Mungkin belum pembukaan."


Azka berusaha setenang mungkin, walau Salsa tidak terlihat kesakitan, namun ia yakin jika istrinya akan segera melahirkan.


"Suster!." teriak Azka ketika mereka tiba dirumah sakit. Seorang suster datang sambil membawa brangkar, lalu dengan cepat Azka membaringkan istrinya disana.


"Kami akan melakukan pengecekan sembari menunggu dokter datang. Kalau bapak mau menemani istrinya didalam silahkan."


Azka mengangguk, dia setia mendampingi istrinya didalam ruang bersalin. Azka merasa ngilu, kala suster mengecek kondisi istrinya dengan memasukkan tangannya ke jalan lahir. Apalagi melihat istrinya yang sedikit meringis.


"Sudah pembukaan berapa, sus?," tanya dokter yang baru saja datang.


"Lima dok."


"Sekarang masih jam delapan. Kemungkinan bayi akan lahir jam dua belas. Kalau masih kuat, ibu bisa jalan jalan sebentar biar pembukaannya lebih cepat. Kalau nyerinya sudah sangat sering, ibu bisa tiduran dengan posisi miring."


"Apa tidak bisa dipercepat dok, istri saya terlihat kesakitan." tanya Azka


Dokter tersenyum, "Ini proses alami pak, setiap wanita yang akan melahirkan, mengalaminya. Seperti yang saya katakan, bisa jalan-jalan dulu agar pembukaannya lebih cepat. Kalau begitu, saya tinggal dulu, setengah jam lagi saya akan datang kembali"


Azka terlihat frustasi, dia tidak tega melihat Salsa yang mulai berkeringat sesekali meramas lengannya.


"Sayang, kita operasi saja ya. Aku tidak tega melihatmu kesakitan."


Salsa menggeleng sambil tersenyum, "Aku menikmati momen ini sayang. Aku ingin menjadi ibu yang sempurna karena bisa melahirkan anakku dengan normal. Lagipula, sakitnya hanya sebentar. Setelah anak kita lahir, semua rasa sakit ini akan terbayar lunas."


Azka mengangguk pasrah, dia hanya mampu berdoa semoga anaknya segera lahir.


"Mas, aku mau jalan - jalan sebentar diluar."


Dengan sigap Azka membantu istrinya berjalan. Diluar ruangan sudah ada Gita, Dirga, Danar dan Anya.


"Sayang, sudah pembukaan berapa? Kamu masih kuat kan?." tanya Anya


Salsa mengangguk, "Aku kuat kok, Ma. Jangan khawatir. Tadi kata dokter masih pembukaan lima."


Mereka hanya mengangguk, terlihat jelas wajah para orang tua itu cemas. Mereka hanya bisa melantunkan doa agar anak dan cucu mereka baik - baik saja.


"Mas, aku mau kembali ke kamar."


Azka mengangguk, dia kembali menuntun istrinya menuju perbaringan. Seperti saran dokter, perempuan itu tidur dengan posisi miring. Sesekali dia menggigit bibir bawahnya ketika sakit itu mulai mendera. Semakin lama semakin sering sakit itu menyerang.


"Saya akan periksa lagi pembukaannya."


Dokter kembali mengecek pembukaan Salsa. Dan perempuan itu kini tersenyum, "Sudah pembukaan sempurna. Pasien akan segera melahirkan. Suster, tolong siapkan semuanya."


Setelah persiapan selesai, dokter membimbing Salsa agar bisa segera melahirkan. Tidak hanya keringat diwajahnya, nafas Salsa yang kadang tercekat karena mengejan membuat Azka dilanca cemas luar biasa. Jantungnya sejak tadi berdegup dengan keras. Tangannya terasa dingin bahkan tubuhnya lemas. Hanya saja, dia tidak mau menunjukkan semua itu dihadapan sang istri. Sebagai seorang suami, dia harus bisa memberi semangat dan menguatkan Salsa.


"Sedikit lagi, Bu. Kepala bayinya sudah terlihat."


"Sayang, kamu kuat. Kamu pasti bisa."


Suara tangis bayi menggema keseluruhan ruangan. Salsa merasa begitu lega, begitupun dengan Azka yang kakinya langsung lemas seketika. Pria itu luruh disamping ranjang sang istri. Dia menatap Salsa yang kini menitikkan air mata.


"Selamat, Pak, Bu. Bayinya berjenis kelamin laki-laki, sehat tanpa kekurangan satu apapun."


Azka mengangguk, dadanya kembali berdetak cepat melihat bayinya yang baru saja diangkat dari rahim sang istri. Anaknya masih merah, bahkan ditubuh mungilnya masih banyak darah. "Kamu hebat, sayang. Terima kasih sudah berjuang melahirkan buah cinta kita."


"Aku sudah menjadi wanita sempurna, Mas. Kini aku sudah menjadi seorang ibu."


Tangis keduanya pecah, apalagi saat sister menyerahkan bayinya diatas dada Salsa.


"Anak bunda."


Salsa kembali menitikkan air mata bahagia. Apalagi saat bayinya mulai menyesap ****** dadanya yang bahkan dia yakini belum mengeluarkan asi.


Setelah melakukan Inisiasi Menyusui Dini. Bayi Salsa kembali diambil suster untuk dipakaikan pakaian. Begitupun dengan Salsa yang kini sedang dibersihkan. Sementara diluar ruangan juga heboh, saat mereka mendengar tangis bayi menggema. Para kakek dan nenek itu sudah tidak sabar untuk melihat wajah cucu mereka.


Tak berapa lama, ruang bersalin terbuka. Salsa yang berada diatas brangkar didorong suster untuk dipindahkan keruang perawatan. Dibelakang mereka juga ada seorang suster yang mendorong box bayi mereka.


"Wah, tampannya cucuku. Lihat, Mas dia seperti kamu," ucap Gita antusias.


"Dia lebih mirip Mas Danar, Mbak." sahut Anya tak mau kalah.


"Sudah, sebaiknya kita segera mengikuti mereka," putus Danar.


Para orang tua itu langsung mengekor dibelakang suster. Setibanya di ruang perawatan, ke empatnya langsung menghampiri cucu mereka.


"Selamat, sayang. Sekarang kamu sudah menjadi seorang ibu. Anak kalian tampan sekali."


"Terima kasih, Bun. Semua berkat doa kalian juga."


"Mama bahagia sekali, sekarang cucu Mama sudah sepasang. Anak kalian sangat tampan."


Salsa dan Azka hanya tersenyum, begitupun dengan dia pria yang berusia paruh baya itu. Mereka terlihat bahagia walau tidak secerewet para wanita.


"Keluarga kalian sudah lengkap. Setelah ini, peran kalian adalah menjadi orang tua. Didik dan besarkan anak kalian dengan penuh cinta dan kasih sayang."


"Kami akan selalu mengingat ucapan Ayah."


Mereka kembali terdiam,


"Mana keponakanku?." heboh Saga yang baru datang.


"Sini lihat, Ga. Dia tampan seperti Azka."


Saga mendekati box bayi dimana keponakannya berada. "Dia terlihat tampan," puji Saga


"Bukan terlihat, tapi dia memang tampan," koreksi Azka.


Saga terkekeh, "Baiklah. Keponakanku memang tampan. Siapa nama ditampan ini?."


Ah benar, mereka menatap Azka dan Salsa penasaran. Azka mengulum senyum, "Namanya Gavin Arkana Ibrahim."


*


*


*


Lima Tahun Kemudian.


Kehidupan Azka dan Salsa, kini semakin sempurna dengan kehadiran anak kedua mereka, Naykara Camelia Ibrahim. Lengkap sudah hidup keduanya. Azka dan Salsa dikaruniai dua orang anak laki-laki dan perempuan.


"Terima kasih atas kebahagiaan luar biasa yang kamu berikan padaku, sayang. Karenamu, hidupku semakin sempurna. Aku mencintaimu, Salsabila. Aku juga mencintai anak kita Gavin dan Kara."


"Love You Too, Atharrazka Ibrahim. Tetaplah menjadi suami dan ayah yang hebat untuk kami semua."


END


*


*


Akhirnya, novel ini tamat ya kakak. Terima kasih atas dukungannya selama ini. Tanpa kalian aku bukanlah siapa-siapa. Terima kasih juga yang sudah memberikan like, komen juga hadiah dan vote nya. Aku tidak bisa membalas semua kebaikan kalian. Aku hanya bisa berdoa, semoga kakak kakak semua selalu sehat, rejekinya lancar dan selalu dalam lindungan-Nya. Amin