Night Destiny

Night Destiny
Tahu Semuanya



"Bagus itu. Asal bukan suami orang saja!."


Semua menatap ke arah Saga.


"Maksud kamu apa bicara seperti itu? Kamu menuduhku ingin kembali bersama Azka?," tanya Salwa tak terima.


"Ga, Ayah tidak suka kamu berbicara seperti itu pada Salwa. Minta maaf sekarang!," ucap Dirga tegas.


Saga diam dengan wajah santai, "Apa yang salah dengan ucapanku? Sekarang aku tanya? Apa aku mengatakan kalau Kak Salwa ingin kembali pada Bang Azka? Tidak kan? Dia saja yang terlalu sensitif!."


"Kamu memang tidak mengatakannya secara gamblang Ga. Tapi tetap saja membuat kami mengira ke arah sana!," sahut Gita


"Ya sudah, aku minta maaf Kak. Aku juga minta maaf pada Om Danar dan tante Anya. Aku tidak bermaksud berkata demikian."


Anya dan Danar hanya tersenyum, walau dalam hati mereka cukup terkejut dan tidak nyaman dengan ucapan Saga.


"Lain kali jangan asal bicara. Kamu bisa menyinggung perasaan orang lain," lanjut Salwa


"Baiklah, aku akan selalu mengingatnya."


"Ga, jangan bercanda untuk hal yang sensitif. Salwa adikku, dan adik ipar Mas Azka. Mana mungkin dia masih ada rasa pada Mas Azka. Kalau masih ada rasa, tentu dia akan menyelinap ke kamar kami diam-diam!."


Semua orang kembali memandang Salsa, begitupun dengan Azka yang jantungnya berdetak begitu cepat.


"Aku hanya bercanda!," ucap Salsa kemudian tersenyum.


"Sayang, kamu membuat kami terkejut!," sahut Anya.


"Hehe, bercanda dikit biar suasana nggak terlalu tegang, Ma."


Salsa melirik Salwa yang terdiam sambil mengepalkan tangan. Dia tersenyum seolah mengejek gadis itu. Lalu tersenyum kepada suaminya. Senyum yang menurut Azka sangat mengerikan dan baru pertama kali Salsa tersenyum seperti ini padanya.


"Ya sudah, silahkan dilanjutkan makannya," perintah Dirga.


Acara makan siang kembali berlanjut, mereka kembali memakan makanan masing-masing. Tanpa ada yang tahu, Saga tersenyum menyeringai pada Salwa.


Awas kau Saga, aku akan membuat perhitungan denganmu!. Dan juga padaku, Salsa. Gumam Salwa dalam hati.


Setelah acara makan siang bersama selesai. Keluarga Danar langsung pamit pulang. Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah.


"Sal, kamu benar sudah punya pacar?," tanya Anya meyakinkan


Salwa mengangguk malas, "Sudah Ma. Tunggu saja sebentar. Nanti kalian akan tahu siapa orangnya!," sahutnya dengan enggan.


"Baguslah, Papa senang kamu sudah Move On, jadi kami tidak perlu melanjutkan rencana perjodohanmu."


"Kalian berencana menjodohkan aku? Dengan siapa?," tanya Salwa terkejut.


"Kami hanya ingin kamu segera Move On, tapi rupanya kamu sudah lebih dulu punya pasangan. Jadi kami tidak akan memaksamu menerima perjodohan yang kami rencanakan."


Kalian akan terkejut jika tahu siapa calon suamiku.


Salwa kembali dengan pikirannya tentang masa depannya bersama Azka. Masa bodoh dengan sikap mereka nanti, yang jelas, Salwa hanya ingin hidup bersama Azka. Seperti impiannya sejak awal.


Sedangkan dirumahnya, Salsa memasang mode curiga pada suaminya. Azka yang ditata demikian terlihat salah tingkah.


"Sayang ... Kenapa kamu memandangku seperti itu?," tanya Azka sedikit gugup.


"Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu saat pergi ke kota S kan?," tanya Salsa menyelidik. Bahkan alis wanita itu terangkat sebelah.


"Maksud kamu apa? Menyembunyikan apa?."


Salsa kembali memandang suaminya. Tapi kali ini lebih menyeramkan. "Aku tahu semuanya, Azka Ibrahim. Kamu disana bertemu dengan Salwa kan? Apa yang kalian lakukan saat itu?."


Azka tergelak, "Kamu menyuruh detektif memata-matai aku?."


"Lebih tepatnya, intel yang memberikan info akurat dan seratus persen dapat dipercaya!."


Azka tertawa keras, "Apanya yang lucu?," tanya Salsa dengan kesal. Wajahnya bahkan ditekuk seperti martabak manis.


"Kamu takut terjadi sesuatu dengan kami disana?," goda Azka


Salsa melipat tangannya di depan dada, "Sebagai seorang istri, wajar kalau aku curiga. Kalian sempat menjalin hubungan begitu lama. Bahkan hampir menikah."


Azka meraih bahu istrinya lalu membuat Salsa menatap ke arahnya. "Kamu masih ingat apa yang aku minta padamu?."


"Kepercayaan!."


"Jadi?."


"Tetap saja rasa curiga itu ada. Aku manusia biasa, walau aku memberi kepercayaan penuh padamu tetap saja tidak bisa menghilangkan rasa khawatir di hatiku. Seorang istri harus selalu siap siaga menghadapi hama dan penyakit rumah tangga!."


Tawa Azka menguar, "Selingkuh maksudnya?," Salsa mengangguk. "Dengarkan aku! Aku Azka Ibrahim, tidak akan pernah menduakan Salsabila Safitri apapun yang terjadi. Dan kalau aku melanggar janjiku. Aku bersedia dihukum apapun!," ucap Azka dengan tegas.


"Termasuk memotong King?."


Azka menegang seketika, membayangkan saja membuatnya ngilu. Apalagi merasakannya. Ah, lagipula itu tidak akan terjadi. Dia mencintai Salsa dan selamanya tidak akan menduakan wanita itu.


"Tentu. King jaminannya kalau aku sampai menduakanmu."


"Aku percaya padamu, Mas. Sangat. Aku percaya kamu tidak akan pernah mencurangi dan mengkhianati aku. Tapi sebagai wanita, bolehkan aku sedikit curiga dan cemburu?."


Azka memeluk istrinya dengan erat. "Boleh, bahkan sangat boleh. Kalau kamu melakukan hal itu, itu artinya kamu benar-benar mencintai aku. Dan aku justru bersyukur karenanya."


"Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu!."