
"Sebagai seorang wanita, harusnya kamu menjunjung tinggi harga dirimu, bukan merendah seperti ini. Dengarkan aku baik-baik, sampai kapanpun Mas Azka tidak akan pernah menikahimu. Tidak bahkan meski dalam mimpi sekalipun!."
"Kau tidak bisa menentukan keputusan ini. Aku dan Azka akan menikah, dengan atau tanpa restu darimu!," ucap Salwa.
Danar memejamkan mata, selain malu dia juga merasa gagal mendidik putri bungsunya.
"Kau tidak--!."
"Salwa diamlah!," bentak Danar, ucapan Salwa langsung berhenti mendengar bentakan dari Papanya. Danar menatap Salwa dengan tatatan yang sulit diartikan. Entah kecewa, sedih bahkan marah, semua bercampur menjadi satu.
"Dengarkan Papa baik - baik. Kamu sekarang sedang mengandung anak dari Seno. Dan yang akan menikahimu adalah Seno. Kalian akan menikah besok."
"Papa tidak bisa mengambil keputusan sepihak. Aku juga punya pendapat. Dan aku tidak setuju dengan keputusan Papa!," tolak Salwa.
"Seno, kamu akan bertanggung jawab bukan?," pertanyaan Danar diangguki oleh Seno. "Bagus, kalau begitu, besok kamu harus menikahi Salwa!."
"Aku tidak mau dan aku menolak!," ucap Salwa bersikeras.
"Jangan buat Papa lebih malu dan marah melebihi hari ini, Salwa. Keputusan Papa sudah final. Besok kamu dan Seno akan menikah."
Salwa menatap orang tuanya dengan benci, "Kalau begitu, aku akan menggugurkan anak ini. Aku tidak mau mengandung anak Seno!."
Deg
Anya memegang dadanya yang terasa nyeri. Begitupun dengan semua orang yang tak kalah terkejut dengan ucapan Salwa.
"Kamu mau menggugurkan bayi tidak berdosa itu? Dia tidak bersalah, Sal. Kamu dan Seno yang bersalah. Kenapa kamu mau melenyapkan darah dagingnya sendiri?," tanya Salsa dengan nada tak percaya.
Salwa tertawa sinis, "Aku tidak mau mengandung bayi dari benih pria lain selain Azka. Tidak akan!," ucapnya sambil menatap Seno dengan tajam.
"Maaf Om, Tante. Saya rasa, hari ini juga saya akan menikahi Salwa. Melihat sikapnya, saya khawatir dia akan berbuat nekat. Setelah menikah, saya akan langsung membawa Salwa kerumah saya. Dan saya pastikan, saya akan menjaganya dengan baik."
Salwa semakin menatap Seno dengan benci,
Salwa memberontak, dia berusaha menyerang Seno. Dia bahkan berhasil memukul Seno beberapa kali.
"Gita, Salsa. Tolong bawa Salwa ke kamar!," perintah Danar. Dua wanita itu segera mendekat dan memegang Salwa. Dibantu Anya yang turut membawa putrinya memasuki kamar.
"Kunci pintunya dan pastikan dia tidak bisa keluar!."
"Aku tidak mau! Papa jahat! Papa sudah tidak menyayangiku lagi! Lepaskan!!."
Salsa dan Gita akhirnya berhasil mengurung Salwa dalam kamar tamu. Gedoran pintu tak henti terdengar begitupun teriakan Salwa.
"Didalam tidak ada barang - barang membahayakan kan?," tanya Danar. Ia hanya khawatir Salwa akan mengamuk. Dan memecahkan semua barang yang ada dikamar itu.
"Tidak ada, Pa. Kebetulan kamar tamunya baru didekor ulang. Jadi belum ada barang - barang membahayakan!
Danar mengangguk lega. Pria itu mengambil ponselnya dan langsung menghubungi seseorang, lalu menatap Seno dengan serius. "Aku setuju dengan idemu. Sebentar lagi, akan ada ustad yang datang. Kalian akan menikah siri dulu, untuk berkas yang harus di urus ke KUA biar menjadi urusanku!."
"Mas, kamu yakin dengan keputusanmu?," tanya Anya
"Aku yakin, lagipula Salwa harus menerima semua kenyataan yang ada. Mungkin dengan menikah, dia bisa menerima semuanya. Dan aku yakin, Seno bisa merubah Salwa menjadi lebih baik lagi."
"Saya tidak bisa memberikan janji, Om. Tapi saya akan berusaha sekuat tenaga."
"Maaf kalau kedatangan kami membuat gaduh dirumah mu, Ka. Tapi setidaknya, Papa harap setelah ini Salwa tidak lagi mengusik kehidupan kalian."
"Tidak apa - apa Pa. Semua memang perlu diluruskan agar tidak terjadi kesalah pahaman."
Danar tersenyum, inilah jalan terbaik menurutnya.
"Seno, kalau boleh tahu. Bagaimana bisa kamu bermalam dengan putriku?."
Glek