
Kinara terlihat sangat senang ketika Alfa akhirnya datang mengunjunginya di rumah sakit. Wajahnya terlihat sangat sumringah meskipun Alfa datang dalam keadaan tenang dan tidak terlihat panik sama sekali.
“Aku senang Kak Al akhirnya datang.” Ujar Kinara dengan polosnya.
“Sori gue telat. Lo ngga papa kan?”
“Iya, ngga papa kok. Tadi ada orang yang mau nyelakain aku di jalan. Hp aku dicuri –“ Kinara bercerita panjang lebar dengan penuh semangat karena yakin bahwa Alfa tertarik dan penasaran mendengar ceritanya.
Namun yang ia dapati justru sebaliknya.
“Ya sudah kalau kamu ngga papa.” Potong Alfa ketika Kinara bercerita dengan penuh semangat.”Besok aja dilanjut ceritanya. Aku capek banget. Kalau sudah ada ajudan kamu disini, aku pulang aja ya?”
“Apa ngga bisa Kak Al aja yang nemenin aku disini?”
Alfa melempar malas jasnya ke meja lalu melemparkan dirinya ke sofa dan tidur dengan memunggungi Kinara.
Keceriaan Nara berubah seketika. Ia tahu hal seperti itu bisa saja terjadi padanya. Tapi melihat bagaimana Alfa berusaha bersikap baik kepadanya setahun belakangan ini membuat Nara berfikir bahwa Alfa mungkin bisa berubah dan mencintainya suatu hari nanti.
Ia bahkan rela menuruti kemauan Alfa untuk berkali-kali menunda rencana pernikahan mereka. Nara tahu bahwa Alfa hanya mencari alasan untuk menghindari pernikahan mereka. Tapi Nara tidak peduli. Ia berpura-pura tidak tahu dan hanya menurut saja demi bisa berada lebih lama di sisi Alfa.
Nara berharap kelak Alfa akan menyadari ketulusannya dan merasakan kehilangan yang sangat dalam seperti ketika ia kehilangan Elea saat dirinya pergi. Tapi apa yang ia dapatkan sekarang? Semuanya seolah sia-sia.
Nara membuka tayangan Elea tengah melukis dengan anggunnya di salah satu saluran internet. Tanpa ia sadari, air matanya mulai meleleh dari sudut matanya.
Meskipun sudah lama berlalu, Nara masih belum bisa membiasakan diri dengan pengabaian Alfa terhadapnya.
Terlebih lagi setelah ia mengetahui bahwa Elea telah kembali dan secara kebetulan menggantikannya malam itu. entah kenapa Nara merasa sangat membenci takdir yang seakan tidak berpihak sedikitpun pada perasaannya.
********
Ketika bangun keesokan paginya, Alfa sudah tidak ada di tempatnya semalam. Pria itu sudah pergi entah kemana tanpa meninggalkan pesan apapun seakan Nara tidak pernah ada atau pun berarti baginya.
Rasa takut kehilangan yang sangat besar membuat Nara memberanikan diri untuk mengirim pesan terlebih dahulu kepada Alfa.
(Kak Al dimana?)
Setelah dua jam menunggu, akhirnya Nara hanya mendapat jawaban satu jawaban singkat.
(Kantor)
Nara merasa sangat putus asa. Ia kembali menangis seorang diri di dalam kamarnya hingga Arka datang dan membawakannya sekotak macaron. Nara buru-buru menghapus air matanya dan merapikan penampilannya.
“Kenapa ngga bilang-bilang kalau mau kesini?” tanya Nara berusaha menutupi suara seraknya.
“Gue takut ganggu istirahat lo kalau kirim pesen atau telpon.”
‘Apa mungkin Kak Al berfikir hal yang sama? Apa dia sengaja menahan diri karena takut gangguin gue?’ batin Nara.
“Ra, lo kok malah bengong sih?”
“Oh, iya. Sori. Jadi, lo bawa apa buat gue?”
“Kata orang, makanan manis bisa balikin mood lo. Jadi buruan habisin supaya lo ngga nangis terus.”
“Nangis? Siapa yang nangis?”
“Baguslah kalau lo ngga nangis. Btw, gimana keadaan lo sekarang? Udah baikan?"
Kinara mengangguk, "Aku ngga papa cuma lecet-lecet kecil di tangan."
"Tapi ini tetep harus diobatin serius. Kalo ngga bisa ninggalin bekas luka." Arka terlihat mencemaskan luka di tangan Nara. "Tapi ngga papa, kan ada gue. Gue bakal benerin sampai kulit lo balik lagi seperti semula."
“Makasih dokter Arka." ledek Nara. "Ka, ngomong-ngomong semalam, waktu Kak Al tahu gue ngga dateng ke acara itu dia khawatir ngga? Nyariin gue ngga? Gue ngga tahu sebanyak apa dia misscall gue karena hp lama gue hilang.” Ujar Nara penuh penyesalan.
“Lo sedih hp lo ilang Cuma gara-gara lo ngga tahu sebanyak apa kakak gue nelponin elo?”
“Jadi gimana?”
“Semua orang khawatir dan nyariin elo, Ra. Gue, mama, nelponin elo ada ratusan kali.”
“Gue ngga nanya yang lain Ka. Gue Cuma pengen tahu soal Kak Al.”
“Ya samalah. Kan udah gue bilang. Semua orang ngekhawatirin elo karena ngga dateng-dateng.”
Seketika muncul semu merah di wajah putih Nara. Arka tidak tahu kenapa kebohongan sekecil itu bisa merubah raut wajah Nara seketika.
‘Cinta memang gila.’ Batin Arka.
“Jadi kapan lo boleh pulang?”
“Tergantung Kak Al. Gue bakal pulang kalau dia jemput gue disini dan anter gue pulang. Kapanpun itu.”
“Jadi maksud lo, lo ngga bakalan pulang kalau Al ngga jemput lo, meskipun seisi rumah sakit ngusir lo?”
“Tenang aja! Gue ngga bakal diusir. Duit bokap gue masih sisa banyak kalau Cuma buat bayarin ongkos rumah sakit doang, mah..”
“Gila lo, Ra!”
Nara hanya nyengir saja dikatai gila oleh Arka. “Gue anggep itu pujian.”
******
Tara sudah ada di ruangannya ketika Alfa tiba.
“Kebiasaan lo Tar. Ngga pernah ijin dulu sebelum masuk ruangan gue.”
“Ijin sama satpam? Ato sama tembok?”
Alfa memilih untuk diam. Ia sedang tidak mood untuk bergurau dengan iparnya itu.
“Jadi, lo udah ketemu sama Elea?” tanya Tara to the point.
Alfa yang sedang menggantung jasnya tiba-tiba terhenti ketika mendengar nama Elea disebut.
“Jadi apa yang kalian bicarakan? Dimana dia tinggal sekarang? Dan apa rencana kalian ke depan?”
Alfa memilih untuk keluar dari ruangannya demi menghindari pertanyaan-pertanyaan Tara yang menyesakkannya. Tapi Tara tidak membiarkan Alfa lolos begitu saja. Ia kembali menarik Alfa dan memaksanya duduk di sofa sampai proses introgasi selesai.
“Mau pertanyaan tambahan?” goda Tara.
“Cukup Tar. Gue lagi ngga mood buat main-main.”
“Hmmm... Jadi semalam ngga berjalan lancar? El tahu kalau lo udah tunangan sama Nara?”
“Tar, cukup.... Plis... Gue harus kerja.”
“No! Lo ngga boleh kemana-mana sebelum jawab semua pertanyaan gue.”
“Ngga ada satupun dari pertanyaan lo yang pengen gue jawab. Jadi lo bisa balik lain kali.”
Tidak seperti biasanya, kali ini Alfa tetap nekat pergi meninggalkan Tara seorang diri. Dan itu sudah cukup untuk menjawab semua pertanyaan Tara. Sekarang ia tahu langkah apa yang bisa ia lakukan untuk membantu kedua mantan anak didiknya itu.
Tara mengambil kunci mobilnya dan siap beraksi menumpas kegalauan.
“Sayang, kamu mau kemana?” tanya Handoyo ketika berpapasan dengan Tara di dekat pintu keluar.
“Ada deh... Misi lanjutan.” Jawab Tara sambil mengedipkan sebelah matanya.
******