My MicroWife

My MicroWife
Introgasi Handoyo (1)



Malam itu Elea terlihat sangat sibuk membereskan peralatan sekolahnya, besok ia akan memulai hari pertamanya sebagai siswa kelas tiga SMA di SMA Harapan. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan teman-teman baru dan memulai kehidupan remaja yang seru.


Rupanya ia sudah sangat bosan hidup bersama pria dewasa yang sangat teratur dan membosankan. Ia bahkan tidak diijinkan jalan-jalan dan berkeliaran di sekitar apartemen karena takut menimbulkan banyak perhatian dan ketahuan tinggal berdua saja dengan Alfa.


Menyadari apartemennya tiba-tiba saja menjadi sepi dan damai, Alfa penasaran dengan apa yang dilakukan gasing kecil yang tinggal bersamanya itu.


Ia mengetuk kamar Elea dan melihat Elea tengah sibuk memasukkan gambar-gambar miliknya ke clear holder yang Alfa berikan. Alfa kemudian berinisiatif untuk membantu Elea melepas puluhan gambar yang tertempel di dinding kamarnya.


“Apa kau senang akan kembali ke sekolah barumu?”


“Jelaslah.. Mesti seneng banget punya teman dan guru baru. Ngga lagi cuma terkurung di tempat sempit seperti ini?”


“Apa? Apa kau baru saja bilang bahwa apartemenku sempit? Dan bahwa aku mengurungmu?”


“Apa aku salah?” Elea kembali merapikan gambarnya yang berserakan di lantai. “Mas Al ngelarang aku kemana-mana, sama seperti tahanan.”


“Itu karena –“ Alfa sampai tidak bisa berkata-kata lagi.


Apa yang ia lakukan selama ini adalah sebagai upaya untuk menjaga dan melindunginya dari hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi apa yang baru saja gadis itu katakan? Ia jadi terlihat seperti pria yang sangat jahat terhadapnya.


Elea masih saja asyik memasukkan gambar-gambarnya itu ke dalam holder tanpa ia sadari, ada sebuah gambar yang hilang.


Ting Tong! Bel apartemen Alfa berbunyi.


”Tunggu di sini! Pembicaraan kita belum selesai.”


Alfa bergegas membukakan pintu untuk tamu yang tidak tahu diri karena datang berkunjung malam-malam seperti itu.


“Han! Ngapain lo kesini malam-malam?”


Handoyo langsung berhambur masuk dan merebahkan dirinya di sofa super empuk milik Alfa yang menjadi favoritnya selama ini.


“Gue nginep sini ya?”


“kenapa lagi lo?”


“Aaaarghh..” Handoyo mengacak-acak rambutnya kasar. “Tara mergokin gue ngopi bareng Santi.”


“Ah... akhirnya Tara tahu juga kelakuan bejat suaminya.”


“Gue Cuma kebetulan ketemu Santi di kafe setelah ketemu klien. Gue ngga janjian sama Santi, Al. Lo tahu gue kan?”


Alfa mengangkat kedua bahunya. “Tara pasti lebih tahu lo daripada gue.”


“Sialan lo!” Handoyo melempar bantal ke arah Alfa.


“Kak, ini belum dipasang!” Elea tiba-tiba saja keluar dari kamar dengan menenteng seragam sekolah dan bet yang belum terpasang.


“Ah, sial!” Alfa lupa kalau ada Elea di rumahnya.


Handoyo langsung bangun ketika melihat Elea keluar dari kamar. “Kamu? –“


Ia tidak menyangka bahwa selama ini gadis itu tinggal berdua bersama sahabatnya di apartemen itu.


Alfa meraih tubuh Handoyo lalu mendorongnya untuk segera keluar dari apartemennya dengan halus, “Iya, itu Elea. Adik sepupu gue. Lo ingat kan?”


Bukannya pergi, Handoyo malah menepis tangan Alfa lalu mendekati Elea untuk memperkenalkan diri.


“Gue Handoyo. Sepupunya Alfa. Kita pernah ketemu di lift. Ingat?”


“Oh, iya. Saya Elea, Om. Salam kenal.”


Handoyo mendelik, “Om?!”


Alfa tidak kuasa menahan tawanya. Ia tahu persis apa yang Handoyo rasakan saat itu.


“El, tolong belikan air mineral di minimarket dekat perempatan, ya?” pinta Alfa


Alfa menggeleng cepat, “Rasa air mineralnya beda. Jadi belikan di minimarket yang dekat perempatan. Jangan yang di depan!”


Elea bergegas pergi setelah menerima uang dari Alfa. Ia tidak tahu bahwa air mineral di kota memiliki rasa yang berbeda di toko satu dengan yang lainnya.


“Jadi siapa dia sebenarnya?” tanya Handoyo layaknya tengah mengintrogasi tersangka tindak kejahatan.


“Apa?! Siapa?!”


***


Elea menyusuri jalanan sepi menuju minimarket di dekat perempatan. Ia masih saja tidak yakin dengan apa yang dikatakan Alfa. Ia sangat penasaran dengan air mineral di sana yang katanya memiliki rasa yang berbeda.


Di depan kasir Elea meneguk air mineral yang sudah dibayarnya karena penasaran.


“Kok rasanya sama saja?” tanya Elea


“Apa?” petugas kasir tampak tidak paham dengan apa yang Elea katakan.


“Loh kamu kan?”


“Huh! Lo lagi.” Petugas kasir itu terlihat kesal karena bertemu lagi dengan Elea.


“Cepet banget dapat kerjaan baru. Kamu hebat yah? Eh, kenalin, aku Elea.”


“Selamat datang di Indo***et, selamat berbelanja!” petugas kasir itu menyapa pelanggan yang baru masuk dan tampak tidak tertarik meladeni Elea.


“Kamu lagi sibuk yah?”


Elea memilih pergi dan tidak mengganggu kasir itu lagi.


Elea mengamati kemasan dan label yang sama persis dengan air mineral di toko lain. Sekarang ia baru sadar bahwa ia sedang ditipu dan dibodohi oleh Alfa.


Merasa kesal, Elea bergegas mempercepat langkahnya agar bisa segera tiba di rumah dan mengekspresikan kekesalannya kepada Alfa. Tapi karena perjalanan yang ditempuhnya dengan berjalan kaki itu cukup jauh, ia jadi merasa kelelahan dan kehabisan nafas.


Elea mengencangkan volume lagu yang didengarnya dengan headset, kemudian kembali melanjutkan perjalanannya. Sampai tiba-tiba saja seorang pemuda tampan dan dengan gagahnya meraih tubuh Elea lalu dengan sigap menahannya ke dalam dekapan.


"Kak Davian?"


Elea tidak mengerti kenapa pemuda tampan itu begitu mengkhawatirkannya padahal sepeda motor yang baru saja melintas tidak terlalu kencang dan juga tidak terlalu dekat jaraknya dengan Elea.


Apa mungkin ia sengaja menangkap Elea seperti adegan romantis di film-film karena diam-diam tertarik dengannya? Banyak pertanyaan berkecamuk di benak Elea. Tapi tiba-tiba saja pemuda itu menyadarkannya.


“Apa kau tidak ingin berdiri? Tanganku sudah kram karena terlalu lama menahan tubuh beratmu?!”


“Apa?!” Elea bergegas menarik diri dari dekapan pemuda itu lalu berdiri tegak dan merapikan penampilannya.


“Kamu kan? Kenapa kamu tiba-tiba saja narik aku kaya gitu? apa karena motor itu?” tanya Elea tersipu-sipu. Ia tidak percaya akan bertemu dengan Davian lagi.


“Tidak ada motor yang akan mencelakaimu.”


“Terus kenapa tiba-tiba kamu –“ Elea melihat dirinya tengah berjalan lambat di tengah jalan dan menghalangi mobil yang berjalan di belakangnya, “Maaf. Seharusnya kamu cukup menyalakan klakson saja. Ngga perlu repot-repot menarikku seperti tadi.”


Pemuda itu tampak kesal, lalu menarik earphone dari telinga Elea, “Apa kau bisa mendengar dengan jelas sekarang?”


Elea jadi merasa bersalah. Rupanya ia sudah benar-benar salah paham gara-gara earphone di telinganya. “Dasar bodoh!”


“Maaf ya?” Elea terus-terusan meminta maaf sembari membungkukkan badan lalu bergegas meninggalkan pemuda itu.


Sungguh memalukan, bagaimana mungkin ia berfikir bahwa ia sedang beradu adegan romantis dengan pemuda tampan itu padahal pemuda itu sedang sangat kesal dan berusaha menyingkirkannya dari jalanan karena menghalangi mobil mewahnya yang hendak melintas di jalan sempit itu.


Elea benar-benar malu. Tapi jauh di lubuk hatinya, ia merasa senang bertemu lagi dengan pemuda tampan itu. Pemuda itu jelas-jelas memiliki semua kriteria pemuda impiannya, tampan, tinggi dan romantis.


Ia yakin keputusannya memilih SMA sudah tepat. Meskipun tidak sehebat SH, SMA Harapan memiliki sosok pria yang sangat diidamkannya. Ia yakin masa remajanya akan sangat menyenangkan.


***