Night Destiny

Night Destiny
Rencana Yang Gagal



Salwa mematut dirinya didepan cermin. Dengan dress selutut serta riasan natural membuatnya terlihat cantik. Tak lupa senyum yang selalu dia kembangkan sejak tadi.


"Ok, Sal. Waktunya mendapatkan kembali milikmu yang sempat hilang. Mari kita bersiap!."


Gadis itu mengambil tas lalu berjalan keluar kamar.


"Mau kemana, pagi-pagi sudah rapi?."


"Ada urusan sebentar, Ma!."


"Sepertinya kamu bahagia sekali hari ini? Apa ada sesuatu yang membuatmu senang?."


Salwa tersenyum, "Mama benar. Hari ini aku senang sekali. Nanti aku akan menceritakannya pada Mama. Aku harus pergi sekarang!."


Anya menatap kepergian putrinya dengan tatapan penuh tanya. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Anya segera mengambil tas, dompet dan juga ponselnya. Dia mengikuti Salwa diam-diam.


"Salwa mau kemana sebenarnya?," tanya Anya dalam hati.


"Pak, jangan sampai Salwa tahu kalau kita mengikutinya," sang sopir mengangguk. Dia menjaga jarak aman dari mobil nonanya.


Mobil yang dikendarai Salwa masuk ke perumahan elit. Entah siapa yang akan dia temui.


Tepat didepan rumah gerbang warna putih berlantai dua, mobil Salwa berhenti. Dia terlihat berbicara dengan penjaga keamanan. Setelah penjaga membuka gerbang, Salwa melajukan mobilnya masuk.


"Apa kita juga akan masuk, Bu?."


"Tidak usah, kita tunggu disini saja. Kalau Salwa tidak juga keluar, baru kita susul kedalam!."


Salwa memarkirkan mobilnya digarasi. Perempuan itu kembali melihat penampilan dari kaca spion mobilnya.


"Ok, perfect. Kamu sudah siap, Sal!."


Perempuan itu turun dari mobil sambil membawa amplop yang kemarin dia dapatkan dari orang suruhannya.


Tangannya terulur memencet bel rumah tersebut, hingga beberapa saat terlihat sahutan dari dalam.


"Cari siapa, ya?," tanya pembantu tersebut.


"Saya mencari Azka dan Salsa. Apa mereka ada dirumah?."


"Ada. Silahkan masuk!."


Salwa melenggang memasuki rumah tersebut, dia memperhatikan hiasan dan dekorasi rumah yang tampak menawan.


Harusnya aku yang tinggal disini, bukan perempuan itu.


"Itu tamunya, tuan!."


Azka dan Salsa menatap perempuan yang menghadap ke jendela tersebut.


"Hallo, Sayang!," Salwa mendekati Azka dan Salsa yang cukup terkejut dengan kedatangannya.


"Salwa. Apa yang kamu lakukan disini?," tanya Azka.


Salwa tersenyum, dia menatap Salsa dengan sinis. "Aku kemari untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku!."


Azka menatap Salwa dengan jengah, berbeda dengan Salsa yang menatap Salwa dengan sendu.


"Kita tidak punya urusan lagi. Jadi sebaiknya kamu pulang!," Azka sungguh tak tertarik dengan kedatangan Salwa.


"Benarkah?," alis gadis itu terangkat sebelah, "Tapi aku rasa, kamu akan tertarik dengan apa yang aku bawa!."


Salwa memberikan amplop yang dibawanya pada Azka. Dengan malas, Azka mengambilnya. Pria itu membukanya sambil melirik Salwa yang tersenyum ke arahnya.


Netra Azka membulat, wajahnya memerah menahan amarah.


"Ada apa, Ka?," tanya Salsa yang melihat perubahan raut wajah suaminya.


"Kenapa diam, Ka. Berikan foto-foto itu pada istrimu. Kita lihat, apa dia masih mau bertahan dengan pria sepertimu!."


Salsa merebut foto yang Azka pegang. Matanya membulat melihat foto mesra suaminya dan Salwa yang tidak mengenakan busana.


"Apa ini, Ka?!."


Azka tersenyum remeh pada Salwa. "Kamu bahkan melakukan hal rendahan seperti ini hanya untuk kembali padaku? Kamu pikir cara ini akan berhasil?."


"Ka, apa benar semua ini?," tanya Salsa pada sumianya.


Salsa mengangguk, walau perasaannya gelisah dan tak karuan. Namun dia berusaha mempercayai suaminya.


"Kamu mau menyangkal semuanya? Apa kamu lupa, kita pernah liburan ke villa. Dan disanalah kita melakukannya!."


"Kita memang pernah liburan ke villa--!."


Salwa kembali menatap Salsa dengan sinis, "Kamu dengar, kan. Azka mengakuinya. Di villa kami tidak hanya berlibur, tapi juga menghabiskan malam bersama. Kamu masih mau bertahan dengannya? Dia bahkan tidak hanya tidur denganmu, tapi juga denganku. Sayangnya, aku tidak seberuntung dirimu yang pernah mengandung anaknya."


Salsa menatap suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan, "Benarkah yang Salwa katakan, Ka?."


"Aku tidak perlu menjawabnya. Aku hanya perlu kepercayaanmu!."


Salsa memandang adiknya, "Azka tidak mengakuinya. Sekarang apa maumu?."


Salwa merasa tertantang, dia tidak mengira jika Azka maupun Salsa tidak gampang menyerah. "Tentu saja Azka harus menikahiku. Aku bahkan siap jika harus menjadi istri kedua!."


Azka tertawa renyah, lalu memandang Salwa dengan tatapan menghina, "Kau bahkan merendahkan harga dirimu hanya demi seorang pria. Caramu sungguh rendah, Salwa. Kalau kamu berfikir caramu akan berhasil kamu salah, pria itu bukan aku. Aku tidak memiliki bekas luka seperti pria yang ada difoto itu"


Salwa membelalak, dia memang hanya meminta foto editan itu pada temannya. Salwa bahkan tidak mengecek jika pria itu memiliki tanda luka yang tentunya tidak Azka miliki. Tapi dia tidak mau menyerah, Azka hanya miliknya. Apapun akan Salwa lakukan demi mendapatkan Azka sekalipun harus menjatuhkan harga dirinya.


"Sal, jangan menyakiti dirimu sendiri. Pria di dunia ini bukan hanya Azka. Masih ba--!," ucap Salsa


"Semua ini karena kamu. Harusnya kamu tidak hadir dalam hubungan kami. Harusnya kamu tidak menghancurkan mimpi kami. Kamu merusak semuanya. Kamu!!," teriak Salwa. "Kamu dengan mudah mengatakan hal itu. Kamu bahkan tidak tahu bagaimana rasanya jadi aku. Dasar wanita murahan!!."


Azka mengepalkan tangan, dia berniat menghampiri Salwa, namun Salsa menahannya.


"Aku hanya mencintaimu, Ka. Kenapa kamu malah tetap bersamanya? Aku bahkan rela jadi istri kedua asal bisa bersamamu!."


Azka meraup wajahnya frustasi, "Kamu salah, Sal. Cara kamu salah. Aku sudah menikah dan aku tidak pernah dan tidak ingin menikah lagi apapun alasannya. Aku mohon berhenti mengejarku. Cobalah buka hatimu untuk pria lain."


"Segampang itukah kamu melupakan semua kenangan kita? Kamu bahkan baru mengenalkan sekali, tapi kamu lebih memilihnya daripada aku. Aku harus apa agar kamu kembali padaku, Ka?," Salwa mulai terisak


Jujur Salsa iba melihat Salwa. Bagaimanapun gadis itu adalah adiknya dan Salsa bisa melihat betapa besarnya cinta Salwa untuk suaminya.


"Ka, bisakah kamu menerima Salwa dan melupakanku?."


"Apa maksud perkataanmu? Tidak. Aku tidak akan pernah melakukannya!," tolak Azka tegas


"Tapi cintanya padamu begitu besar, Ka. Cintanya lebih besar dari cintaku untukmu!."


Salwa tersenyum dibalik tangisannya, rencananya berhasil. Dan ia yakin Salsa akan meninggalkan Azka sekarang.


"Kamu belum mengenalnya, Sa. Dia itu bahkan lebih licik dari ular!."


Azka sungguh menyesal pernah berencana menikahi Salwa. Untung saja takdir membukakan jalan untuknya. Dan dia justru bertemu wanita sempurna seperti Salsa.


"Nikahi aku, Ka. Nikahi Aku!!." Salwa menyerang Akza, dia berusaha mencium pria itu namun Azka dengan sigap menolak. Salsa pun dibuat terkejut dengan sikap nekat Salwa.


"Hentikan, Sal!."


Plak


Azka terperangah begitupun dengan Salwa.


"Kau berani menamparku?."


"Itu karena sikapmu yang keterlaluan!! Kamu bahkan lebih murahan dari wanita penggoda!."


Salwa tertawa, "Kamu mengatai dirimu sendiri? Apa kamu tidak berkaca sebelum berbicara? Lebih murahan mana aku dengan dirimu yang bahkan rela merangkak ke ranjang seorang pria bertunangan!!."


"Sal, sebaiknya kamu pulang. Jangan buat keributan dirumah ku!."


Ucapan Azka sama sekali tidak Salwa indahkan, "Kamu lebih murahan daripada aku, Salsa. Berkacalah sebelum menghina orang. Jangan jadi orang sok suci jika kenyataannya kamu itu rendah. Ah, tentu saja. Kamu wanita yang tidak jelas asal usulnya, bukan. Tidak menutup kemungkinan kamu anak wanita simpanan atau pe*lacur!."


"Salwa, jaga ucapanmu. Yang kamu hina itu adalah anakku!."


*


Mampir ke novel baruku yuk,