My MicroWife

My MicroWife
Gathering (1)



Ketika dalam perjalanan, seseorang menghubungi Alfa dan menginformasikan terkait jenis dan nopol kendaraan yang menyebabkan kecelakaan Elea.


“Apa? Oke tolong cari tahu siapa pengemudinya. Kita harus menemukannya bagaimanapun caranya.”


Alfa mengakhiri panggilan teleponnya.


“Ada apa, Mas?”


“Mobil yang motong jalan kamu itu ternyata mobil curian.”


“Lalu siapa pelakunya? Dan siapa juga targetnya? Ngga mungkin Nara kan, Mas?”


“Kenapa ngga? Ayahnya Nara juga mantan politikus yang pasti punya banyak musuh. Itu juga alasan dia selalu memberikan pengawalan khusus pada Nara.”


Elea terlihat berfikir. Ada banyak hal yang mengganggu pikirannya. Meskipun apa yang dikatakan Alfa benar, tapi ia tidak merasa itu ada kaitannya dengan kejadian yang dialaminya hari ini. Ia justru khawatir bahwa itu adalah perbuatan Roni Wijaya yang masih menaruh dendam kepadanya atas kasus Ruri.


“Sudahlah, El. Jangan terlalu banyak berfikir! Ada aku sekarang. Ngga ada lagi yang perlu kamu takutin.”


Itu benar. Elea tidak perlu mengkhawatirkan apapun saat bersama Alfa. Jadi ia bisa sedikit tersenyum lega sekarang.


“Oh ya, Mas. Mas Al sudah reservasi hotel atau vila buat nanti malam? Kata Dosen-dosen aku, semua hotel dan vila terdekat pasti sudah habis direservasi keluarga siswa. Kalau Mas Al kehabisan kamar gimana?”


“Kan bisa tidur di tenda kamu.”


“Ngawur! Itu tenda cewek. Mana boleh Mas Al masuk ke sana?”


“Di sini juga nyaman. Ada bantal dan selimut kamu juga di belakang.”


“Di mobil? Mas Al mau tidur semalaman di mobil?”


“Kenapa ngga?”


******


Hari sudah mulai gelap saat mereka tiba di tempat kemah. Anehnya, meskipun gelap, Alfa sama sekali tidak kesulitan dalam mencari lokasi kemah Elea dan teman-temannya.


Tempat yang mereka pergunakan untuk kemah sebenarnya adalah sisa dari lahan seluas sekitar satu hektar yang dibangun vila sepuluh kamar milik Nafan dan Erlita. Sisa lahan itu masih cukup digunakan untuk menampung sekitar lima belas sampai dua puluh tenda berukuran sedang hingga besar. Rencananya Nafan akan membangun sebuah kolam air panas disana, namun karena kesibukan rencana tersebut masih saja tertunda sampai hari itu.


Ketika tiba di tempat rekreasi, para siswa dan guru tengah mengadakan makan malam bersama. Mereka langsung menyambut kedatangan Elea dengan banyak pertanyaan terkait kecelakaan yang menimpanya tadi.


Para pengajar juga menanyakan hal yang sama kepada Alfa. Mereka semua panik ketika mendengar soal kejadian hari itu. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa kejadian buruk seperti itu bisa menimpa teman dan murid mereka.


Pak Anton, salah satu dosen senior mempersilakan Alfa duduk bersama para pengajar yang tengah menikmati makan malam mereka di dalam vila.


Mereka sangat senang karena Alfa mau bergabung bersama mereka malam itu. mereka menganggap bahwa Alfa datang untuk mewakili mamanya.


Malam itu menu makan mereka adalah ayam. Ayam rica-rica dan tumis daging pedas untuk para pengajar, sedangkan ayam krispi dan rendang daging untuk para mahasiswa. Semua sudah disediakan di meja dan meja pengajar terletak terpisah dengan meja para mahasiswa.


“Apa menu para dosen?” tanya Elea pada Mirna yang tengah duduk di sebelahnya.


“Ayam rica-rica dan tumis daging pedas.”


“Hah?!”


Elea masih saja mengamati Alfa yang diperlakukan bak tamu kehormatan oleh para pengajar. Diambilkan minum dan makan padahal bisa mengambil sendiri karena sudah tersaji di depan mata.


Bu Sanum menyendokkan tumis daging pedas ke piring dan menyerahkannya kepada Alfa. Elea kemudian bangun dan membawa piring miliknya lalu menghampiri Alfa.


Ia kemudian menukar piringnya dengan milik Alfa, “Mas ada rendang kesukaan Mas Al.”


“El, kok kamu ngga sopan gitu sih sama Mas Al!” Tegur Pak Anton.


“Sudah ngga papa. Dia memang suka kaya gitu kalau di rumah. Tapi dia benar, saya lebih suka daging rendang daripada tumis.”


“Oh, maaf, Mas. Kenapa Mas Al ngga bilang dari tadi?” tanya Bu Sanum.


Alfa hanya cengar-cengir saja menyikapi kejadian canggung yang baru saja dialaminya. Bisa-bisanya Elea bersikap seperti itu di hadapan para pengajar.


“Itulah enaknya kalau saudaraan. Sudah saling tahu kebiasaan masing-masing.” Kata Pak Anton lagi dan diikuti tawa dan candaan para pengajar lainnya.


******


Seusai makan malam, mereka mengadakan beberapa acara permainan sederhana untuk membangun keakraban diantara para siswa. Sementara Alfa ijin untuk keluar sebentar untuk mencari penginapan.


Setelah permainan selesai, kebanyakan siswa kembali ke tendanya untuk beristirahat. Namun, karena Elea harus satu tenda bersama Mirna, Mimi dan Bianca, ia memilih untuk tetap di luar dan menikmati api unggun bersama beberapa siswa yang masih bertahan di luar tenda.


“Lo belum tidur, El?” tanya Samuel yang datang jagung bakar di tangannya. “Mau?”


Elea menggeleng. “Belum ngantuk.”


“Bohong! Lo pasti capek banget habis kejadian tadi. Tapi lo pasti ngga betah dengar omelan Bianca yang ngga mau satu tenda sama elo. Iya kan?”


Elea tertawa, “Kok kamu tahu?”


“Tahu lah!”


Keduanya ngobrol tentang banyak hal sampai akhirnya Samuel menawarkan diri untuk mengambilkan Elea minum. “Tunggu bentar yah?”


Tak lama kemudian Samuel kembali dengan dua gelas kopi. “Nih, gue buatin spesial buat elo.”


Elea tidak enak untuk menolaknya karena Samuel sudah susah bayah membuatkannya untuknya.


Elea mengambil kopi dari tangan Samuel dan menggenggamnya beberapa saat sambil ngobrol.


“Diminum, El. Keburu dingin.”


“Eh, iya.”


Tiba-tiba saja Alfa yang baru saja datang langsung menyambar cangkir kopi di tangan Elea. “Hmmm.. enak banget kopinya. Thanks yah?”


Samuel ternganga melihat sikap Alfa. Ia tidak tahu kenapa pria itu main sambar minuman yang bukan miliknya. “Oh, Kak Al mau? Biar saya buatin lagi. Sekalian bikinin kopi yang baru buat Elea.”


“No! Jangan sekali-kali kasih Elea kopi!” Alfa pergi begitu saja tanpa memberi penjelasan.


“Ngga jelas banget sih tu orang.” Gumam Samuel.


“Hah? Mas Al maksud kamu?”


“Iya. Gue juga punya sepupu cewek tapi ngga gitu-gitu amat. Lebay banget.”


Elea hanya senyam-senyum saja mendengar celotehan Samuel. Ia jadi penasaran kemana Alfa pergi dan apakah ia sudah menemukan penginapan yang pas malam itu. Dan yang lebih penting lagi, ia tidak terbiasa tidur dengan pakaian kotor. Apalagi ia tadi hanya mengenakan kemeja tanpa jas seperti biasanya.


**********************************************


Jangan lupa pantengin & support juga novel on going terbaru otor Jo yak...


Novel transmigrasi berjudul " MISI JESSY "


Dan jangan lupa tinggalin jejak like, fav & vote klean ya gais :-D


Luv u