
"Astaga ... Aku ... Hamil."
Perasaan Salwa begitu membuncah, senyum langsung terbit di bibirnya.
"Akhirnya impianku akan terwujud, kita akan segera bersatu, Ka. Sayang, terima kasih sudah hadir dalam perut Mama," ucap Salwa sembari mengelus perutnya yang masih rata.
Wanita itu segera mengambil tas dan kunci mobil. Ia bersenandung sambil menuruni anak tangga.
"Keliatannya kamu senang sekali, ada apa sayang?," tanya Anya.
Salwa tersenyum, "Ma, sebantar lagi aku akan menikah."
Perkataan Salwa sontak membuat Anya terkejut. "K-kamu akan menikah? Dengan siapa? Kekasihmu itu?," cecar Anya.
Salwa mengangguk, "Iya Ma, aku akan menikah dengannya. Sungguh aku bahagia sekali, Ma. Aku akan menikah dengan pria yang kucintai."
Anya mengerutkan dahi, "Siapa sih kekasih kamu, sayang. Kalau kalian akan menikah, kenapa tidak kamu kenalkan pada Mama dan Papa?."
"Belum waktunya Ma. Tapi setelah ini, Mama pasti akan bertemu dengan orangnya kok."
"Mama jadi tidak sabar untuk menemuinya!," ucap Anya antusias.
"Ya sudah, Ma. Aku mau keluar sebentar."
"Mau kemana? Menemuinya?."
Salwa menggeleng, "Ada urusan sebentar."
"Ya sudah, hati - hati."
Anya yang begitu bahagia langsung menghubungi suaminya. Menceritakan kabar bahagia yang datang dari putri bungsunya.
Sedangkan Salwa sendiri melajukan mobilnya kerumah sakit. Dia ingin membuktikan lebih jelas tentang kehamilannya. Dan segera memberitahukan semua orang.
Setibanya dirumah sakit, Salwa langsung menuju poli kandungan. Antriannya cukup banyak, dan dia harus rela menunggu giliran.
"Mau periksa kehamilan ya Mbak?," tanya ibu - ibu hamil disampingnya.
Salwa mengangguk lalu tersenyum, "Iya bu. Untuk lebih memastikan kalau saya memang hamil."
"Wah, apa ini anak pertama? Kelihatannya iya ya?." Salwa kembali mengangguk,
"Suaminya mana? Biasanya di kehamilan pertama, suami yang paling senang."
Salwa tersenyum tipis, "Dia bekerja, Bu. Dan rencananya saya akan memberinya kejutan nanti."
"Wah, pasti suamimu sangat senang?."
"Ibu Salwa," obrolan mereka berhenti karena nama Salwa dipanggil. Perempuan itu berjalan santai memasuki ruangan dokter bernama Dea Risa itu.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?."
"Saya ingin memeriksakan kehamilan saya, dok. Tadi saya sudah mengeceknya menggunakan testpeck. Tapi saya ingin lebih yakin lagi."
Dokter Dea tersenyum, "Kapan terakhir anda datang bulan?."
"Bulan lalu dok, dan saya sudah telat satu minggu."
"Biiklah, kita tensi dulu lalu saya akan memeriksa kandungan anda."
Salwa berbaring diatas ranjang. Setelah dokter mengukur tensi darahnya. Dokter Dea mulai melakukan USG.
"Nah, bisa dilihat ya, Bu. Ini yang hitam adalah bayinya. Usianya baru tiga minggu. Dan semuanya baik."
Salwa langsung tersenyum penuh arti, "Jadi saya memang hamil dok?."
Salwa tak mampu membendung kebahagiaannya. Dia merasa sangat senang sekali.
Setelah memalukan pemeriksaan, Salwa segera melajukan mobilnya untuk pulang. Sebelumnya dia sudah menghubungi Salsa dan meminta kakaknya untuk makan siang bersama dirumahnya. Namun karena Salsa sudah memasak, maka dia meminta Salwa yang datang kerumahnya. Kesempatan ini tentu tidak akan Salwa sia - siakan.
Mobil Salwa sudah memasuki pekarangan rumah kakaknya. Dia segera memakirkan mobilnya di depan garasi. Melihat mobil Azka ada disana, tentu Salwa merasa sangat senang.
Bersiaplah untuk kejutan dariku, sayang.
Wanita itu masuk kedalam rumah, dia melihat Azka berada diruang tamu bersama seorang teman yang Salwa kenal, dia adalah Seno. Pria yang sejak dulu menyukainya namun Salwa tolak mentah - mentah.
"Selamat siang, Kakak ipar?," sapa Salwa pada Azka.
Pria itu hanya diam dengan pandangan biasa, berbeda dengan Seno yang tersenyum ke arahnya. Merasa di acuh kan, Salwa memilih pergi ke dapur.
"Sal, kamu sudah datang?," sapa kakaknya.
Salwa mengangguk, "Kak, aku izin istirahat sebentar ya. Aku sedikit lelah."
"Ya sudah, kamu ke kamar tamu saja."
Wanita itu melenggang pergi, lebih baik dia tidur daripada harus membantu Salsa memasak. Lagipula, memasak bukan keahliannya.
Salwa tak benar-benar ke kamar tamu. Dia memandangi foto pernikahan Azka dan Salsa yang berjejer rapi di sepanjang tembok tangga. Dia tersenyum sinis, "Sebentar lagi, foto ini hanya jadi kenangan dan akan berganti dengan fotoku."
Salwa begitu percaya diri, dia mengamati sekeliling rumah Azka yang dia pikir akan jadi rumahnya juga sebentar lagi.
Salsa melihat mobil orang tuanya datang. Dan dibelakangnya ada mobil Dirga juga.
"Keberuntungan sekarang memihak padaku. Ayo bersiap Sal."
Wanita itu menuruni tangga dan menuju dapur.
"Loh, katanya mau istirahat. Kok nggak jadi?," tanya Salsa.
"Aku melihat Mama dan Papa sudah datang. Jadi aku urung istirahat."
"Ya sudah, kamu duduk saja. Makanannya sudah siap kok. Aku akan panggil yang lain dulu."
"Nggak usah dipanggil sayang. Kami sudah kemari," Gita beriringan dengan Anya dan dibelakang mereka ada Dirga juga Danar.
"Ya sudah, aku panggil Mas Azka dulu!."
Salsa segera memanggil suaminya, tak lama Salsa datang bersama Azka dan Seno. Wajah Salwa memandang tidak suka pada Seno. Namun diabaikan begitu saja oleh pria itu.
"Ayo duduk, Sen. Kamu harus coba masakan menantu Bunda. Masakannya enak sekali loh."
"Terima kasih, Bun. Aku senang karena diundang makan siang disini."
Salsa tersenyum ker arah suaminya,
"Nggak papa kak, kami memang sering makan siang bersama. Dan kebetulan hari ini mendadak Salwa ingin makan siang bersama, jadi sekalian aku undang yang lainnya juga," ucap Salsa.
"Sudah - sudah, sekarang sebaiknya kita makan. Sen, ayo makan. Anggap rumah sendiri."
Salsa mengambilkan makanan ke piring Azka dan itu tak luput dari pandangan Salwa.
"Sebenarnya, ada yang ingin aku sampaikan," ucap Salwa di tengah makan siang mereka.
"Ah ya, Salwa ada kabar baik untuk kita semua," sambung Anya.
"Kabar baik apa?," tanya Salsa penasaran.
"S-sebenarnya aku sekarang sedang hamil anak Azka."