
Salsa masih berkutat dengan masakannya. Hari ini hari pertama suaminya mulai bekerja. Tentu dia ingin mempersiapkan semuanya dengan baik. Menu nasi goreng sosis kesukaan Azka sudah tersaji diatas meja. Tak lupa telur mata sapi dan teh hangat kesukaan sang suami. Setelah semuanya siap, Salsa kembali ke kamar. Dia melihat Azka masih terlelap dengan nyaman. Salsa berjalan menuju tepi ranjang. Dia tersenyum menatap wajah teduh Azka yang begitu menggemaskan.
Salsa terperanjat saat Azka melingkarkan tangannya diperut. Pria itu bahkan menggeser kepalanya untuk mencari tempat ternyaman diperutnya.
"Mas, bangun yuk. Sudah siang loh. Hari ini kamu kerja, kan?."
Azka hanya menganggukkan kepala, matanya masih terpejam tapi Salsa tahu jika suaminya sudah bangun.
"Mas?."
"Lima menit. Aku suka berada diperutmu seperti ini, rasanya hangat sekali!."
Salsa membiarkan suaminya menikmati kenyamanan yang dia inginkan. Tak lupa Salsa mengusap rambut Azka yang membuat pria itu semakin nyaman.
"Sayang, kalau saja kamu sudah bisa. Aku ingin sekali kita main pagi-pagi."
"Awh ... kenapa kamu memukulku sih, yank?," protes pria itu.
Salsa terkekeh, "Habisnya, kamu selalu mesum. Pikiranmu pasti tidak jauh dari hal itu!."
Azka tertawa, "Kan aku pria normal, sayang."
"Justru itu yang aku takutkan."
Azka berubah posisinya menjadi duduk. Dia menatap manik mata sang istri yang terlihat cemas. "Apa yang kamu takutkan? Sikapku? Aku hanya seperti ini padamu yank."
Salsa mengelus pipi Azka dengan lembut, "Aku takut tidak bisa mengimbangimu, sayang. Kamu terlihat menggebu - gebu. Aku takut--!."
"Aku tidak akan pernah menodai pernikahan kita. Aku janji itu, jadi buang jauh-jauh pikiran burukmu. Aku tidak akan tergoda pada wanita manapun. Kamu tahu betul aku mencintaiku, jadi jangan pernah meragukan aku!."
Salsa memeluk suaminya, "Entah kenapa, aku selaku takut jika menyangkut tentangmu, Mas. Kamu begitu sempurna, tentu banyak yang menginginkan dirimu."
"Tapi aku hanya mencintai kamu. Aku akan selalu setia padamu."
Salsa tersenyum, dia mengecup sekilas bibir Azka. "Aku tahu, dan aku harus mempersiapkan diri untuk melawan lebah-lebah liar yang menawarkan madunya padamu!."
Azka terkekeh, "Aku akan dengan senang hati dijaga olehmu, sayang. Aku suka kamu protektif terhadapku. Aku akui, suamimu ini memang tampan, jadi kamu harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk melawan lebah-lebah nakal itu!."
Azka meraih tengkuk istrinya, memberikan pagutan lembut yang membuat Salsa melayang.
*
*
Azka begitu rapi dan tampan dengan setelan jas warna hitamnya. Setelah membantu suaminya bersiap, mereka turun ke meja makan. Azka duduk didepan istrinya, dia memperhatikan gerakan lihai Salsa yang tengah melayaninya.
"Silahkan dinikmati, tuan Azka. Semoga sesuai dengan selera anda."
Azka tertawa pelan, dia menatap menu buatan Salsa yang terlihat menggoda, "Terima kasih, nona Salsa. Sepertinya ini sangat lezat!."
Azka menyuap satu sendok sarapannya, lalu menatap Salsa dengan mata berbinar. "Masakanmu memang lezat. Aku selalu menyukainya."
"Eh ....!"
Azka menarik pinggang sang istri, membuatnya kini duduk dipangkuannya. "Kamu belum makan, kan?," Salsa menggeleng. "Kalau begitu, ayo makan bersama!."
"Aku duduk sendiri saja, Mas. Kamu belum selesai makan."
"Aku lebih suka kalau kamu disini," Azka tetap mengunci tubuh Salsa diatasnya. Pria itu kembali meraih tengkuk sang istri. Awalnya Salsa hanya diam, namun akhirnya dia terbuai dan mulai membalas ciuman suaminya. Bahkan tangannya sudah mengalung di leher Azka.
Dua insan itu seolah dimabuk cinta. Pagutan lembut itu membuat mereka melayang. "Kau selalu membuatku candu, sayang!."
"Mas, kamu harus ke kantor."
Azka tuli, dia kembali memagut lembut bibir sang istri. Sebagai pria normal, tubuh Azka menegang.
"Mas!! Kamu?."
"Inilah yang selalu aku rasakan jika bermesraan denganmu, sayang. Kamu membuatku cepat tegang. Tapi aku selaku berakhir dikamar mandi!."
Bukan kali pertama Salsa melihat hal ini. Azka pria normal, tentu dia akan terangsang dengan kegiatan mereka. Salsa juga baru tahu jika suaminya selalu main sendiri dikamar mandi. Pantas saja Azka selalu lama ketika sudah masuk kesana.
Salsa menarik tangan suaminya, membawa pria itu menuju kamar. Entah keberanian dari mana, Salsa mendorong Azka ke atas ranjang.
"S-sayang ... Kamu?," Azka sangat terkejut dengan apa yang istrinya lakukan. Tapi dia juga menikmatinya. Bahkan sangat menikmatinya.
"Aku tidak mau kamu berpaling dariku, Mas."
Azka melayang, tubuhnya terasa terbang ke langit ke tujuh. Ini pertama kalinya dia merasakan kenikmatan ini. Azka tidak menyangka Salsa sangat lihai dalam urusan seperti ini. Hingga beberapa saat, dia mengeluarkan mencapai titik puncak.
Nafas Azka terendah, begitupun dengan Salsa. "Kamu hebat sayang, darimana kamu belajar tentang ini?."
Wajah Salsa memerah, dia sendiri tak habis pikir dengan apa yang baru dia lakukan. Bahkan keberaniannya tadi seketika lenyap begitu saja.
"A-aku belajar dari internet!."
"Kenapa kamu berfikir untuk belajar hal ini?."
Salsa menunduk, Azka segera meraih dagu sang istri agar perempuan itu menatapnya. "Katakan, aku tidak akan marah kok!."
"S-sejak kamu mulai menunjukkan sikap hipermu, aku mulai membaca berbagai artikel. Disana banyak menjelaskan mengenai hal ini. Aku tahu kamu menahannya sendiri, Mas."
"Hahah, jadi kamu tahu semua yang aku lakukan?."
Salsa mengangguk, "Aku bukan remaja yang tidak peka situasi. Aku sangat paham dengan yang kau rasakan!."
Azka kembali mengulum senyum, "Kalau begitu, kamu harus dihukum karena membuatku bekerja sendiri!."
"Kenapa dihukum, aku bahkan sudah mengerjakan tugasku!," sahut Salsa memberenggut
Akza mendekatkan bibirnya ke telinga sang istri, "Itu karena King tegang lagi!."