My MicroWife

My MicroWife
Ruri dan Rahasia



Elea merasa sangat senang karena ternyata ia sekelas dengan Niken, gadis lugu yang ditemuinya beberapa hari lalu. Dan juga Ruri, gadis yang nyaris dilecehkan atasannya sekaligus kasir minimarket dekat perempatan yang ditemuinya semalam.


“Hai, Ruri! Senang bisa ketemu kamu lagi disini. Aku ngga nyangka kalau ternyata kamu masih kelas tiga SMA juga.”


“Gue juga ngga nyangka kalau lo masih sekolah.” Sindir Ruri


Ruri berlalu dan memilih duduk di bangku paling pojok belakang seorang diri.


Tidak seperti Ruri yang pendiam dan cenderung cuek, Niken sangat ramah dan bersahabat. Ia memilih untuk duduk sebangku dengan Elea dan ngobrol santai seakan mereka sudah sangat lama saling mengenal satu sama lain.


"Lo kenal sama tu anak?" tanya Niken.


"Siapa? Ruri?"


Niken mengangguk.


"Kebetulan kami pernah bertemu di suatu tempat."


Ketika bel istirahat berbunyi, tiba-tiba saja petugas kemanan mencari Elea sambil membawa setumpuk makanan cepat saji.


“Ada yang bernama Elea?”


“Saya, Pak.” Elea mengacungkan tangannya.


“Ini ada kiriman dari kakaknya.”


Elea masih tidak percaya bahwa Alfa akan menyempatkan diri mengiriminya makanan sebanyak itu.


“Terima kasih ya Pak?”


Elea kemudian memberikan sebuah burger dan minuman soda kepada petugas keamanan itu lalu memakan dan membagikan sisanya kepada semua temannya.


***


Afgan berlari terburu-buru mengejar langkah Alfa yang baru saja turun dari mobilnya dan berjalan menyusuri lobi menuju lift.


“Maaf, Pak. Hanya ini yang bisa saya dapatkan dari butik. Warna dan seri yang Bapak pesan belum siap karena masih terlalu pagi.”


Alfa mengamati setelan jas yang dibawa Afgan dengan seksama. Meskipun itu bukan apa yang dikehendakinya, setidaknya masih lebih baik daripada harus dipermalukan oleh noda selai coklat. “It’s Okay.”


“Wah, hebat lo Gan bisa dapet setelan dari Cik Mery sepagi ini.” Goda Rosa


“Hebat pala lo! Gue udah basah kena semprot Cik Mery gara-gara maksa dia buka butik padahal dia baru bangun tidur.”


“Hahaha... Gue seneng banget akhirnya lo juga ngerasain apa yang gue rasain.”


“Lo tahu! Cik Mery bilang bos kita adalah satu-satunya orang gila yang akan ia pertahankan sebagai pelanggan bagaimanapun caranya.”


“Jelaslah! Lo tahu kan berapa harga setelan dari Butik Cik Mery, tapi Pak Al masih aja setia beli disana.”


“Namanya juga cinta mati, Ros!”


Rosa melempar plastik bekas pembungkus setelan Alfa kepada Afgan, “Kaya ngerti aja lo!”


“Ngerti gue Ros, gue juga cinta mati sama elo!”


“No Way! Jatah kas bon lo udah habis!”


“Yah... Ros, ayo dong, Plis... Satu juta aja...”


*****


Sepulang sekolah, Elea sengaja membuntuti Ruri yang hendak bekerja di minimarket dekat perempatan.


“Lo ngapain ngikutin gue?”


“Ngga kok. Kebetulan rumah aku searah sama tempat kerja kamu.”


Elea mempercepat langkahnya menjajari Ruri.


“Kamu hebat yah? Masih muda tapi sudah pandai cari uang sendiri. Aku pengen kaya kamu.”


“Tunggu! Jadi kamu juga denger?”


“Ya dengerlah. Jelas banget!”


“Ruri, plis.. tolong rahasiain ini dari siapapun yah? Ngga ada yang tahu kalau aku sudah nikah.”


“Bukan urusan gue. Dan gue bukan orang yang suka ikut campur urusan orang lain kaya elo.”


Elea akhirnya bisa bernafas lega. “Ruri! Iya, aku minta maaf soal itu. tapi aku ngga bisa ngebiarin kamu dipaksa sama bos kamu.”


Ruri menghentikan langkahnya dan Elea tahu bahwa gadis itu mungkin saja akan mulai meluapkan kekesalannya. Jadi Elea juga berhenti dan mulai menunduk pasrah.


“Gue bisa jaga diri gue sendiri. Dan kalau lo ngga ikut campur, gue mungkin masih bisa kerja disana, dapet gaji gede dan ngga perlu jauh-jauh ke tempat kerja baru gue kaya sekarang.”


“Iya, maaf...”


Ruri kembali melanjutkan langkahnya, menaiki bus way menuju tempat kerjanya.


“Lo ngapain naik ini juga?”


“Ya karena aku ngga tahu mau pulang naik apa?”


“Kalau lo ngga tahu mana-mana, kenapa ngga naik taksi online aja, tuan putri?”


“Kan ada kamu.” Elea meringis. “Lagian kita searahan jadi bisa sekalian pulang bareng kan?”


“Terserah lo aja deh.”


Sepanjang perjalanan Ruri hanya diam dan terkadang pura-pura tidak mendengar ketika Elea menanyakan tentang hal-hal pribadinya. Karena Elea tidak mudah menyerah, akhirnya Ruri memasang earphone di telinganya.


Sesampainya di perempatan, Ruri bergegas masuk ke minimarket sementara Elea membantu ibu-ibu yang membawa banyak belanjaan keluar dari minimarket tempat Ruri bekerja.


“Ibu mau kemana? Saya bantuain yah?”


“Saya mau ke apartemen Apolo, adik mau kemana?”


“Sama, Bu. Saya juga mau kesana.”


“Adik tinggal disana?”


Elea mengangguk, “Lima kosong lima.”


“Oh, itu kan tempatnya Pak Al? Adik ini siapanya?”


“Saya adeknya Mas Al, Bu.”


“Oh, adeknya yang baru masuk sekolah SMA itu yah?”


“Bener, Bu. Kok Ibu tahu?”


“Semalam Pak Al ke tempat saya. Pinjam jarum sama benang. Katanya buat masang bet seragam sekolah adeknya.” Ibu-ibu itu tertawa. “Padahal kan dia ngga bisa ngejahit.”


“Terus?”


“Saya yang pasangin bet-nya dan Pak Al nungguin sambil bantu ngemasin laundry-an.”


“Ibu punya usaha laundry?”


“Saya petugas laundry di lantai satu, istrinya Pak Satpam Amir. Ayo mampir!”


“Ngga usah, Bu, makasih. Lain kali aja yah? Saya langsung ke atas aja.”


“Terimakasih sudah dibantuin bawa belanjaan yah?”


“Iya, sama-sama. Mari, Bu!”


Elea menyentuh bet yang terpasang di seragamnya. Benar juga, ia bahkan tidak ingat bagaimana bet itu sudah terpasang begitu saja di seragamnya. Ternyata meskipun kaku dan menyebalkan, Alfa perhatian juga.