My MicroWife

My MicroWife
Double Date



Keesokan paginya Alfa mengajak Beni dan Elea jalan-jalan untuk merayakan hari jadi pernikahan mereka yang pertama dan juga ulang tahun Elea yang ke delapan belas.


“Mumpung Mas Beni masih di sini.”


“Oke, tapi ajak temen kamu ya, El?”


“Teman?”


“Iya. Yang kemarin ke sini atau teman Alfa juga ngga papa. Pokoknya aku ngga mau jadi obat nyamuk kaya semalem lagi.”


Elea dan Alfa saling berpandangan lalu tertawa tersipu-sipu mengingat ke-alay-an mereka semalam.


***


Siang itu Alfa benar-benar sedang ingin memanjakan Elea. Setelah menjemput Niken mereka pergi ke taman bermain.


Elea mengajak Alfa menaiki wahana-wahana ekstrim yang menguji adrenalin. Mulai dari roller coaster, giant swing, hysteria dan tornado. Wajah Alfa sampai merah hitam karena mual muntah gara-gara menaiki wahana tersebut.


Setelah Alfa mulai membaik, Elea kembali mengajak Alfa menaiki komedi putar.


“El, kamu yakin kita mau naik ini?”


Alfa berusaha mencari alasan agar ia tidak harus naik wahana yang dipenuhi anak-anak kecil itu. tapi Elea terus saja memaksanya dan akhirnya ia mengalami juga disebut sebagai om-om yang masa kecilnya kurang bahagia.


Meskipun harus menahan malu, tapi Alfa merasa senang bisa merasakan pengalaman menyenangkan seperti kebanyakan anak kecil lainnya. Karena meskipun sudah berkeliling dunia untuk wisata sejak kecil, Alfa belum pernah sekalipun naik komedi putar yang sangat memalukan seperti tadi.


Elea kemudian mengajak Alfa menjajal mesin capit. Sudah beberapa koin dimasukkan Alfa ke dalam mesin tapi tak satupun boneka yang berhasil mereka dapatkan.


“Udah, ah! Mau-mau aja dibodohi mesin beginian. Kalau kamu mau boneka aku bisa belikan kamu sebanyak yang kamu mau kalau perlu kita beli mesin ini sekalian.”


“Iiiih, mana seru kalau kaya gitu? Ngga ada seninya, Mas.” Elea masih belum mau menyerah.


Alfa akhirnya membeli puluhan koin lagi dan mencoba keberuntungan sebanyak itu hingga akhirnya berhasil mendapatkan sebuah boneka angri bird kecil berwarna merah.


***


Sebelum meninggalkan taman bermain, mereka menghampiri sebuah stan foto box lalu mengambil beberapa foto berempat. Kemudian Beni mengajak Niken untuk keluar lebih dulu hingga tersisa Elea foto berdua saja dengan Alfa.


Elea memaksa Alfa berfoto dengan banyak ekspresi wajah, mulai dari galak, jutek sampai menggelikan. Terakhir mereka memasang pose senyum manis tapi kemudian tepat pada hitungan ketiga Elea tiba-tiba saja mengecup pipi kiri Alfa dan membuat Alfa terbelalak di fotonya.


***


Siang harinya Alfa mengajak mereka makan siang bersama. Alih-alih memilih restoran mahal yang belum pernah dikunjunginya, Elea justru memilih kafe yang menjual menu kekinian dan es krim paling enak menurut Elea.


Meskipun merasa kurang nyaman makan di tempat yang dipenuhi anak-anak muda seperti itu, Alfa tetap berusaha menyesuaikan diri.


“El, ini steak apaan sih? Keras banget?"


“Itu namanya crispy chicken steak."


“Pesani aku makanan yang lain!”


Tak lama kemudian, datang seloyang pizza dengan lelehan keju mozarella di atasnya.


“El, kenapa pilih mozarella sih? Jadi kaya makan karet aja.”


“Ih, Mas Al ngga gaul banget sih?”


“Tapi ini menunya aneh semua. Cuma main rasa pedes aja, bener ngga Mas Ben?”


“Iyo, bener, El. Masih enakan gudeg bikinan ibu.”


“Beh, kalau itu sih juara. Kapan-kapan Mas Al mesti coba gudeg bikinan bulik. Dijamin ketagihan deh..”


“Beda Ken, bumbu gudeg buatan bulik mah enak banget. Ngga eneg gitu biarpun manis.”


“Kapan-kapan kalau kesini lagi tak bawakan yo, Ken?”


“Wah, makasih banget loh Mas Ben.”


Setelah puas makan, mereka lanjut berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan yang cukup terkenal dan selalu ramai.


“Wah, El. Enak banget yah punya suami tajir? Lo mau apa aja keturutan dan ngga pusing mikirin siapa yang mau bayar. Coba lo pacaran sama anak SMA yang ada tiap hari kencan lo berakhir di kantin sekolah doang. Kalaupun kencan di luar, doi bakalan perhitungan karena jatah jajan dari emaknya limited. Ujung-ujungnya kita juga yang ikutan bayarin. Bukannya untung malah buntung.”


“Lo mau pacaran apa dagangan? Cari untung mulu?”


“Yah wajahlah, kan cowok itu bakalan jadi sosok suami yang bertanggung jawab dan menafkahi lahir batin. Jadi sudah seharusnya mereka berkorban demi menyenangkan sang pacar.”


“Ya kalau gitu lo pacaran aja sama cowok yang sudah kerja. Di kantor Mas Al ada banyak yang kayanya masih jomblo. Ntar gue kenalin deh..”


“Beneran? Wah, asyik! Lo emang paling keren deh... tapi suami lo lebih keren. Liat aja tuh dompetnya tebel banget. Belanja sebanyak ini tapi doi santuy-santuy aja. Duh, bikin keki deh..”


“Eh, Kak Al, makasih yah udah ditraktirin makan sama belanja juga?”


“Sama-sama Ken. Makasih dah mau temenin kita jalan-jalan.”


“Kak sebenernya tadi aku sudah sempat pesen empat tiket buat nonton, tapi kebetulan aku ada acara mendadak, jadi mesti buru-buru pulang. Ngga papa kan kalau aku pamit duluan?”


“Iya ngga papa.”


“Tapi, Ken?”


Niken mengirimkan tiket nonton onlinenya kepada Elea sebelum pergi.


“Kalau gitu aku anterin Niken pulang, yah? Kasihan kalau dia pulang sendirian.”


“Tapi Mas, emang Mas Beni tahu caranya pulang ke apartemen?”


“Taulah, kan ada taksi online El?”


Alfa menyerahkan kunci apartemennya kepada Beni, “Kabari kalau sudah sampai rumah ya, Mas?”


***


Alfa dan Elea memasuki studio bioskop. Elea tidak tahu film apa yang sebenarnya ingin Niken tonton malam itu. Dan entah kenapa Niken memilih tempat duduk paling belakang padahal bangku tengah masih banyak yang kosong.


“Mas, ini sebenernya film apa sih?”


Alfa mengangkat kedua bahunya berpura-pura tidak tahu. Padahal ia sudah sempat mencari tahu sinopsisnya dan ia tahu betul kenapa Niken memilih film itu untuk mereka berdua.


Sebuah film tentang pernikahan seorang crazy rich asia yang dibumbui banyak adegan romantis. Dimana hubungan Nick yang seorang anak konglomerat dan Rachel, seorang profesor ekonomi ditentang oleh keluarga Nick.


Selain romantis film itu juga menyuguhkan beberapa adegan lucu yang lumayan membantu Alfa merasa sedikit lebih santai.


Namanya juga film pernikahan, bukan hal aneh bila ada beberapa adegan kecil ketika kedua tokoh utama bercumbu di atas ranjang atau sekedar saling berciuman mesra di tengah-tengah kebersamaan mereka.


Dan tentu saja hal itu cukup canggung bagi Alfa dan Elea. Mereka merasa gerah dan kikuk satu sama lain. Namun untung saja keduanya bisa menahan diri hingga film benar-benar berakhir.


“Gimana El? suka filmnya?”


“Niken benar-benar kelewatan. Bisa-bisanya dia memilih film seperti itu.”


“Memangnya kenapa? Lucu kok.” Alfa senang melihat Elea salah tingkah.


***