
Setelah mendatangi hotel tempat Elea bertemu Alfa dan Arka, Tara mendatangi firma hukum milik ibu mertuanya, Cecilia Judith, SH, MH dan rekan. Ada seseorang yang perlu ia temui dan mintai pertolongan.
“Mbak Tara cari saya?”
“Pak Sulton apa kabar?” tanya Tara ramah.
“Wah, perasaan saya ngga enak ini.”
“Ayolah! Pak Sulton kaya ketemu sama debt colector aja” ujar Tara sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Apa lagi kali ini?” tanya Sulton to the point.
Tara menyerahkan foto-foto dari rekaman kamera cctv yang ada di hotel kepada Sulton. “Saya mau minta tolong Pak Sulton buat cari tahu soal dua orang ini. Penting! Dan ngga pake lama.”
Sulton menatap Tara penuh tanda tanya. Lalu Tara meletakkan telunjuknya di bibir.
“Stttt! Top Secret.”
“Bu Sisil juga ngga tahu?” tanya Sulton memastikan.
Tara hanya bisa mengangguk memohon pengertian Sulton, lalu menyodorkan amplop berisi sejumlah uang di atas meja. “Mohon bantuannya ya, Pak!”
Sulton tidak bisa lagi menolak permintaan menantu bosnya itu.
*****
“Kamu darimana aja sayang? Kok baru pulang?” tanya Handoyo ketika istrinya baru tiba di rumah.
“Jalan-jalan sebentar.”
“Mama bilang kamu mampir ke kantornya. Ada apa?”
“Ngga ada apa-apa. Kangen aja. Lama ngga kesana.” Jawab Tara sambil menghenyakkan tubuh lelahnya di sofa.
Handoyo menghampirinya dengan segelas minuman, “Dan kamu berharap aku percaya sama alasan payah kamu?”
Tara meraih gelas dari tangan suaminya sambil tersenyum. Ia senang memiliki suami yang sangat memahaminya seperti Handoyo.
“Aku nyariin Pak Sulton.”
“Pak Sulton? Ada apa?”
“Aku minta bantuan dia buat nemuin Elea dan menyelidiki pria yang bersamanya. Kita harus memastikan kondisi yang ada saat ini.”
“Sayang, bukannya itu sudah kelewatan? Kamu meminta orang untuk memata-matai Elea?”
“Bukan memata-matai. Hanya mencari informasi. Kalau itu didapat dengan cara memata-matai, maka itu adalah bagian dari apa yang disebut dengan metode. Namanya juga usaha.”
“Lalu apa tujuan kamu?”
“Kita harus meluruskan kesalahpahaman diantara Elea dan Alfa. Tanta Lita makin gencar memaksa Alfa untuk menikahi Nara. Ini adalah kesempatan terakhir mereka untuk menentukan perasaan dan pilihan masing-masing. Kita hanya perlu membukakan jalan agar mereka tidak menyesali pilihan mereka seumur hidup.”
“Lebay!” Handoyo meninggalkan Tara yang masih menggebu-gebu begitu saja.
“Sayang! Aku belum selesai ngomong.”
*******
Ternyata apa yang Tara katakan benar adanya. Meskipun Elea kembali sebagai sosok yang sangat jauh berbeda dari Elea yang dulu, tapi Erlita masih saja khawatir kalau Alfa akan kembali goyah dan mengambil langkah yang salah dengan meninggalkan Nara.
Ia berusaha mencegah kekacauan yang mungkin akan ditimbulkan putranya dengan mempercepat rencana pernikahan mereka.
“Ma, berapa kali harus Al bilang sama mama? Al belum siap buat nikahin Nara, Ma.”
“Tapi kenapa, Al? Kalian sudah lama bertunangan. Mau nunggu apalagi? Sampai kamu siap? Kapan? Kamu pernah ngga mikirin perasaan Nara?”
“Kenapa aku harus mikirin perasaan Nara sementara mama ngga pernah sedikitpun peduli sama perasaan aku.”
“Al! Kamu sudah dewasa Al. Kamu ngga bisa terus-terusan bersikap kekanak-kanakan kaya gini. Kamu sudah melamar Nara jadi kamu harus bertanggung jawab dan segera menikahi dia!”
“Oh, sekarang mama melemparkan tanggung jawab sama Al? Mama lupa kalau mama yang ngelamar Nara, Ma. Bukan Al. Mama yang memaksakan pertunangan itu sekeras apapun Al nolak. Dan sekarang mama bicara soal tanggung jawab? Mama yang seharusnya bertanggung jawab! Bukan Al!”
“Al! Tunggu! Mama belum selesai ngomong!”
Brak. Alfa sudah membanting pintu dan pergi meninggalkan Erlita begitu saja.
Nafan menemani Erlita yang tengah menyendiri di balkon kamarnya. “Lagi mikirin apa, Ma?”
“Al, Pa. Sampai kapan dia mau menggantung Nara seperti ini? Mama malu sama orang tuanya Nara, Pa.”
“Lalu apa rencana mama?”
“Mama akan memilih tanggal di bulan depan dan menetapkan acara pernikahan mereka.”
“Bulan depan? Apa tidak terlalu mendadak, Ma? Banyak yang harus kita persiapkan.”
“Pakai jasa WO aja, Pa. Yang penting mereka segera resmi menjadi suami istri.”
“Kamu kenapa jadi kaya gini sih, Ma?”
“Mau gimana lagi, Pa? Anak itu sudah kembali ke sini. Apa papa pikir Alfa akan tetap mau menikahi Nara.”
“Kalau mama tahu Alfa ngga menginginkan pernikahan itu, kenapa ngga mama lepasin aja?”
“Maksud papa apa? Dimana mama taruh muka mama di hadapan keluarganya Nara, Pa?”
“Kenapa mama peduli sama pandangan mereka sementara mama mengabaikan perasaan anak kesayangan mama. Bagaimanapun Alfa itu anak kita, Ma. Kita ngga boleh mengorbankan perasaannya hanya demi menjaga martabah dan harga diri kita di hadapan keluarganya Nara.”
“Tapi Pa –“
“Lagipula Elea sudah dewasa sekarang. Penampilannya sudah berubah dan pemikirannya semakin matang. Dia juga seorang pelukis terkenal sekarang. Salah satu kenalan papa di Itali mengirimkan foto pameran dia disana. Luar biasa, Ma. Coba mama lihat.”
“Tapi Pa –“
“Dan yang lebih penting, malam itu dia sudah lebih dulu menyelamatkan muka dan nama baik mama di hadapan banyak orang. Coba kalau dia ngga mau gantiin Nara, pasti mama akan lebih dipermalukan oleh kolega-kolega mama yang luar biasa itu. ya kan?”
“Tapi Pa-“
“Berkat Elea, acara pameran mama sukses besar bahkan mungkin bisa dibilang melebihi ekspektasi. Bener ngga ma?”
“Tapi Pa –“
“Sudah, ngga usah kebanyakan tapi lagi. Sudah waktunya mama menyerah pada Alfa dan berterima kasih kepada Elea. Mereka berhak bahagia seperti kita karena mereka anak-anak kita, ma.”
*******
Erlita terus memikirkan semua yang suaminya katakan. Ia memang banyak berhutang budi kepada gadis itu. selain itu, Nafan benar bahwa Elea sudah banyak berubah. Ia bukan lagi gadis lugu yang tidak tahu apa-apa dan hanya bisa menempel kepada Alfa seperti parasit. Ia tumbuh dengan baik dan berubah menjadi wanita anggun yang cerdas dan berkelas.
Ia bahkan mampu menyaingi ketenaran Nara yang lebih dulu terjun ke dunia seni rupa. Tidak hanya itu, Elea memiliki bakat dan kemampuan seni di atas rata-rata yang bahkan mungkin tidak dimiliki Nara. Karya-karyanya begitu tulus dan menyentuh.
Erlita tak henti-hentinya memandangi beberapa lukisan karya Elea yang sempat ia beli dari luar negeri yang ia simpan dengan sangat baik di ruangan pribadinya. Tak ada seorangpun yang tahu bahwa ia adalah salah satu penggemar berat karya-karya Elea.
“Ma!”
Erlita langsung menutup ruangan pribadinya begitu mendengar suara Arka mendekati ruang kerjanya.
“Mama lagi apa disini?”
“Ada beberapa hal yang harus mama kerjakan. Ada apa, Ka?”
“Ma, soal pernikahan Kak Al dan Nara yang bakal digelar bulan depan itu bener?”
Erlita mengangguk, “Orang tuanya Nara yang memutuskan.”
“Dan mama nerima gitu aja?”
“Mau bilang apa lagi? Mereka sudah terlalu lama menunggu dan mama ngga punya keberanian lagi untuk menunda apa lagi membatalkan.”
“Membatalkan? Maksud mama apa?”
“Alfa menolak pernikahan itu. dia marah besar sama mama dan sekarang menolak untuk bicara dan ketemu sama mama. Mama bisa apa?”
Arka justru memeluk mamanya dengan tulus. “Love you, Ma.”
"Arka! Kamu mau kemana?" Arka sama sekali tidak menggubris panggilan mamanya. "Maksudnya apa sih tu anak? Aneh banget."
********