
Sesampainya di apartemen, mereka menemukan pintu apartemen terbuka, seisi apartemen berantakan seperti kapal pecah. Kamar Elea diobrak-abrik tidak karuan. Begitu juga dengan kamar dan meja kerja Alfa.
Alfa bergegas mengecek kamera cctv, tapi kameranya mati sehingga tidak bisa merekam apapun.
“Sepertinya mereka sengaja merusak kamera cctv untuk menghilangkan jejak.”
“Tunggu! Elea!”
Mereka bergegas menyusul Elea yang tadi pamit mampir ke minimarket sebrang apartemen untuk membeli beberapa barang.
Karena yang dicarinya tidak ada, Elea pergi ke minimarket dekat perempatan yang letaknya sekitar tiga ratus meter dari apartemen.
Ketika kembali dari minimarket, ada dua orang pria memakai masker yang berusaha menghadangnya. Mereka kemudian terlibat perkelahian karena Elea berusaha menyelamatkan diri dari kedua pria itu.
Meskipun memiliki kemampuan bela diri yang lumayan bagus, tapi tubuh Elea terlalu lelah untuk menghadapi kedua pria bertubuh tinggi besar yang tidak sepadan dengannya.
Karena kehilangan banyak tenaga, Elea hampir saja terkena bogem mentah salah seorang pria itu tapi untung saja Alfa dan Arka segera datang untuk menolongnya.
***
Elea menghenyakkan tubuhnya di sofa, ia benar-benar lelah dan kehabisan tenaga.
“Lo ngga papa, El?” tanya Alfa terlihat sangat khawatir.
Elea menggeleng, “Siapa sebenarnya mereka?”
“Mereka pasti orang yang sama mengobrak-abrik apartemen.” Arka menyerahkan segelas air kepada Elea.
“Apa sebenarnya yang mereka cari?”
“Kamu, El. Dan semua bukti yang bisa memberatkan Roni Wijaya.”
Kali ini Alfa setuju dengan pendapat Arka itu. bagaimanapun juga semuanya terlihat sangat nyata dan mengerikan.
“Kak, lo ngga bisa diem aja. Kalau tetap disini, keselamatan Elea bakal terancam. Lo dengar kan tadi Kak Han bilang apa? Keluarga Wijaya bisa ngelakuin apa aja.”
Alfa masih bergeming, ia tidak tahu harus berkata apa. Ia kemudian membangunkan Elea dan menyuruhnya istirahat di kamarnya.
“Jadi lo mau gimana sekarang?” tanya Arka.
“Apa bener lo mau bantu gue soal Roni Wijaya?”
“Lo pasti tahu kalau rumah kita adalah tempat yang paling aman untuk saat ini.”
“Gue ngga yakin.”
“Soal Elea, lo tenang aja. Biar gue yang bilang sama Mama kalau dia temen gue. Mama ngga bakal keberatan dia tinggal sama kita. Janji.” Arka mengacungkan kedua jari tengah dan telunjuknya.
Malam itu Alfa tidak bisa tidur. Ia takut, cemas dan khawatir. Takut kalau-kalau orang suruhan Wijaya akan datang lagi dan mencelakai Elea, takut bahwa Elea akan kesulitan menerima kenyataan tentang latar belakang keluarganya dan takut membayangkan apa yang akan terjadi bila rahasia mereka berdua terbongkar dan diketahui mamanya.
***
“El, karena kejadian semalem, aku jadi khawatir kalau-kalau mereka datang lagi untuk mencelakai kamu.”
“Kak Al bener, El. Bagaimanapun juga lo adalah saksi kunci kasus itu dan keselamatan lo sedang terancam.”
“Mas, aku ngga takut. Aku bakal hadepin apapun asal Ruri mendapat keadilan.”
“Gue ngga nyangka bakal ketemu dua orang kepala batu disini.” Arka melirik Alfa, lalu Elea. “Lo berdua sungguh menakutkan.”
“El, aku berencana ngajak kamu pindah sementara waktu. Sampai keadaan membaik dan kita menuntaskan kasus ini.”
“Pindah? Kemana? Jogja?”
Alfa menggeleng. “Kita akan pindah ke jalan cemara.”
“Rumah Mas Al?”
“Rumah gue juga keles.” sergah Arka tak mau kalah.
Alfa tahu Elea masih ragu, karena itu dia berusaha mencari cara agar bisa mengantar Elea ke sekolah dan bisa bicara berdua dengan Elea.
“Ka, pagi ini gue ada janji sama klien. Tempatnya searahan sama kampus Elea. Jadi biar Elea berangkat bareng gue aja.”
“Oh iya, Mas. Meta katanya juga mau numpang karena motornya mogok tadi pagi.” Elea reflek mengarang cerita untuk mendukung Alfa.
*****
“El, aku tahu kamu keberatan tinggal di rumah aku. Tapi untuk saat ini tempat itulah yang paling aman?”
“Tapi kenapa, Mas? Kenapa Mas yakin kalau rumah Mas Al bakal lebih aman?”
“Karena Roni Wijaya pasti ngga bakal tahu kalau kita pindah kesana?”
“Kalau mereka ngebuntutin kita gimana?”
“Meskipun mereka tahu, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa.”
Alfa melihat masih ada banyak pertanyaan di benak Elea. Matanya memancarkan keraguan dan tanda tanya yang cukup besar.
“El, aku mohon untuk kali ini saja, percaya ya sama aku?”
Elea tersenyum, “Percaya atau ngga, aku ini istrimu dan wajib ikut kemanapun kamu pergi, Mas.”
“Jadi kamu mau?”
“Asalkan itu sama kamu, aku mau Mas.”
Alfa kemudian menatap mata Elea, “Kalau ingat kamu itu istriku mestinya kamu jangan terlalu dekat sama Arka. Gimanapun juga Arka itu cowok dan bukan muhrim kamu.”
“Ooooooh, Mas Al cemburu tho?”
“Dih, siapa yang cemburu. Aku cuma ngga suka aja kamu kecentilan sama cowok lain.”
“Kecentilan? Dih.. bilang aja cemburu susah amat sih?”
“Ngga! aku ngga cemburu.”
Alfa bersiap menyalakan kembali mobilnya, tapi Elea langsung meraih wajah Alfa lalu mengecup bibirnya sesaat.
“Apa-apaan ini? Berani kamu yah?”
Bukannya menyalakan kembali mobilnya dan bergegas pergi ke kampus, Alfa justru membalas ciuman nakal istri kecilnya itu bertubi-tubi.
****
Siang itu sebelum Elea keluar dari kelasnya, Arka sudah datang dan menunggu Elea di bangku gazebo yang ada di taman kampus Elea. Ia sengaja menghindari keramaian karena tidak ingin bertemu dengan orang yang mungjin mengenalnya disana. Setelah lebih dari setengah jam menunggu akhirnya Elea keluar juga dari kelasnya dan Arka bergegas menghampirinya.
“El, sudah mau pulang?”
“Eh, Mas, sejak kapan kamu nunggu di situ?”
“Barusan aja, kok. Yuk buruan!” Arka menarik tangan Elea.
“Tunggu, Mas. Sebenernya siang ini aku ada urusan. Aku sama Niken mau nengokin Ruri di tahanan. Aku sudah info Mas Al kok tadi.”
“Tapi sepertinya belum ada yang ngasih tahu gue.”
“Maaf, Mas, aku ndak tahu kalau Mas Arka mau jemput aku.”
“It’s Okay! Kalian naik taksi online aja. Nanti kita ketemuan disana. biar pulangnya kita bisa barengan.”
“El, ini siapa?” tanya Niken yang baru saja tiba di halaman kampus Elea.
“Oh, iya. Sori, Ken. Ini Mas Arka, adiknya Mas Al. Dan Mas Arka, ini Niken temen SMA aku.”
“Kok ada yah? Dua bersaudara sama gentengnya?”
“Salah liat, lo. Yang ada gantengan gue kale.”
“Dih, narsis!”
“Kok, narsis sih, El. Liat baek-baek deh, cakepan geu kan?”
***
Alfa sudah menunggu Elea dan Niken di depan pintu masuk sebuah Polsek di kawasan Jakarta Selatan.
“Loh, Kak Al. Lo juga ada disini?” tanya Arka yang datang menyusul di belakang Niken dan Elea.
“Harusnya gue yang nanya sama elo. Lo ngapain disini?”
“Nemenin Elea.”
Alfa tidak mau memperumit keadaan, jadi ia membiarkan saja Arka mengikuti mereka menemui Ruri yang masih mendekam di balik jeruji besi.
Tak lama kemudian Ruri keluar untuk menemui mereka. Elea langsung memeluk Ruri lalu menyerahkan oleh-oleh yang dibawanya.
“Ini blueberry muffin kesukaan kamu.”
“Thanks ya El?”
Niken juga memeluk Ruri, “Sori karena gue baru tahu cerita sebenarnya dari Elea.”
“Ngga papa, Ken. Gue baik-baik aja kok.”
“Jadi, Ruri. Apa lo pernah ketemu Roni Wijaya sebelumnya?” tanya Alfa menyela reuni mereka.
Ruri menggeleng. Namun kemudian terlihat sedang mengingat-ingat sesuatu.
“Tunggu! Sepertinya pernah sekali. Beberapa hari sebelum kejadian, pria itu mengikuti mobil Laras sampai ke depan kafe. Dia sempat membuka kaca mobil tapi ngga turun. Terus pergi gitu aja.”
“Fix, Leo pasti tahu sesuatu soal ini. Gue bakal bicara sama dia.”
“Tapi Kak Al, soal pisau itu?”
“Apa kau yakin ada pisau lain yang sama?”
Ruri mengangguk, “Dia membunuh dengan pisau lain yang sama persis. Ketika gue lihat dia nusuk Laras, dia langsung nyerahin pisau lain yang sudah dilumuri darah ke tangan kanan gue dengan tangan kanannya yang mengenakan sarung tangan.”
“Tunggu! Apa lo bilang? Jadi dia membunuh dengan tangan kiri?”
Ruri mengangguk.
“Tidak salah lagi, setahu gue Roni Wijaya memang kidal. Apa hasil autopsi juga menunjukkan bahwa pelakunya kidal?” tanya Arka penasaran.
Alfa menyerahkan dokumen hasil autopsi kepada Arka. “Kita harus bisa menemukan pisau yang asli.”
“Tapi Mas Al, pelaku pasti langsung membuangnya begitu sadar kalau dia sudah menghabisi nyawa orang lain. Kemana kita bakal nyari?”
“Tidak dengan orang yang punya kecenderungan psikologis untuk menyimpan benda-benda yang telah memberinya kesenangan.”
Dan kini semua mata tertuju pada Arka.