Night Destiny

Night Destiny
Seno Ardian



Seorang pria sedang memandangi foto seorang perempuan diponselnya. Senyum seketika terbit melihat wanita pujaan hatinya itu.


"Pak Seno, Anda sedang senang? Sejak tadi anda senyum - senyum sendiri," sapa rekannya.


"Saya hanya mengingat seseorang, Pak Irham."


"Wah, sepertinya dia begitu spesial ya. Semoga lancar sampai hari H ya Pak Seno."


"Terima kasih atas doanya. Kalau begitu, saya ke kelas dulu."


Seno berjalan ke ruang kelas dimana dia akan mengajar. Sebagai seorang dosen, dia cukup terkenal karena ketampanannya dan banyak gadis yang mengidolakannya. Sayang, semua hanya numpang lewat karena Seno hanya mencintai satu gadis sejak dulu hingga sekarang.


"Baiklah, kelas kita mulai!."


Seno menjelaskan materi tentang ekonomi Bisnis pada mahasiswanya.


"Ada pertanyaan?."


"Pak Seno, boleh kencan minggu ini nggak?."


"Hu ....!," sorakan terdengar memenuhi ruang kelas.


"Baiklah, karena tidak ada pertanyaan, saya akhiri pelajaran hari ini."


Seno meninggalkan kelas dengan langkah gagah. Karena tidak ada jam mengajar lagi, dia memutuskan untuk pulang. Namun sebelumnya, dia akan mampir ke kantor Azka untuk membicarakan sesuatu.


Perjalan dari kampus sampai ke kantor Azka memakan waktu setengah jam lebih karena macet. Setibanya disana, Seno langsung mengunjungi Resepsionis dan meminta bertemu dengan Azka.Setelah diizinkan masuk, Seno langsung berjalan menuju ruangan temannya itu.


"Kamu sudah sayang?."


"Iya. Kebetulan aku sudah tidak ada kelas," sahutnya lalu duduk.


Azka langsung meminta sekertarisnya membawakan mereka minum. Dua gelas kopi tersaji diatas meja lengkap dengan camilan yang akan menemani pembicaraan mereka.


"Jadi apa rencanamu selanjutnya? Salwa menolak perjodohan kalian. Tapi aku yakin kamu tidak akan menyerah begitu saja."


Azka menatap Seno sejenak. "Kamu tahu resikonya kan? Salwa begitu keras kepala, dia juga menolakmu dengan keras. Kali ini pun dia pasti akan menolakmu lagi."


Seno menghela nafas, "Aku tahu. Tapi aku mencintainya, dan aku mau dia kembali menjadi wanita baik seperti dulu. Walaupun ketus, dia memiliki hati yang baik."


Azka menepuk pundak temannya itu, "Kamu harus sabar. Bahkan kedepannya harus lebih ekstra sabar. Semoga doamu segera dikabulkan dan kalian akan segera bersama."


Seno mengangguk, tidak mudah memendam perasaan sebelah pihak. Dia mencintai Salwa, tapi Salwa mencintai Azka. Dan Azka mencintai istrinya, Salsa. Dunia begitu rumit dan sulit, tapi bukan hidup namanya kalau tanpa cobaan. Lagipula, dia tidak bisa mundur karena sudah membulatkan tekad. Cinta bisa datang seiring berjalannya waktu, itulah keyakinan Seno.


"Minumlah dulu supaya pikiranmu lebih tenang."


Azka menatap Seno dengan lekat. Pria itu memang mengutarakan niatnya untuk melamar Salwa, bahkan orang tua Seno yang merupakan rekan bisnis Danar sudah membicarakan perjodohan mereka. Namun rupanya Seno belum beruntung, karena Salwa mengatakan sudah punya kekasih, jadi perjodohan mereka tidak jadi dilanjutkan.


"Sen, aku harap ada keajaiban. Allah maha membolak - balikkan hati. Aku harap itu juga terjadi pada Salwa. Semoga dia bisa melihat ketulusanmu"


"Semoga saja. Sekarang dia hanya diliputi perasaan obsesi padamu. Dan aku yakin, suatu saat dia bisa merasakan ketulusanku."


Sementara yang dibicarakan sedang memuntahkan semua isi perutnya. Salwa terlihat begitu lemas. Sejak tadi dia tak henti memuntahkan isi perutnya.


"Aku kenapa? Apa mungkin masuk angin?."


Salwa kembali duduk di tepi ranjang. Matanya tak sengaja menatap kalender yang ada diatas nakas.


"Aku telat seminggu."


Salwa segera mengambil sesuatu di tasnya, kemudian kembali masuk kedalam kamar mandi. Dia mencelupkan alat tersebut kedalam urin yang sudah dia tampung dalam wadah.


Salwa nampak tegang, dia menunggu dengan perasaan deg - degan.


Matanya membulat melihat hasil dari tes nya.


"Astaga ... Aku ....!"