
Azka nampak semangat pagi ini. Setelah dua hari dirawat dirumah sakit, kini dia diperbolehkan pulang. Wajahnya tampak berbinar. Rambut Azka yang awalnya agak gondrong, kini sudah dipotong rapi. Aura kebahagiaan tergambar jelas diwajah tampannya. Dan itu membuat Azka semakin terlihat tampan.
"Bang, kamu kayak orang stres senyum sendiri dari tadi," cibir Saga
"Iri bilang, bos!."
"Cih ... Yang udah sembuh dari galau. Sombong amat bro!."
Gita tersenyum melihat Akza yang kembali bersemangat menjalani hidupnya. Dia juga sudah mengetahui perihal Salsa melalui Saga. Dirga pun segera meminta anak buahnya mencari keberadaan sang menantu. Dan benar, dia ada di kota itu.
"Jadi, kamu mau langsung menemui Salsa, Bang?," tanya Gita
"Tidak, Bun. Mungkin ... Aku akan melihatnya dari jauh dulu. Jika dia punya cara sendiri untuk menghukumku. Akupun punya cara sendiri untuk merindu."
Gita kembali tersenyum, "Apapun itu, Bunda yakin, kamu dan Salsa akan bersatu kembali. Dan kalian akan hidup bahagia."
"Memang butuh perjuangan untuk mencapai kebahagiaan, Bang. Tidak ada yang instan dan tidak ada yang lurus jalannya. Semua butuh proses yang berliku. Dan hal kemarin yang terjadi, bisa kamu jadikan pelajaran agar kamu menjadi manusia yang lebih dewasa dan lebih baik lagi," timpal Dirga
"Setuju kata Ayah, Bang. Satu lagi, kamu juga harus belajar buat lebih peka. Jangan sampai sikap bodohmu itu kembali akan menghancurkan hidupmu!."
Azka mengapit leher adiknya lalu tersenyum, "Tentu saja, Ga. Abang akan jadi pribadi yang lebih baik lagi. Dan Abang tidak akan mengulang kesalahan yang sama."
Dirga dan Gita tersenyum, "Sekarang ayo kita ke bandara. Pesawat kamu berangkat satu jam lagi kan?."
Azka mengangguk, setelah semua urusan administrasi selesai, Azka dan keluarganya masuk ke mobil.
Jika bertanya apa Danar menjenguk Azka? Jawabannya ya. Pria itu dan istrinya datang kemarin sore, dia meminta maaf atas keegoisannya. Namun sayang, Danar sama sekali tidak menyinggung Salsa. Tidak masalah bagi Azka, toh dia sudah tahu dimana Salsa berada.
Perjalanan menuju bandara tidak memakan waktu lama. Setelah tiba disana, Azka segera masuk. Jika saja tidak sibuk, Gita dan Dirga pasti akan menemani putranya.
"Hati-hati, Bang. Jangan lupa kirimkan foto Salsa nanti."
"Abang pasti akan mengirimkan foto kak Salsa pada kita, Bun. Dia akan menjelma menjadi detektif yang handal!."
"Dan aku akan membawa kakak iparmu segera pulang!."
"Baiklah, aku masuk dulu. Kalian pulanglah. Bunda dan Ayah jangan lupa istirahat."
Setelah berpamitan dengan keluarganya, Azka masuk kedalam. Dia sudah tidak sabar ingin melihat istrinya.
Tunggu aku sayang, aku akan datang menjemputmu pulang.
*
*
Salsa tengah menikmati makannya, duduk menghadap hamparan sawah yang luas membuatnya merasa tenang. Tapi ada yang berbeda dengan dirinya hari ini. Salsa merasa dirinya begitu senang, padahal dia tidak melakukan apapun.
"Kamu mau nambah?."
"Tidak, Bu. Aku sudah kenyang."
Wanita paruh baya itu menemani Sasa duduk, mereka mengobrol banyak hal sambil tertawa.
"Kamu tidak merindukan suamimu?," tanya Karmila ditengah obrolan mereka.
Salsa tersenyum sendu, rindu? Tentu saja. Apalagi dirinya yang sekarang sedang hamil. Tapi mau bagaimana, hatinya masih sakit dengan perbuatan Azka.
"Tidak baik membuat masalah berlarut - larut. Saran ibu, cobalah belajar ikhlas. Ikhlas dengan semua masalah yang terjadi. Dan berlapang dada menerima semuanya. Apapun maslaha yang menimpamu itu adalah jalan yang sudah Dia takdirkan. Semua tidak akan bisa dirubah dan kembali. Bukankah hidup terus melangkah kedepan. Kalau kamu masih terjebak dengan masa sekarang, bagaimana kamu akan menjalani hari esok?."
Salsa bungkam, sebenarnya apa yang dia ucapkan Karmila benar. Masalahnya dengan Azka sebenarnya hanyalah kesalahpahaman. Sebagai seorang istri, harusnya dia tidak bertindak sesuka hati. Masalah akan selesai jika dibicarakan dengan baik. Dan sekarang, dia malah lari dari masalah. Bagaimana jika Azka tidak mau menunggunya. Bagaimana jika ada wanita lain yang bisa memahami Azka saat dirinya tak ada.
Salsa mulai dilanda kecemasan. Pikiran negatif mulai memenuhi isi kepalanya.
"Bu...," Karmila menoleh, "Aku akan kembali ke Jakarta!."
*
Kira-kira, Azka dan Salsa jadi ketemu tidak ya?