
Hari itu adalah hari jumat ketika sepulang sekolah, Elea melihat Beni, kakak sepupunya berdiri di depan apartemen Alfa. Siang itu Elea sengaja mengajak Niken ke rumahnya untuk mengerjakan tugas bersama. Kebetulan sekali mereka bertiga bisa bertemu di sana.
“Mas Ben!”
“Hei, El! Alhamdulillah akhirnya ketemu juga.”
“Lah emang Mas Beni darimana?”
“Aku sudah seharian muter-muter nyari alamat ini. Tapi akhirnya ketemu juga.”
“Yowis ayo masuk dulu, Mas. Oio Mas, ini temenku namanya Niken. Dan Ken, ini mas sepupuku dari Jogja, namanya Mas Beni.”
Elea menuangkan minuman untuk Beni dan Niken.
“Bulik sehat mas?”
“Sehat, El, alhamdulillah.”
“Alfa kemana, El? Kok ndak kelihatan?”
“Oh, Mas Al masih di kantor. Paling bentar lagi juga pulang mas. Wes tak kabari tadi kalau sampeyan ada disini.”
“Oh, yowes kalau gitu.”
“Ngomong-ngomong, ono perlu opo to mas kok sampeyan sampe jauh-jauh datang ke sini?”
“Kangen sama kamu, El. Sudah setahun kita ngga ketemu. Kamu juga ndak pernah telepon ke Jogja.”
“Iyo, maaf, Mas. Nomere ilang e mas. Aku jadi ndak tahu mesti hubungi siapa.”
“Yowes rapopo. Seng penting semua sehat-sehat kan? Nah iki aku sengojo ke sini mau anter ini.”
Beni menyerahkan sebuah amplop kecil.
“Dulu aku wes janji sama Alfa buat nganter ini, tapi ra sempat-sempat. Nah mumpung ini masih tanggal satu, dadi yo tak sempat-sempatno mrene ben iso gawe kado ulang tahun pernikahanmu karo Alfa.”
“Uhuk.. Uhuk... Pernikahan?” Niken tiba-tiba saja tersedak.
“Sssssst... Mas! Aduh Mas Beni ini ngomong opo tho?”
“Loh memangnya teman kamu ini ndak tahu tho kalau kamu sudah nikah?”
“Apa?! El beneran lo udah nikah?”
“Ken, tenang dulu. Biar gue jelasin.”
****
Sore harinya Alfa pulang membawa banyak makanan untuk menyambut Beni.
“Ada apa ini?”
Niken dan Beni duduk di sofa sementara Elea duduk di karpet dengan wajah penuh penyesalan. Niken melempar amplop yang dibawa Beni ke atas meja. Lalu Alfa membukanya.
‘Sial!’
“Kenapa kalian ngga bilang kalau kalian sudah nikah?”
“Ken, ya ngga mungkinlah Elea cerita. Kalau sekolah tahu, dia bakal dikeluarin.” Jawab Alfa santai.
Alfa membantu Elea bangun dan mengajaknya duduk di sofa disampingnya.
“El, kita udah temenan setahun dan lo tega ngebohongin gue.”
“Sori, Ken. Gue ngga punya pilihan lain. Semakin banyak yang tahu rahasia ini akan semakin besar peluang terbongkar.”
“Jadi lo ngga percaya sama gue? Terus itu, kalian gandengan tangan gitu terus, emang mau nyebrang?”
Elea buru-buru melepaskan tangannya yang sedari tadi digenggam Alfa.
“Niken, ini bukan soal percaya dan ngga percaya tapi soal keamanan. Lo bakal tahu kalau lo di posisi Elea. Dan kalau lo emang teman yang baik, lo seharusnya dukung dia. Bukan malam mojokin kaya gini.”
Alfa memang pengacara handal. Bagaimana mungkin Niken yang awalnya merasa kesal sekarang berbalik merasa sebagai pihak yang bersalah karena tidak mendukung sahabatnya.
“Maafin gue ya, El?”
“Maafin gue juga ya, Ken?”
“Ish, kekanak-kanakan sekali!”cibir Alfa.
*****
“Ayo dimakan, Mas Ben. Jangan sungkan-sungkan. Anggep aja rumah sendiri!”
“Kak, kok gue ngga dipersilakan juga sih?”
“Kalau gue ngga persilakan, lo ngga bakal makan?”
“Ya ngga juga, tetep makan aja. Kan gue laper.”
“Nah itu.. jadi ngga ada gunanya gue basa-basi sama bocah-bocah cilik kaya kalian.”
“Terus kalau tahu Elea masih bocah, ngapain juga Kak Al nikahin?” protes Niken.
“Uhuk! Karena keadaan yang memaksa, Niken. Ayahnya Elea sakit keras dan minta gue buat nikahin Elea.”
“Oh, jadi kalian nikahnya terpaksa. Bukan karena cinta?”
‘Ni anak kalau ngomong suka ngga ada remnya. Sama banget sama si El.’
“Ya gitu deh, Ken. Kita juga ngga nyangka kalau bakal jadi kaya gini.”
‘Ya gitu deh? Jadi dia beneran nikah karena terpaksa? Ngga ada perasaan sama sekali? Sial!’
“Gue tahu banget posisi lo, El. Terus kok Mas Beni tahu mereka bakal ngerayain aniversary?”
“Eni opo?”
“Anyversary, Mas.” Jawab Elea dan Alfa bersamaan.
“Maksutnya ulang tahun pernikahan, Mas.” Elea berusaha menjelaskan.
Beni menunjuk angka yang tertera di bawah foto pernikahan mereka, 3.420.000.
“Itu angka apa, Mas?” tanya Niken penasaran.
“Itu mas kawinnya, Ken. Mas Al kasih aku mas kawin segitu.”
“Dikit amat, Mas? Emang Mas Al beneran cuma punya duit segitu?”
“Tiga April Dua ribu dua puluh. Tiga empat dua puluh. Itu adalah tanggal pernikahan mereka.” Beni menjelaskan maksud dibalik angka yang dipilih Alfa.
Elea menutup mulutnya dengan telapak tangan, “Jadi angka itu ada artinya? Kirain karena itu aja uang tunai yang ada di dompetnya Mas Al.”
“Ya ampun, so sweet banget sih, Mas Al. Katanya terpaksa, tapi masih aja sempet-sempetnya mikirin angka cantik.”
“Gue bukan orang sembrono! Sekepepet apapun gue bakal selalu terpaksa kasih yang terbaik yang gue bisa.”
‘Oh jadi itu hanya karena dia seorang perfeksionis? Kirain karena dia beneran peduli dan suka sama gue’ batin Elea kesal.
Hari sudah mulai malam dan Elea hendak mengantar Niken ke lobi karena taksi online yang dipesankan Alfa akan segera datang.
“El, tolong sekalian mampir ke minimarket depan yah? Belikan sikat gigi buat Mas Beni.” Alfa menyerahkan dompetnya kepada Elea.
Elea menerima dompet itu dengan malu-malu.
“Kak Al kenapa tiba-tiba jadi keren gitu yah? Masak dia langsung nyerahin semua dompetnya sama lo. Kaya suami istri beneran.”
Elea makin tersipu mendengar perkataan Niken.
“El, mumpung ada kesempatan, boleh dong gue intipin isi dompetnya Kak Al. Penasaran banget gue.”
“Ngga ah, itu kan privasi. Masak aku tunjuk-tunjukin ke kamu sih?”
“Alah dikit aja lah.. plis...”
Elea sama penasarannya, jadi ia membuka dompet Alfa dan kaget melihat ada KTP, kartu atm, kartu kredit berwarna hitam dan banyak uang ratusan ribu berlapis-lapis di dalamnya.
Dan yang lebih mengejutkan lagi, ada sketsa foto pernikahan mereka yang Elea gambar di bagian dalam dompet itu.
Elea sama sekali tidak sadar bahwa Alfa sempat mengambil gambarnya dan menyimpannya di dalam dompetnya.
“Ini sketsa foto pernikahan kalian? So sweet...”