
Siang itu setelah selesai rapat internal dengan timnya, Alfa menyempatkan diri menjemput Elea sepulang kuliah.
“Kok Mas Al ngga bilang-bilang kalau mau jemput?” tanya Elea ketika memasuki mobil Alfa.
“Kangen.”
“Gombal.”
“Mama bilang ngga nyangka kalau kamu ternyata sangat berbakat dan terampil dalam melukis. Oh ya, kamu tahu? Kata Mama lukisan kamu waktu itu dilelang untuk acara amal dan nilainya luar biasa untuk ukuran pemula.”
“Yah, tante Lita sudah bilang soal itu. Dan aku juga masih ngga percaya kalau responnya akan sebaik itu.”
“Kamu hebat, El. Aku yakin kamu akan menjadi pelukis terkenal suatu saat nanti.”
“Amin. Oh ya, gimana sidangnya besok, Mas?”
“Santai aja, Al. Jangan terlalu tegang. Kamu hanya perlu mengatakan apa yang kamu lihat dan dengar. Jangan merasa tertekan!”
“Gimana kalau aku salah ngomong, Mas?”
“Ngga akan, El. Kamu ngga akan bingung menjawab hal yang memang benar-benar kamu alami. Aku justru khawatir dengan saksi lain yang mungin sudah disabotase dan disogok atau diancam untuk membuat keterangan palsu.”
“Mas Al bener. Kita perlu lebih banyak bukti yang bisa mematahkan kesaksian mereka dan menyelamatkan Ruri. Bagaimana dengan pisau itu, Mas. Sepertinya kita harus mencarinya sendiri.”
“Tapi bagaimana caranya kita mendekati Roni padahal sudah jelas-jelas dia menandai kita sebagai musuhnya.”
“Mas Arka!”
“Hah?”
“Mas Al inget ngga Mas Arka pernah bilang kalau dia kenal dan sempat ketemu beberapa kali dengan Roni di luar negeri?”
“Kamu juga inget kan aku sudah pernah minta bantuan dia soal itu? Waktu kamu pingsan dikeroyok preman-preman itu. Tapi mana? Dia sama sekali ngga tertarik untuk membantu.”
“Apa mungkin karena dia kesel sama Mas Al?”
Elea terlihat sedang memikirkan sesuatu. “Gimana kalau aku coba ngomong sama Mas Arka lagi. Siapa tahu dia mau denger kalau aku yang ngomong?”
“Terserah kamu aja.”
*****
Malam harinya, Alfa, Arka, Erlita dan Nafan mengantar Elea ke rumah induk. Mereka tidak ingin gadis itu merasa kesepian meskipun nantinya akan lebih banyak tinggal sendiri di rumah itu.
Erlita membantu Elea menata barang-barangnya di salah satu kamar tamu yang terletak di lantai dua di sebelah kamar mendiang eyangnya, Pratiwi.
“Tan, tante kenapa? Kok bengong disitu?” tanya Elea ketika melihat Erlita diam terpaku di depan pintu kamar neneknya.
“Ini dulu kamar Eyang Tiwi, pemilik rumah ini. Eyang paling galak dan baik hati di dunia.” Erlita tersenyum lalu kembali masuk ke kamar Elea.
“Tante pasti kangen banget sama Eyang.”
“Tentu, El. Meskipun kadang kejam dan pemarah, tapi Eyang adalah satu-satunya orang yang tante miliki di dunia ini. Eyang yang menjaga dan merawat tante sejak kecil.” Erlita menahan air matanya agar tidak tumpah di hadapan gadis kecil itu. “Kamu tahu, El? Rumah ini memiliki terlalu banyak kenangan buat tante. Kadang kalau sangat merindukan Eyang, tante tidur sendirian disini. Tapi rumah ini terasa benar-benar berbeda sejak kepergian Eyang.”
“Memangnya apa yang berubah, Tan?”
“Banyak, El. Dulu Eyang selalu memasang parfum aroma sedap malam di setiap sudut ruangan, merawat kebun bunga di taman depan dan mengganti tirai dengan motif dan warna yang sesuai dengan suasana hatinya. Tapi sekarang kami tidak lagi bisa mengganti tirainya karena tidak tahu bagaimana suasana hatinya sekarang.” Erlita tidak bisa lagi menahan rasa sedih dan kerinduannya yang mendalam.
“Mau Elea buatin minuman, Tan?”
“Ada Bik Narti dan Mang Mamat yang akan membantu kamu memasak dan membersihkan rumah.”
“Ya sudah. Tante tunggu di sini dulu.”
Tak lama kemudian Elea kembali dengan secangkir teh yang ia seduh dengan menggunakan gula batu. Erlita meminumnya dan terhenyak.
“El, apa kamu yang membuatnya?”
Elea mengangguk. “Ini teh melati yang El kasih cengkeh dan gula batu. Minuman teh khas kota asal El, Tan.”
“Tante tahu, El. Tapi rasa dan komposisinya pas dengan teh yang biasa Eyang buat.” Erlita menyeruput habis sisa tehnya sampai cangkirnya kosong. “Tante sudah lama banget kangen sama teh ini. Makasih ya, sayang?”
“Sama-sama, Tan. Kalau El tahu tante suka teh kaya gini, Elea bakal sering-sering bikinin buat tante.”
Erlita tersenyum, “Gimana kuliah kamu, El?”
“Baik Tan. Temen-temen baik semua, guru-gurunya juga baik-baik, pinter-pinter lagi. Elea seneng banget bisa kuliah di SH. Tante Lita hebat banget bisa menciptakan kampus seperti itu.”
“Apa eyang juga suka lukisan, Tan?”
“Sini tante tunjukin.”
Erlita mengajak Elea ke kamar dan ruang kerja Eyangnya. Ada banyak lukisan bagus milik pelukis-pelukis kenamaan yang terpajang di dinding dan sebagian masih tergeletak di dalam box di lantai dan ditutupi kain putih.
“Waw!” Elea benar-benar dibuat kagum dengan keindahan lukisan-lukisan di hadapannya itu. “Tan, yang ini kenapa ngga dipajang?”
“Belum sempat, El. Ini lukisan milik pelukis-pelukis pemula yang mengikuti perlombaan terakhir yang Eyang gelar. Entah dimana Eyang berencana memajangnya tapi keadaan tiba-tiba saja menjadi kacau dan Eyang ninggalin tante buat selama-lamanya.”
“Mama disini? Pantes Arka cariin kemana-mana ngga ketemu.” Arka tiba-tiba saja datang dan mengejutkan Elea dan Erlita.
“Ada apa, Ka?”
“Ma, boleh yah aku tinggal disini sama El?”
“Ngga boleh! Kalian cowok dan cewek mana boleh tinggal bareng serumah?”
“Tapi Ka Al –“
“Eh, Mas Arka, boleh ngga aku minta tolong sebentar?” Elea sengaja memotong pembicaraan Arka karena takut ia akan mengatakan bahwa Alfa dan Elea juga tinggal bersama di apartemen.
“Minta tolong apa, El?”
Elea bergegas menarik kamar Arka keluar dari ruang kerja Eyang Tiwi.
*****
Hari sabtu tiba dan Elea memutuskan untuk beres-beres rumah karena kuliah dan kerjanya kebetulan libur. Setelah membersihkan semua ruangan bersama Bik Narti dan Mang Mamat, Elea mulai berfikir untuk mengganti tirai di ruang tamu dan beberapa titik lainnya.
“Bik, apa bibi tau dimana Eyang menyimpan tirai-tirainya?”
“Tau Non. Ada di gudang penyimpanan lantai dua.”
“Ya sudah, Bibi tolong gantiin semua taplak mejanya yah? Biar aku yang cari tirainya.”
Elea masuk ke gudang penyimpanan dan menemukan puluhan motif dan warna gorden yang terlipat rapi dalam tumpukan tebal. Sepertinya Eyang Tiwi sengaja menata semuanya dalam satu set sehingga mudah untuk mengganti semua sudut rumah sekaligus.
Elea ingat bahwa Eyang selalu memilih berdasarkan suasana hati dan ternyata benar kata Erlita, itu cukup membingungkan karena kita tidak tahu suasana hati beliau seperti apa sekarang.
“Kamu lagi apa, El?”
“Eh, Mas Al. Bikin kaget aja. Kok Mas Al ada disini?”
“Kangen sama kamu.” Alfa memeluk Elea dari belakang.
“Mas lepasin, lagi kotor ini. Habis bersih-bersih.”
“Bodo amat!”
Elea terpaksa membiarkan Alfa memeluknya beberapa saat. “Menurut Mas Al, warna mana yang cocok untuk kita pasang sekarang?”
“Itu!” Alfa menunjuk setumupuk tirai warna cerah motif kembang api dan bunga kecil-kecil.”
“Rame amat, Mas?”
“Itu menggambarkan keceriaan. Bahagia karena aku bisa ketemu sama kamu.”
“Kok kita? Ini kan gambaran suasana hatinya Eyang?”
“Eyang sudah ngga ada, El. Tapi Eyang pasti senang ngelihat anak cucunya masih mengingatnya dan kamu yang masih aja memperhatiin Eyang dan mau bersusah payah mendekor ulang rumah ini seperti dulu.”
Elea setuju dengan pernyataan Alfa, jadi ia mengeluarkan tirai itu dari tempat penyimpanan dan meminta Alfa untuk membawanya keluar.
Mereka memasang tirai-tirai itu pada tempatnya masing-masing dan benar saja, suasana rumah terasa sangat berbeda dari sebelumnya. Lebih hidup dan nyaman untuk ditinggali daripada sebelumnya.
“Makasih yah Mas, udah dibantuin. Ngomong-ngomong Mas Al mau ngomongin apa sampai jauh-jauh kesini?”
“Besok sidang terakhir Ruri. Dan sampai hari ini kita masih belum bisa nemuin barang buktinya, El. Aku khawatir –“
Elea menggenggam tangan Alfa, “Mas, Mas Al sudah berusaha maksimal. Jadi jangan terlalu merasa terbebani. Mudah-mudahan ada keajaiban dan kebenaran bisa benar-benar ditegakkan.” Elea berusaha tenang meskipun hatinya bergejolak.
*****