
Tanggal empat april adalah hari ulang tahun Elea yang ke delapan belas. Malam harinya, Alfa sengaja mengajak Beni dan Elea nongkrong bareng bersama teman-teman kantornya untuk memperingati hari ulang tahun Elea. Tentu saja pasangan gokil Tara dan Handoyo akan hadir dan membuat kekacauan disana.
“Gimana, Mas?” Elea keluar dengan mengenakan dress selutut berwarna biru.
“Bagus.”
“Ngga ah, terlalu ketat.”
Elea kembali ke kamarnya dan tak lama kemudian ia kembali keluar dengan mengenakan setelan blus dan celana jeans, “Kalau ini gimana, Mas?”
“Oke.”
“Terlalu dewasa.” Lagi-lagi Elea kembali masuk ke kamarnya.
Berkali-kali ia keluar masuk kamar dengan berganti-ganti baju dan itu benar-benar membuat Alfa menahan kesabaran ekstra.
Untuk kelima kalinya, Elea kembali keluar dari kamarnya dengan mengenakan blus lengan pendek dengan rok mini berbahan bludru berwarna coklat tua. “Gimana, Mas?”
“Perfect!”
Dan mereka bertigapun berangkat menuju kafe di tengah kota.
Alfa memperkenalkan Beni dengan teman-teman kantornya lalu mempersilakannya duduk di kursi kosong di dekat Rosa. Alfa kemudian mengajak Elea duduk kursi kosong di dekat Tara dan tepat di sampingnya.
“El, aku ke toilet bentar yah?”
Tak lama kemudian Alfa kembali dan melihat segelas es kopi krim dihidangkan di hadapan Elea. Secepat kilat Alfa menyambar gelas itu lalu menghabisakannya sendiri.
Tara belum pernah melihat Alfa seperti itu sebelumnya.
“Al, lo ngga papa?”
“Ngga! Gue ngga papa. Dengar mulai hari ini, siapapun itu, jangan pernah memberi Elea kopi!”
“Tapi kan ini cuma es kopi latte?”
“Apapun! Gue ngelarang Elea minum kopi apapun bentuknya.”
“Lo kenapa sih, Al? Aneh banget deh!” Tara benar-benar heran dengan sepupu iparnya yang satu itu.
Beni yang sudah paham hanya tersenyum-senyum saja melihat Alfa mati-matian melarang Elea minum kopi.
‘Sepertinya Alfa sudah pernah menjadi korban kebar-baran Elea.’ Banti Beni
“Ros, tolong pesanin es coklat aja buat Elea!”
“Siap Mas Bos!”
Tidak hanya soal minuman, Alfa juga yang memesankan makanan untuk Elea. Semua Alfa yang memilih dan menetukan. Sementara Elea hanya pasrah saja menuruti kemauan Alfa.
Alfa memisahkan daging ikan dengan durinya, memotong steak kecil-kecil dan memilihkan daging ayam dari tulangnya lalu memberikannya kepada Elea. Melihat Alfa begitu perhatian kepadanya di tengah hiruk pikuk keseruannya bersama teman-temannya membuat hati Elea leleh.
Setiap gerak, tawa dan tatapan Alfa terasa seperti arus listrik kuat yang menyengat hati dan pikirannya. Elea merasakan bahwa semua yang dilihatnya pada Alfa sangatlah keren dan menarik.
Hatinya berdebar tak karuan ketika di tengah senda gurau, Alfa menyempatkan menggenggam tangan Elea yang berada di atas pangkuannya di bawah meja.
Mekipun Elea hampir tidak mengerti sama sekali dengan isi pembicaraan dan candaan mereka, tapi Alfa selalu saja bisa membuatnya nyaman, bahkan hanya dengan diam-diam memegang tangannya seperti itu.
“Ya kan, El?” tanya Tara tiba-tiba.
“Ya?” Elea tidak tahu harus menjawab apa karena sejak tadi pikirannya berkeliaran kemana-mana dan sama sekali tidak menyimak pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.
“Mana Elea tahu? Dia kan ngga punya pacar.” Jawab Alfa mewakili Elea.
“Emang iya, El? Beneran cewek secantik kamu belum punya pacar?”
Elea menggeleng sambil cengar-cengir.
“Kenapa, El?”
“Karena gue yang ngelarang dia pacaran.”
“Wah, Pak Al, itu sih namanya pelanggaran HAP?” Nana tiba-tiba saja terpanggil untuk menyampaikan aspirasinya.
“HAP?”
“Hak Asasi Pacaran.” Afgan, salah satu staf Alfa ikut angkat suara. “Kasihan banget Elea, Pak. Padahal kan masa SMA itu masa indah-indahnya. Cinta monyet, pacaran, putus, galau, pdkt lagi, itu bagian paling seru waktu kita jadi anak SMA.”
“Gan, ngga heran lo kesulitan fokus saat menyelidiki kasus, waktu SMA lo kebanyakan galau. Jadi pelajaran lo ngga sempat mampir ke otak lo.”
“Hahahahaha...” Dan mereka semuapun tertawa.
***
“Mas, emang beneran aku ngga boleh pacaran?”
“Mana ada suami yang membiarkan istrinya pacaran sama cowok lain? Gila aja..”
“Berarti aku ngga bisa dong ngerasain cinta SMA kaya yang dibilang Kak Afgan tadi?”
“Siapa bilang?”
“Kamu bakal ngerasaain cinta dan pacaran melebihi siswa SMA manapun.”
“Beneran?”