
Sementara itu, Erlita dan Jihan baru saja tiba di kantor Alfa. Erlita merasa sangat senang melihat bagaimana putranya akhirnya berhasil membangun usahanya sendiri dan memiliki orang-orang yang selalu setia dan mendukungnya.
“Mama, Tante! Ada apa? Tumben kesini?” Tanya Alfa ketika melihat Erlita dan Jihan memasuki ruangannya tanpa pemberitahuan lebih dahulu.
“Al, Arka sedang membantu Papa di luar kota. Dan sekarang mama ingin kita fokus dengan rencana pernikahan kamu. Mama sudah ngobrol dengan tanta Jihan dan kami berencana untuk mengajak kamu melamar Nara besok malam. Kami akan mempersiapkan semuanya, jadi kamu ngga perlu khawatir bakalan repot. Hari ini saja, mama pengen kamu ikut untuk membeli cincin tunangan –“
“Ma, maaf tapi aku sibuk banget. Aku ngga bisa.” Jawab Alfa dengan masih duduk manis di kursi kerjanya.
Kring..
Ponsel Erlita berdering. Ia bergegas mengangkatnya dan berbicara dengan pemilik seseorang di sebrang sana.
Tak lama kemudian ponsel Jihan juga berdering.
“Apa?! Ngga mungkin. Oke, kami kesana sekarang juga.” Erlita mengakhiri panggilang teleponnya.
“Ada apa, Ma?”
“Mobil yang Nara tumpangi mengalami kecelakaan, Al.”
Alfa memakai kacamatanya, lalu bangun dari kursinya dan membawa beberapa berkas di mejanya, “Maaf, Ma. Tapi Al ada rapat penting hari ini.”
“Al!” Erlita benar-benar geram dengan sikap acuh putra sulungnya yang sudah sangat kelewatan itu.
Tapi Alfa sama sekali tidak menggubrisnya. Ia benar-benar tidak berniat untuk terlibat dan membantu Kinara.
“Elea juga ada di mobil itu.” kata Jihan setelah menutup teleponnya.
Alfa yang sudah hendak membuka pintu ruangannya untuk meninggalkan Erlita dan Jihan tiba-tiba saja berhenti ketika mendengar nama Elea.
“Kirimkan lokasinya sekarang juga!” Alfa meninggalkan dokumennya di sofa, menyambar kunci mobil dan berlari sekuat secepat mungkin untuk bisa tiba di tempat kecelakaan sesegera mungkin.
Si pengemudi dan kedua orang penumpangnya selamat dan hanya mengalami luka ringan. Hanya saja, mobil mengalami kerusakan yang cukup parah sampai kunci otomatisnya macet dan ketiganya terjebak di dalam mobil.
Ketika tiba disana, petugas dibantu warga sedang mengevakuasi mobil suv yang menabrak pohon itu. Mereka tengah berusaha membuka pintu mobil dengan cara paksa dan akhirnya berhasil.
Alfa langsung mencari keberadaan Elea dan membopongnya menuju mobil.
Seorang petugas kepolisian menghampirinya, “Maaf, Pak. Apa Bapak mengenal korban?”
“Iya, Pak. Ini istri saya. saya akan segera membawanya ke rumah sakit terdekat.”
“Bagaimana dengan korban yang satunya?”
Tak lama kemudian sebuah mobil ambulance datang.
“Tolong bawa dia dengan ambulance itu!”
Alfa segera memacu mobilnya untuk membawa Elea ke rumah sakit.
“Nara, Mas.”
“Dia baik-baik saja. Ambulance akan segera membawa dia ke rumah sakit.”
“Tapi Mas –“
“El, pikirkan saja dirimu sendiri! Ini bukan saatnya mengurusi orang lain.”
*****
Beberapa jam kemudian Elea sadar dan ia tengah berada di rumah sakit bersama Alfa dan Jihan.
“Kamu sudah sadar, El? Apa kamu baik-baik saja?”
Elea mengangguk. Ia benar-benar merasa sangat baik-baik saja untuk ukuran sebuah kecelakaan mobil seperti itu. Ia hanya merasa sedikit pusing dan tangannya nyilu karena membentur kaca. Tidak ada luka serius kecuali kakinya yang agak sakit dan memar karena membentur benda keras saat berusaha menahan tubuh Nara.
“Bagaimana keadaan Nara?”
“Dia baik-baik saja dan sekarang sudah dibawa ke rumah sakit terbaik di kota.” Jawab Jihan. “Apa yang sebenarnya terjadi, El?”
“Entahlah, tiba-tiba saja ada sebuah mobil hitam melaju kencang dari belakang dan memotong jalan kami. Sopir kami berusaha mengerem mendadak dan membanting setir karena berusaha menghindar hingga akhirnya menabrak pohon.”
“Mobil hitam?” tanya Alfa.
“Terlalu janggal untuk dikatakan sebagai sebuah kebetulan.” Imbuh Elea.
“Apa maksud kamu El?” tanya Jihan.
“Kalau tidak salah aku melihat mobil itu saat keluar dari gerbang sekolah. Tapi aku tidak yakin dia mengikuti mobil kami sampai kecelakaan itu terjadi.”
“Apa kamu ingat seperti apa mobilnya?” tanya Alfa.
Elea kemudian meminta sebuah kertas dan pensil. Ia mulai menggambarkan semua yang ia ingat, jenis, warna dan nomor kendaraannya.
Alfa segera menghubungi seseorang untuk mengidentifikasi nopol kendaraan yang menyebabkan kecelakaan itu. Sementara Jihan yang baru pertama kali melihat Elea menggambar seperti itu dibuat terkagum-kagum oleh bakat gadis kecil itu.
“Kamu hebat, El. Bagaimana kamu bisa ngelakuin hal seperti itu?”
“Seperti apa, Tan?”
“Menggambarkan dengan detail seperti cerita komik.”
“Aku hanya berusaha menggambarkan apa yang aku ingat. Itu saja.”
“Luar biasa, El. Tante kagum sama kamu.”
Elea tersenyum, “Tapi, Tan. Apa boleh aku tetep ikut liburan sama teman-teman?”
“Tapi kan?”
“Aku udah ngga papa kok. Kan tante denger sendiri kata dokter kalau aku ngga mengalami luka serius. Kaki aku cuma memar dan sedikit nyilu tapi akan segera pulih dengan seiringnya waktu.”
“Tapi El –“
“Tan, tas dan barang-barang aku sudah sampe sana. Masa iya akunya ngga ikutan? Boleh ya, Tan? Plis.. Aku pengen banget bisa ngerasain liburan bareng temen-temen. Lagipula ini kan semacam pesta penyambutan dan perkenalan antar angkatan. Masa iya aku ngga dateng?”
“Tapi El, melihat situasi dan kondisi, sepertinya terlalu berbahaya kalau kamu kembali ke sana sendirian. Sementara tante masih ada urusan yang harus tante selesaiin.”
“Biar aku aja yang temenin Elea, Tan.” Tawar Alfa.
“Tapi, Al. Bukannya tadi kamu bilang sibuk banget?”
“Bagaimanapun juga, sekarang kita sedang berurusan dengan nyawa. Dan itu juga sangat penting kan?”
Alfa segera membantu Elea bangun dan berkemas untuk kembali ke tempat perkemahan.
“Wah! bisa-bisanya si penggaris kayu berubah secepat itu. Padahal tadi ngotot bilang kalau sibuk banget dan ngga bisa ditinggal. Eeeh, sekarang dia malah nawarin diri buat nemenin Elea liburan.” Gumam Jihan.
******
Di tempat lain, Kinara juga tengah di rawat di ruang VVIP sebuah rumah sakit swasta nomor satu di ibukota. Sama seperti Elea, ia sama sekali tidak mengalami luka yang berarti. Hanya beberapa luka gores kecil di bagian kaki.
Ia mengingat-ingat lagi apa yang telah dialaminya hari itu. mobil mulai hilang kendali dan nyaris menabrak pohon. Ia berusaha melindungi kedua tangannya yang sangat berharga. Tapi gadis itu malah merelakan tangannya untuk melindungi kepala Nara dari benturan keras dengan kaca mobil.
‘Dasar bodoh! Jika terjadi sesuatu dengan tangannya, maka dia tidak akan pernah bisa melukis lagi.’ Gumam Nara.
Tak lama kemudian seorang ajudannya masuk dan memberikan informasi penting yang ia butuhkan.
“Bagaimana?”
“Lapor, Non. Kami sudah memeriksa keadaan Elea di rumah sakit. Kondisinya baik-baik saja. Tidak ada luka yang serius dan ia sudah diijinkan pulang.”
“Bagaimana dengan tangannya?”
“Tidak ada laporan khusus soal itu. Artinya tangannya juga baik-baik saja. Kami hanya melihat ia sedikit pincang saat berjalan keluar dari rumah sakit. Mungkin karena kakinya juga mengalami benturan keras.”
“Syukurlah kalau begitu.”
“Dan kami juga mendapat informasi bahwa mobil yang membawanya tidak mengarah ke rumah melainkan kembali ke tempat perkemahan.”
“Apa?! Dasar bodoh!”
“Maaf, Non. Apa ada yang salah?”
“Maaf. Maksud saya bukan kamu. Tapi gadis itu yang bodoh.”
“Oh.. “
“Apa kamu tahu mobil dan orang yang membawanya?”
“Seorang pria tinggi memakai kacamata dan mengendarai pa**ro putih dengan nopol ****”
“Aaaaaaaargh!!! Sial!” Nara melempar bantalnya ke lantai.
“Maaf, Non!”
*****"