Night Destiny

Night Destiny
Anak Azka?



"S-sebenarnya sekarang aku sedang hamil anak Azka."


Deg


Semua orang menatap ke arah Salwa. Begitupun dengan Salsa,


"M-maksud kamu apa bicara kalau kamu hamil anak Azka?," tanya Salsa dengan nada gemetar.


"Salwa, jangan mengarang cerita. Bagaimana mungkin kamu hamil anak Azka. Ternyata kamu belum bisa melupakan kakak ipar kamu!," tegur Danar.


"Mas, benarkah kamu menghamili Salwa?," tanya Salsa pada suaminya.


Azka menatap ke arah Seno, "Tentu saja tidak," jawab Azka tegas.


"Bohong! Jangan pernah menyangkal hal yang sebenarnya, Ka. Kita pernah tidur bersama, dan sekarang aku hamil anak kamu!."


Anya mendadak lemas, sekujur tubuhnya terasa seperti hilang dari raganya. "Bagaimana mungkin kamu hamil anak Azka, Sal. Berhentilah mengarang cerita!," pinta Anya lemah.


"Nya, biarkan kita dengar penjelasan Azka terlebih dahulu."


"Azka tidak mau mengakui kejadian malam itu di kota S, jadi dia tidak akan mengatakan yang sebenarnya!."


Salsa menatap tajam adiknya, "Jadi kamu menyusul suamiku ke kota S. Sebegitu terobsesinya kamu pada Azka sampai kamu membuang harga dirimu, Salwa!."


"Sekarang jelaskan pada kami, Mas. Apa yang sebenarnya terjadi di kota S. Benarkah kamu bertemu dengan Salwa dan menghabiskan malam bersama?."


Seno menghela nafas, "Kejadiannya tidak seperti itu."


"Tutup mulutmu, kamu tidak punya hak bicara disini!," pungkas Salwa.


"Sudah! Sekarang lebih baik jelaskan! Baik menurut Azka maupun Salwa!," putus Dirga


"Aku memang sengaja mengikuti Azka ke kota S. Aku tahu dia masih mencintai aku, makanya aku nekat pergi ke sana. Dan ternyata benar kan, kami masih saling mencintai, dan malam itu kami menghabiskan malam panjang bersama!."


Dada Salsa bergemuruh hebat, hatinya begitu sakit mendengar penjelasan Salwa. "Sekarang ceritakan menurut versi kamu Mas. Kalau cerita kalian sama. Aku siap mundur dan pergi dari kehidupan kamu!."


Azka menatap istrinya dengan sendu, ia tahu Salsa terpukul mendengar kabar ini.


"Aku memang bertemu dengan Salsa disana-!."


"Kalian dengar kan? Azka mengakui pertemuan kami!," ucap Salwa percaya diri.


"Bohong! Itu tidak benar! Aku tidak menyuruh siapapun memberikan obat pada minuman Azka. Kami bertemu malam itu, lalu mengobrol dan terbawa suasana lalu kami masuk kedalam kamar. Dan terjadilah malam itu hingga membuatku hamil!," ucap Salwa berdusta.


"Kamu pikir kami akan percaya padamu?," tantang Salsa


"Kenapa kalian harus meragukan aku. Aku berkata jujur. Azka dan aku sudah menghabiskan malam yang kini membuatku mengandung benihnya!."


"Salwa cukup! Kamu semakin membuat Papa malu. Kamu membuktikan bahwa Papa telah gagal mendidik kamu! Bagaimana bisa kamu berpikir untuk menjebak kakak ipar kamu. Kamu tahu, dia itu suami kakakmu!."


"Aku bukan adiknya! Aku tidak memiliki darah yang sama dengannya! Dia bukan kakakku. Dan sejak dulu, harusnya aku dan Azka sudah menikah kalau dia tidak mengacaukan semuanya!."


Anya memandang putri bungsunya dengan sendu, "Bukankah sudah kami katakan kalau kami tidak pernah menganggapmu anak angkat. Kamu putri kami, anak kami dan juga adik Salsa. Kenapa kamu tega berbuat hal seperti ini, Nak?."


"Itu karena aku mencintai Azka! Aku mencintainya sejak dulu, bahkan sebelum Salsa datang dan mengacaukan semuanya!."


Salsa menatap adiknya dengan sendu, dia marah dan kecewa. Tapi Salsa tak bisa menyalahkan perasaan. Ya, perasaan cinta adiknya pada sang suami yang memang sudah bersemi jauh sebelum dia hadir dalam hubungan mereka.


"Sal, Azka sudah menikah dan kini hidup bahagia. Kalau kamu memang mencintainya, ikhlaskan dia," ucap Gita.


"Kenapa tidak ada yang mau mengerti perasaanku. Kenapa semua mementingkan perasaan Salsa. A-aku hanya anak angkat, tidak bolehkan aku juga berharap bisa bahagia?."


"Sal, mencintai itu boleh, asal tepat pada tempatnya. Aku sudah menikah dengan kakakmu, jadi kalau kamu mencintaiku, relakan aku bahagia dengan Salsa."


Salwa menggeleng, "Aku tidak bisa. Bagaimana pun sekarang, kamu harus bertanggung jawab terhadap anak yang aku kandung!," pinta Salsa.


"Bertanggung jawablah jika memang bayi itu anakmu," ucap Salsa lirih.


"Kenapa aku harus bertanggung jawab bertahap bayi yang bukan darah dagingku!."


"Kenapa kamu selalu menyangkalnya? Kita tidur bersama malam itu dan sekarang aku hamil. Kenapa kamu malah ingin lari dari tanggung jawab!."


"Karena bayi itu bukan anak Azka. Tapi anakku!."


*


Wah, kira - kira, siapa yang ngomong ya?


Buat teman - teman, Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakannya ya. Minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan bathin 🙏