
Meskipun Elea tidak tahu kenapa Ruri tiba-tiba saja pamit pulang, tapi ia merasa sangat senang. Ia yakin bahwa Davian mengajaknya bertemu untuk membicarakan sesuatu yang penting berdua saja dengannya. Karena itu ia harus datang untuk mengetahuinya.
Elea bersenandung tidak jelas sembari membereskan ruang tamu lalu kembali masuk ke dalam kamarnya.
“El, latihan renangnya kita majuin sabtu sore.”
“Tapi kenapa tiba-tiba gitu, Mas? Tetep minggu pagi aja lah.. Plis..”
“Ngga bisa! Pokoknya kita bakal latihan sabtu sore dan ngga bisa diganggu gugat.”
******
Sabtu sore tiba dan Alfa tiba-tiba saja membatalkan agenda latihan renang karena ada telepon mendadak dari salah satu kliennya. Malam ini ia akan menemui salah seorang informan yang tahu banyak soal mi instan Yusar yang sedang bermasalah. Jadi ia tidak bisa melewatkan kesempatan ini begitu saja.
Mengetahui Alfa membatalkan jadwal latihan renangnya, Elea bergegas mandi dan bersiap untuk pergi ke taman bermain. Ia ingin tahu siapa orang yang ingin menemuinya di taman dan untuk apa.
***
Elea tiba di taman bermain tepat waktu. Ia memilik tempat yang paling mudah ditemukan. Hari mulai gelap dan taman bermain mulai sepi tapi tak ada seorangpun yang datang menghampirinya maupun berusaha menghubunginya.
Elea menatap ponselnya dan baterainya mulai menipis. Hujanpun mulai turun dan ia merasa sangat kecewa.
Ia merasa ditipu dan dipermainkan begitu saja. Ia menjadi semakin kesal karena tidak tahu kepada siapa harus marah dan kecewa. Ia merasa sangat bodoh karena mempercayai surat itu begitu saja.
Jarum jam di tangan Elea menunjukkan hampir pukul sembilan malam dan taman bermain sudah hampir ditutup. Elea berusaha menghubungi Alfa tapi tiba-tiba saja ponselnya mati karena baterainya habis.
Tiba-tiba saja kepalanya berdenyut-denyut, pandangannya berkunang-kunang dan tubuhnya lemas. Ia berusaha mengerjapkan matanya.
Elea melihat seseorang berlari menghampirinya. Ia yakin itu Davian tapi ia terlalu lemah untuk membuka kedua kelopak matanya.
****
Elea mengerjap-ngerjapkan matanya. Sinar matahari pagi menyeruak melalui jendela kaca di kamarnya dan cukup menyilaukan matanya.
Ia berusaha mengingat semuanya, melihat ke sekeliling. Ia sudah berada di kamarnya, ada termometer, waslap dan baskom di berserakan di mejanya.
Kepalanya masih sakit, tapi Elea berusaha bangun. Ia berniat menyibakkan selimutnya tapi ia baru sadar bahwa ia sudah berganti pakaian tidur. Bagaimana mungkin?
“Aaaaaaaaaa!!....”
“El, kamu kenapa?” Alfa tergopoh-gopoh mendatangi kamar Elea.
Elea menarik selimutnya dan menutupkannya kembali ke seluruh tubuhnya yang tengah terduduk di atas ranjang.
“Apa Mas Al yang mengganti pakaianku?!”
“Lalu apa kamu pikir orang pingsan bisa mengganti pakaiannya sendiri?”
Alfa membuang nafas kasar, “El, kamu pingsan, baju kamu basah kuyup dan kamu demam tinggi. Lalu apa aku harus memanggil security buat mengganti pakaian kamu? Dan apa masalahnya? Bukankah kita sudah menikah?”
“Apa? Maksud Mas Al apa? Memangnya kenapa kalau kita sudah menikah? Apa itu artinya Mas Al boleh ngelakuin apa aja tanpa seijinku?”
Alfa tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya.
Elea mulai menangis, “Apa Mas Al melihat semuanya?”
“Melihat apa El? Kamu ingin aku melihat apa?”
Elea menangis semakin kencang, “Stop Mas! Tolong tinggalin aku sendiri!”
Elea membuat Alfa benar-benar frustasi. Ia tidak menyangka akan tetap menjadi pihak yang bersalah setelah semua yang dilakukannya kepada gadis itu.
Alfa kemudian mengetuk pintu kamar Elea, “El, maafin aku, ya? Aku janji ngga akan ngelakuin hal seperti itu lagi dan aku ngga ngelihat apapun. Aku menutupnya dengan selimut.”
*****
Alfa tidak berbohong. Malam itu, ia bertemu dengan seseorang untuk membicarakan kasus mi instan yang diduga mengandung bahan berbahaya prosuksi Yusar Grup. Dan ia juga bertemu lagi dengan Ruri yang kebetulan sedang bekerja paruh waktu disana.
Di tengah pembahasan mereka yang sangat serius, Alfa terlihat sangat gelisah dan tidak fokus. Mendung mulai datang dan suara gemuruh petir bersahutan di langit. Alfa berusaha menghubungi Elea tapi ponselnya tidak aktif.
Ruri yang kebetulan bertugas mengantar makanan ke meja Alfa menyempatkan diri untuk menyapa. “Kakak lagi mikirin Elea?”
“Cuma pengen mastiin kalau dia sudah pulang. Hp-nya mati dan satpam bilang dia belum pulang sejak sore.”
“Emang Elea kemana?”
“Entahlah, mungkin ke taman bermain.”
“Tunggu!”
Ruri membuka sosial medianya dan menunjukkannya kepada Alfa, “Davian lagi ada konser di Dies Natalisnya SMA Bina Pemuda. Jadi ngga mungkin datang ke taman bermain.”
“Apa?!”
Alfa bergegas pergi ke taman bermain. Ketika tiba disana, tempat itu sudah sepi dan hampir tutup. Dari kejauhan ia melihat Elea sedang duduk di sebuah kursi di bawah pohon di tengah hujan, seorang diri. Tidak ada siapapun bersamanya.
Alfa turun dari mobilnya hendak membuka payung dan menghampiri Elea tapi belum sempat Alfa membuka payung, tubuh gadis itu sudah oleng dan tergeletak di kursi.
Alfa membuang payungnya lalu bergegas lari menghampiri Elea yang sudah pingsan. Ia kemudian membawa tubuh Elea yang basah kuyup pulang ke aparteman.
Karena tubuh Elea demam, Alfa segera mengganti baju Elea lalu mengompres kepalanya semalaman. Ia tidak bisa tidur semenitpun karena khawatir. Gadis itu terus saja mengigau memanggil-manggil ayahnya dan baru bisa terlelap setelah Alfa mendekapnya.