
[Jam istirahat]
“El, lo ngga papa?” tanya Niken begitu melihat Elea di UKS.
“Iya gue ngga papa, Ken. Tapi baju gue basah kuyup padahal kan nanti jam terakhir ada quis bahasa inggris?”
Tak lama kemudian Ruri juga datang ke UKS, “Lo mau gue pinjemin seragam?”
“Mau banget! Banget!” jawab Elea penuh semangat.
Dan merekapun meminta ijin untuk pulang ke kos-kosan Ruri yang tidak jauh dari sekolah untuk berganti seragam.
***
Bip..bip.. sebuah pesan masuk ke ponsel Alfa.
“Sori Han, gue mesti cabut dulu. Ada hal penting yang mesti gue urus. Urgent!”
“Tapi Al. Ini kan belum kelar. Al!”
“Gimana Pak Han? Kami tidak punya banyak waktu. Pada intinya kami sudah mengajukan dokumen pembatalan kontraknya. Dan karena Pak Al memiliki urusan lain yang lebih penting, jadi kita anggap saja bahwa masalah ini tidak lebih penting untuk dipermasalahkan lagi.”
“Tapi, Pak. Kami harus tahu alasannya. Kami bahkan tidak melakukan kesalahan apapun. Kenapa Yusar tiba-tiba saja membatalkan kerjasamanya?”
“Maaf harus mengatakan ini, tapi jika bisa membuat Anda dan tim merasa lebih baik, maka akan saya sampaikan bahwa kami sudah menemukan mitra lain yang lebih sesuai dengan visi misi kami.”
“Beni Sitompul?”
“Maaf, kami permisi.”
***
“Dimana Elea?! Bagaimana keadaannya?”
“Tenang Pak Al. Elea sudah siuman dan baik-baik saja. Bagaimana kalau kita bicara di ruangan Bapak kepala sekolah saja?”
Bu Rosita membawa Alfa menuju ruangan kepala sekolah.
“Apa mereka yang membuat Elea tercebur ke kolam?”
“Maaf, Pak Al. Ini hanya kecelakaan biasa. Mereka tidak sengaja mendorong Elea hingga tercebur ke kolam.” Pak Kelapa Sekolah berusaha menengahi.
Alfa membenahi kacamatanya, “Kecelakaan? Apa Bapak yakin?”
Alfa menyalakan rekaman suara di ponselnya.
(Maaf, Kak. Tapi saya sama kak Davian itu ngga ada apa-apa. Cuma kebetulan di hukum bersama karena sama-sama terlambat)
(Banyak bacot ya lo! Nantangin gue?!” Erika mendorong-dorong bahu kanan Elea dengan telunjuknya)
(Byur!)
(Tolong! Tolong!)
Raut muka Bapak Kepala sekolah berubah seketika.
“Erika! Apa benar kamu dengan sengaja mendorong Elea?”
“Tapi, Pak, itu... Kami hanya bercanda.”
“Bercanda?!” Alfa menegakkan posisi duduknya. “Apa bermain-main dengan nyawa orang lain itu sebuah candaan buat kalian?”
“Siapa yang bakal nyangka kalau di jaman sekarang masih ada aja anak SMA yang ngga bisa renang?”
Alfa mulai kesal. “Baiklah, Erika Rahma P, urusan kita hari ini sudah selesai. Saya akan melayangkan surat tuntutan saya ke rumah anda dalam beberapa hari. Semoga kita tidak harus berhadapan di depan hakim.”
“Pak Al, tunggu! Kami mohon maaf atas kejadian ini. Mohon untuk memnyelesaikan persoalan ini secara kekeluargaan.”
“Kenapa harus Bapak yang meminta maaf? Dan apa murid Bapak terlihat ingin menyelesaikan ini secara kekeluargaan?”
“Erika! Cepat minta maaf!” Bu Rosita ikutan tidak sabar. “Pak Al ini pengacara hebat. kamu mau merayakan sweet seventeen kamu di penjara?”
‘Sial!’
“Maaf, Pak. Tapi semua ini bukan sepenuhnya salah Erika. Sayalah yang menyebabkan mereka cek-cok. Jadi saya ingin mewakili Erika untuk meminta maaf.” Davian berinisiatif untuk segera menyudahi perselisihan mereka.
“Tadinya hanya itu yang saya harapkan. Tapi karena kalian sudah membuang-buang waktu saya, dan masih juga tidak menunjukkan ketulusan, maka saya ingin lebih dari itu.”
****
Sepulang sekolah, Elea menunggu Davian di depan kelasnya. Ia ingin meminta maaf atas tindakan Alfa yang berlebihan.
Elea membaca sebuah pesan dari Alfa dan segera memesan taksi online menuju kantor Alfa.
Ia turun di sebuah gedung bertingkat yang sangat mewah dan terletak di kawasan yang sangat strategis. Ia memasuki lobi dan melihat banyak karyawan karyawati berpakaian rapi dan berdandan sangat cantik. Melihat mereka membuat Elea ingin cepat tumbuh dewasa.
Ia kemudian melihat penampilannya di depan pintu lift. Memakai seragam sekolah, berantakan, kuncir ekor kuda, muka lepek, “Huft!...”
Elea bergegas bersembunyi ketika melihat Alfa masuk ke dalam lobi bersama beberapa orang dari pantulan pintu lift.
[Lihat deh! Pak Al keren banget yah? Masih muda, ganteng, pinter, tajir lagi.]
[Senyum mahalnya itu loh, bikin gue klepek-klepek.]
[Andai aja Pak Al mau jadi cowok gue...]
[Mimpi lo! Langkahi mayat gue dulu!]
[Hahahaha..]
Gadis-gadis yang juga baru saja melihat kedatangan Alfa ikut bergunjing tentang bos muda itu.
“El, lo ngapain disini?”
“Eh, Kak Han. Tadi Mas Al wa katanya pulang sekolah suruh langsung kesini. Tapi udah sampe sini jadi bingung mau kemana.” Elea menautkan jari tengah dan telunjuknya di balik badan.
“Ya udah, masuk yuk!”
[Kok ada anak SMA kenal Pak Han sama Pak Al sih?]
[Mana kelihatan sudah akrab lagi..]
[Terus ngapain tadi dia sembunyi di situ?]
***
“Mas! Mas Al apa-apaan sih? Masak cuma kecebur gitu aja sampai ngelibatin orang tua segala?”
“Cuma?!! Kamu juga bilang tindakan bahaya gitu sebagai becandaan?”
“Lebay! Tau ngga gara-gara Mas Al semua orang ngatain aku Miss Lebay.”
“Masih mending dikatain lebay dan suka ngadu daripada mati konyol gara-gara becandaan.”
“Mas...”
“Btw, jangan pernah pinjam baju Ruri lagi.”
Alfa meraih jasnya dari gantungan lalu melemparnya ke arah Elea.
“Nyebelin banget sih!”
“Aku masih ada rapat sama tim keuangan. Kamu tunggu disini dan jangan kemana-mana! Ah, ini password wifinya, jadi kamu bisa main game sepuasnya.” Alfa mengusap pucuk kepala Elea lembut kemudian pergi menghadiri rapat internal di ruang rapat.
Elea mengamati Alfa yang sedang memberikan pengarahan dengan sangat serius. Sepertinya apa yang dikatakan cewek-cewek di lobi tadi tidak sepenuhnya salah. Suaminya itu memang terlihat sangat keren saat sedang bekerja.
‘Ups, El, kamu apa-apaan sih? Kok senyum-senyum sendiri. Mending ke pantry aja lah..’
***
“Al, lo ngga bisa ngelimpahin semua kesalahan kepada tim. Mereka sudah bekerja maksimal. Kalau aja lo ngga egois dan ninggalin pertemuan kita dengan Yusar Grup gitu aja, semua ini ngga bakal terjadi.”
“Oh, jadi lo nyalahin gue, Han? Lo mau bilang kalau gara-gara gue kesepatakan kita batal?”
“Al –“
‘Mas Al buru-buru pergi ? apa karena kejadian tadi?’ batin Elea ketika samar-samar mendengar isi pembicaraan Alfa dan timnya.
Ketika hendak kembali dari pantry, Elea melihat seorang pria meletakkan sebuah bungkusan di meja salah satu staf Alfa lalu buru-buru pergi dan melewati Elea begitu saja seperti tidak melihat siapapun.
“Eh, Pak, tunggu!”
Elea bergegas menyusul pria itu hingga ke parkiran. “Pak, tunggu!”
Pria itu turun lagi dari mobilnya.
“Bapak nyari ini?”
“Oh iya. Makasih ya dek? Tadi saya taruh di meja terus lupa bawa.”
“Lain kali jangan buru-buru, Pak.”