My MicroWife

My MicroWife
Suatu Malam di Milan



Keesokan paginya Elea bangun dengan penuh semangat. Ia bergegas mandi dan berdandan paling cantik demi bisa bertemu dengan Alfa. Alexa langsung tahu betapa Elea masih sangat mencintai pria itu hanya dengan melihat bagaimana ia berkali-kali membenahi lipstiknya.


“Lexa, gue pergi dulu.”


“Take care.”


Ketika keluar dari apartemennya, ternyata Alfa sudah menunggunya disana. Musim semi kari itu menjadi salah satu yang paling indah dalam hidup Elea. Mereka berjalan-jalan seharian mengelilingi kota Milan dan Roma.


Keduanya tampak seperti sepasang abg yang tengah dimabuk asmara. Bergandengan kesana kemari dan saling menjaga satu sama lain layaknya pasangan baru yang sedang takut-takunya pasangannya tergores aspal karena jatuh.


Setelah puas berjalan-jalan dan makan bersama seharian mereka akhirnya tiba di depan apartemen Elea. Seakan enggan untuk berpisah, mereka berdiri cukup lama dan sama-sama saling mencari bahan obrolan untuk mengulur waktu perpisahan.


“Oh ya, El. Besok aku sudah harus balik ke Jakarta.”


“Besok?”


Alfa mengangguk, “Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan.”


“Okay. Besok aku anter Mas Al ke bandara yah? Kalau gitu aku masuk dulu.”


“El, boleh aku tahu apartemen kamu?”


Awalnya Elea ragu, tapi mengingat Alfa akan kembali ke Jakarta besok, ia akhirnya mengijinkan Alfa masuk ke apartemennya.


Elea juga memperkenalkan Alfa dengan Alexa, teman serumahnya selama beberpa tahun terakhir.


“Lexa, ini Mas Al. Dan Mas Al, ini Alexa.”


“Alexa.”


“Alfa.”


“Ah, silakan masuk.” Alexa mempersilakan Alfa dengan ramah. “Anggep aja rumah sendiri.”


“Thanks, Lexa.”


“you are welcome, Mr. Ex.”


“Hah?”


“Just kidding.” Alexa memberikan senyuman termanisnya kepada Alfa dan Elea. “Oh ya, El. Aku mau pergi ke tempat Peter dulu. Kalian nikmatin aja ngobrolnya yah?”


“Tapi Lex, ini kan udah malam.”


“Ini bukan Jakarta, sayang. Udah ah, bawel banget lo.” Alexa pergi demi memberikan ruang dan waktu untuk Alfa dan Elea.


Tak lama kemudian Alexa mengirim pesan bahwa ia mungkin akan bermalam di rumah Peter malam ini. Dan Alfa yang sempat membaca dari tampilan layar ponsel Elea yang tergeletak di meja tersenyum melihat ketulusan teman Elea itu.


“Mas Al kenapa senyum-senyum gitu?” tanya Elea ketika kembali dengan minuman di kedua tangannya.


“Ngga papa.” Alfa melihat-lihat isi apartemen Elea dan menemukan medali SH masih tersimpan rapi di kamarnya.


Elea kemudian membuka ponselnya dan membaca pesan dari Alexa dan tahu kenapa Alfa tertawa.


Mereka akhirnya kembali ngobrol panjang lebar tentang kehidupan yang mereka alami selama tiga tahun terakhir. Pembicaraan seakan tidak ada habisnya sampai mereka lupa bahwa waktu sudah begitu larut.


“Mas Al ngga balik ke hotel? Udah jam satu malam ini.”


“Udah kemaleman, El. Capek juga. Karena Alexa rela tidur di luar demi kita, jadi aku ngga mau nyia-nyiain kebaikan Alexa.”


Alfa naik ke atas sofa dan langsung tidur begitu saja.


“Mas, bangun! Mas Al beneran mau tidur disini?”


Setelah cukup lama Elea membangunkannya, Alfa akhirnya membuka mata dan melihat wajah Elea hanya berjarak beberapa centi meter di hadapannya. “Kamu berharap aku tidur di kamar kamu?”


Elea sedikit menjauh dari Alfa, “Ya bukan gitu juga. Mendingan Mas Al balik ke hotel aja deh.. ngga jauh kok...”


Alfa justru menarik tangan Elea dan membuat wajah mereka kembali berdekatan. Alfa kemudian memberanikan diri mendekat dan mencium bibir Elea.


Dan Elea seakan hilang kewarasan karena ia pasrah saja menerima kecupan dari Alfa. Ada dorongan yang begitu kuat yang memaksanya untuk bertahan dan menikmati kebersamaan mereka.


******


Elea yang masih sangat mengantuk membuka matanya dan menyadari bahwa ia tengah tidur di samping Alfa.


Karena suara ketukan tak kunjung berhenti, jadi dengan setengah sadar, Elea membuka pintu karena berfikir bahwa Alexa sudah pulang.


“El?!”


“Jack?!” Elea membelalakkan matanya.


Ia tidak percaya bahwa Jack akan datang ke apartemennya pagi itu.


Jack melihat Alfa tengah berbaring di lantai dalam keadaan kacau. Lalu kembali mengamati keadaan Elea yang tidak jauh berbeda dengan Alfa.


Jack menyerahkan makanan yang dikirim ibunya untuk Elea lalu pergi tanpa sepatah katapun. Elea tahu betul bahwa ia telah melukai perasaan Jack. Jadi ia buru-buru membangunkan Alfa dan mengusirnya.


“Mas Al bangun!”


“Ada apa sih Al?”


“Ada apa?”


Alfa menerjapkan matanya yang masih lengket, lalu mencoba untuk duduk dan mengingat kembali apa yang terjadi. “Ada apa?”


“Jack baru saja datang dan melihat kita tidur bersama.”


“Lalu?”


“Sekarang Mas Al pergi dari sini! Semuanya kacau gara-gara Mas Al.” Elea mendorong Alfa keluar dari apartemennya dalam keadaan masih kacau balau.


“Tapi El!”


Elea sudah mengeluarkan Alfa dan membanting pintu apartemennya tepat di hadapan Alfa.


Elea merasa sangat frustasi. Di satu sisi, ia merasa bersalah kepada Jack. Namun disisi lain ia merasa tidak bersalah karena menuruti kata hatinya dan itu membuatnya membenci dirinya sendiri.


*****


Siang itu, Elea sibuk mencari keberadaan Jack dan mereka akhirnya bertemu di perpustakaan kota tempat Jack biasa membaca buku-buku kesukaannya.


“Jack, aku minta maaf soal tadi. Itu semua salah paham. Tolong dengar penjelasanku!”


Jack mengajak Elea duduk di sebuah bangku di taman dan memberinya waktu untuk berbicara.


“Semalam Mas Al nganter aku pulang dan karena kelelahan ngobrol, kami ketiduran di depan sofa. Kami hanya tertidur dan tidak terjadi apapaun. Sungguh, Jack.”


Bukannya marah, Jack malah tersenyum dann berkata, “Itu sudah cukup memberiku banyak penjelasan. Jadi apa kau sudah makan Risotto buatan ibuku?”


“Aku belum sempat makan apapun karena sibuk mencarimu kemana-mana.”


“Kalau gitu, ayo makan makanan yang enak!”


Seperti itulah Jack. Ia tidak pernah mempermasalahkan hal-hal kecil, paling pandai membuat orang lain merasa lebih baik dan tenang. Ia adalah orang yang sangat banyak membantu Elea melalui masa-masa sulit sebagai penerima beasiswa di salah satu universitas ternama di Milan.


Ayah dan ibunya menyayangi Elea seperti anak kandung mereka sendiri. Ayahnya bahkan menjadi guru dan panutan yang luar biasa hebat untuk Elea. Dan sekarang Elea merasa sangat jahat karena mengkhianati Jack.


******


Sore harinya, Alfa menunggu Elea yang berjanji akan mengantarnya ke bandara. Karena sudah menunggu terlalu lama dan Elea belum juga datang, Alfa memutuskan untuk pergi sendiri dengan taksi.


Sebelum pergi, ia mampir ke apartemen Elea dan hanya bisa bertemu dengan Alexa. Dengan penuh penyesalah dan putus asa, Alfa memutuskan untuk bergegas pergi ke bandara tanpa bertemu dnegan Elea lagi kali itu.


******


Ketika pulang ke apartemen, Alexa menceritakan bahwa Alfa tadi datang untuk berpamitan tapi tidak bisa bertemu dengan Elea. Elea yang tadinya marah kepada Alfa yang membuatnya terlihat jahat di hadapan Jack sekarang merasa sangat sedih dan kehilangan dengan kepergian Alfa.


Ia benar-benar merasa seperti orang gila. Pikiran dan perasaannya berubah-ubah tak tentu arah dan ia akhirnya hanya bisa menangis menumpahkan kekesalan dan kecewanya kepada Alexa.


Alexa yang sudah lama mengenal Elea tahu betul bagaimana perasaan dan posisi Elea saat ini. jadi ia tidak bisa banyak membantu memberikan saran karena ia tahu semuanya tidak akan mudah untuk Elea lakukan.


Alexa hanya membiarkan dan menemani Elea menangis semalaman karena ia yakin, gadis itu akan segera membaik setelah pagi tiba.


******