My MicroWife

My MicroWife
Pengakuan Alfa



Ketika tiba di rumah induk, Jihan, Dean dan Nasya sedang berkumpul disana.


“Sudah pulang, El?” tanya Jihan ramah.


“Sudah tan. Tapi kok tumben Om Dean sama Ka Nasya ada disini juga?”


“Ini hari ulang tahunnya Nasya dan kita pengen ajak kamu ke suatu tempat.”


“Oh, oke. Aku taruh barang-barang di kamar dulu yah?” Elea bergegas masuk ke kamarnya.


“Mau kemana, Tan?”


“Singapur. Tapi besok kita udah balik kok Al. Kan ada acara penting.” Ujar Jihan.


Malam itu mereka merayakan ulang tahun Nasya di sebuah rumah makan mewah di tengah kota Singapura.


“Kak, selamat ulang tahun yah? Tapi maaf, aku belum sempat beli kado karena tadi baru tahu kalau Kak Nasya hari ini ulang tahun.”


“Ada banyak toko di deket sini. Gimana kalau lo beliin gue kado sekarang? Biar gue temenin.”


“Oke. Aku boleh pergi dulu bentar kan Tan?”


“Of course! Hati-hati ya sayang!”


Jihan kemudian memperingatkan Nasya. “Jangan macem-macem ya, Sya!”


*****


Nasya mengajak Elea menyusuri sebuah pusat perbelanjaan yang menjual aneka barang berkualitas dengan merek ternama dan harga fantastis.


“Kak, beneran kakak mau aku beliin kado disini? Ini mahal-mahal banget loh kak.”


“Emang Al ngga ngasih lo duit?”


“Mas Al?”


“Dasar pelit!” gumam Nasya seperti bicara pada diri sendiri.


“Maksud kakak?”


“Coba lo jawab jujur sama gue! Beneran Alfa ngga ngasih lo uang sama sekali.”


Elea terdiam dan tampak bingung tidak tahu harus bagaimana.


“El, gue udah anggep lo kaya adek gue sendiri dan lo masih aja ngga percaya sama gue? Tinggal jawab jujur aja apa susahnya sih?”


Elea akhirnya menyerah. Ia mengeluarkan dompetnya dan menunjukkan kartu atm yang Alfa berikan kepadanya.


“Berapa isinya?”


Elea menggeleng, “Ngga tahu.”


“Lo ngga pernah pake?”


Lagi-lagi Elea menggeleng. “Aku belum butuh beli apa-apa. Semua yang aku butuhin udah tersedia.”


“Kalau gue minta lo stop terima pemberian Alfa, lo bersedia? Sebagai gantinya gue yang bakal support semua kebutuhan lo sampai lo bener-bener bisa cari duit sendiri. Gimana?”


“Tapi kenapa, Ka?”


“Sekarang lo adik angkat gue. Gue ngga nyaman kalau lo terus nerima pemberian dari Alfa.”


“Sejak awal aku juga ngga mau nerima duit Mas Al. Tapi Mas Al marah besar dan maksa aku buat nyimpen ini.”


Nasya kemudian menyeret Elea ke mesin atm dan memintanya memasukkan nomor pin. Mereka kemudian mengecek isi saldonya dan itu cukup untuk membuat Nasya terbelalak.


“Dasar kutu kupret!”


“Kak Nasya marah?” tanya Elea ketakutan.


“Bukan sama elo tapi Al.”


“Tapi kenapa, Kak?”


Nasya menyeret Elea ke tempat yang lebih nyaman. “Sekarang lo cerita sama gue. Sebenernya apa hubungan lo sama Alfa?”


“Mas Al?”


“Jujur El! Gue tahu kalian ngga cuma kenal atau berteman biasa.”


Elea berusaha mencari cara untuk melarikan diri dan mengalihkan pembicaraan untuk menghindari pertanyaan Nasya.


“El, cukup! Gue ngga punya banyak waktu buat muter-muter. Sekarang, lo kasih tahu gue, apa hubungan lo sama Alfa?”


Elea menunduk dalam-dalam. Ia tidak berani jujur kepada Nasya. Selain belum terlalu mengenal Nasya, Tara juga bilang kalau sejak kecil Nasya tidak akur dengan Alfa.


“Kalian pacaran?”


Elea bergeming.


“Lo pacaran sama Alfa? Atau Arka? Atau dua-duanya?”


*******


Ketika kembali dari belanja, Nasya tidak sengaja mendengar pembicaraan mamanya dengan Erlita di telepon.


“Apa lo yakin Alfa bakal setuju dengan rencana lo?”


“Ta, gue ngga bisa janji apa-apa tapi gue bakal berusaha mengulur waktu. Mudah-mudahan ngga akan jadi masalah yang lebih besar.”


*****


Malam harinya, setelah Elea terlelap, Nasya berpura-pura mendatangi kamar kedua orang tuanya untuk meminta sabun cuci muka milik mamanya.


Ketika berada di dalam kamar mandi, ia mendengar kedua orang tuanya berbicara tentang Elea. Nasya membuka sedikit pintu kamar mandi agar bisa mendengar labih jelas.


“Lita sudah mengatur semuanya, Pa.”


“Tapi Ma, ini ngga adil buat anak-anak. Kasihan Elea, Alfa dan juga Arka.”


“Tapi itu semua ngga ada hubungannya dengan kita kan?”


“Bagaimana dengan Elea? Kamu bilang kamu sayang sama Elea?” tanya Dean.


“Justru karena aku sayang sama Elea, aku pengen Alfa segera mempercepat pernikahannya dengan Nara. Jadi Elea bisa tenang sama pacaran sama Arka. Hanya beberapa jam saja, Pa. Setelah mereka lamaran dan menetapkan tanggal pernikahan mereka besok, maka kita bisa membawa Elea pulang.”


“Apa kamu yakin Elea akan baik-baik saja jika tahu kamu bersekongkol dengan Erlita?”


“Dia tidak akan tahu kecuali kamu kasih tahu dia, Pa.”


“Tapi Ma –“


“Maaf, Ma, Pa. Aku udah selesai cuci mukanya. Aku balik ke kamar dulu yah? Kasihan Elea tidur sendirian.”


“Iya Sya.”


Setelah kembali ke kamar, Nasya langsung membuka ponselnya dan memesan tiket pulang paling pagi.


‘Sial! Kenapa habis semua sih?’


*******


Sore itu, Erlita sudah mempersiapkan pakaian dan semua keperluan Alfa di kamarnya. Ia juga sudah menyiapkan segala keperluan untuk datang dan melamar Nara.


“Al, Mama mohon. Tolong turuti permintaan mama kali ini aja.”


“Aku ngga bisa, Ma! Aku ngga mau!”


“Tapi Al, Pak Budi marah besar soal sikap kamu sama Nara. Beliau mengancam akan membatalkan perjodohan kalian jika acara hari ini gagal.”


“Bagus kalau gitu!”


“Al! Kamu keterlaluan! Dimana perasaan kamu? Nara itu cinta sama kamu.”


“Sekarang mama baru nanyain perasaan? Kenapa mama lebih peduli sama perasaan Nara daripada Alfa, anak mama sendiri? Apa mama peduli kalau Alfa ngga pernah cinta sama Nara, Ma?”


“Lalu kamu mau bilang kalau kamu cintanya sama Elea?”


Alfa cukup kaget mendengar pertanyaan Erlita. Ia tidak percaya mamanya akan berkata seperti itu.


“Kamu tahu kan kalau Arka sangat menyukai Elea, Al? Apa kamu akan mengorbankan adik kamu hanya karena seorang wanita?”


“Mengorbankan, maksud mama apa? Seharusnya Al yang jadi korban disini, Ma. Bukan Arka. Mama maksa Al nikah sama orang yang ngga Al cinta demi Arka. Mau sampai kapan mama kaya gini?”


“Al, mama minta maaf sama kamu. Tapi Mama ngga pengen anak-anak mama bermusuhan hanya karena seorang wanita.”


“Kalau gitu, suruh Arka berhenti ngedektin Elea dan suruh Nara berhenti ganggu hidup aku!”


“Al!” Erlita mengikuti Alfa ke kamar. “Kenapa kamu sekeras ini, Al? Apa kamu sudah ngga menghargai mama lagi? Apa yang harus mama katakan sama papanya Nara kalau lamaran kita malam ini gagal lagi?”


“Mama tinggal bilang kalau aku menolak perjodohan ini.”


“Tapi kenapa Al? Kalau kamu ngga cinta Nara sekarang, itu bukan masalah. Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Mama tahu persis itu. suatu saat nanti kamu akan bisa mencintai Nara seperti mama mencintai papa kamu.”


“Ini bukan hanya soal perasaan Al sama Nara, Ma.”


“Lalu apa?”


“Al sudah nikah sama orang lain.”


Erlita terduduk di tepi ranjang Alfa sambil terus memegangi dadanya. nafasnya mulai terengah-engah. “Ngga mungkin. Kamu pasti bohong sama mama kan, Al?”


“Al ngga bohong, Ma. Al sudah nikah. Ini buktinya.” Alfa menyerahkan buku nikah dan foto pernikahannya dengan Elea kepada Erlita.


Elea yang akhirnya bisa kembali ke rumah Alfa setelah bersusah payah mendapatkan tiket go show dari singapura sore itu bergegas menuju kamar Alfa. “Mas Al!”


Elea tercekat ketika melihat Erlita ada di dalam kamar Alfa, duduk di tepi ranjang sambil memegangi buku nikah dan foto.


“Ngga mungkin. Ini pasti rekayasa.”


“Itu asli, Ma.”


Alfa menarik tangan Elea membawanya mendekat dan merangkul pundaknya. “Kami bahkan sudah tidur dan tinggal bersama. Jadi mama ngga punya alasan lagi untuk memisahkan kami.”


Erlita melempar buku nikah dan foto itu ke lantai lalu meninggalkan kamar Alfa dengan perasaan marah yang berapi-api. Ia merasa dipermainkan dan dikhianati oleh putra sulungnya sendiri.


******