
“Jadi gimana filmnya, El?”
“Kamu tuh rese yah? Bisa-bisanya milihin film kaya gitu?”
“Tapi lo suka, kan?”
“Bagus sih, tapi...”
“Tapi apa hayo?? Eh, eh, terus gimana?”
“Gimana apanya?”
Niken merapatkan kelima jari tangannya lalu mendekatkannya seperti menirukan adegan ciuman sambil menaik-turunkan alisnya penasaran.
“Ihhh, otak kamu ngeres, Ken. Buruan ambil sapu gih!”
“Yaaah, gagal dong?”
“Apanya?”
“Kasihan banget Kak Al. Padahal gue udah rela-relain uang jajan gue buat beliin kalian tiket. Supaya kalian bisa –“
“Kamu ini ngomong opo, tho?”
“Lo tuh jadi cewek ngga peka banget sih, El? Kak Al itu kan cowok dan dia suami lo –“
“Sssssst..” Elea menempelkan telunjuknya di bibir Niken. "Nanti kalau ada yg denger gimana? Kamu kan sudah janji mau jaga rahasia?"
Niken kemudian memelankan suaranya, “Dia itu udah ngelakuin semuanya buat elo, masak iya lo ngga pengen ngasih sesuatu yang berarti buat dia?”
“Sesuatu yang berarti? Maksudmu opo sih?” Elea sama sekali tidak paham dengan maksud perkataan Niken.
“Elea! Elea! Lo tu jadi cewek lemot banget sih." ujar Niken sambil menoyor kepala Elea. "Ya itu! Suami itu paling seneng kalau dicium mesra sama istrinya.”
“Ih, ngaco tenan kamu ini. Kita kan masih sekolah. Masih anak-anak. Mana boleh ciuman kaya gitu?”
“Mbuhlah El! Terserah lo aja.” Niken mencebik karena kesal.
Tak lama kemudian guru bahasa inggris masuk dan memberikan pelajaran tentang grammer. Beliau juga kembali mengingatkan ujian akhir nasional yang sudah semakin dekat dan menghimbau semua siswa untuk lebih giat belajar agar mendapatkan hasil maksimal.
"So, are you ready?!" tanya Miss Rara dengan penuh semangat.
Dan dijawab 'We are ready!' oleh seisi kelas.
“Ini Mas Al, kenapa sih? Tumben-tumbenan kirim pesan ngga jelas gini?” gumam Elea lirih sembari membaca pesan masuk di ponselnya.
Meskipun kesal, tapi Niken tidak bisa menyembunyikan rasa keponya. Jadi Elea menunjukkan isi pesan Elea kepada Niken.
(Semangat!)
“Ya elah, El, itu namanya perhatian. Kalian kan sudah kencan seharian kemarin. Terus hari ini Kak Al pengen nunjukin perhatiannya sama kamu. Itu artinya, Mas Al menganggap bahwa kalian resmi berpacaran.”
“Pacaran?!”
“Elea? Kamu bilang apa?” tanya Miss Lidya ketika tiba-tiba saja mendengar suara lantang Elea di tengah kelas yang sedang sunyi dan fokus mendengarkan penjelasan Miss Lidya.
“Ups! Maaf, Miss. Bukan apa-apa.”
Elea mununduk karena malu. Seisi kelas baru saja memperhatikan dan menertawakannya karena tingkah konyolnya itu.
‘Apa mungkin semua yang dibilang Niken itu benar? Apa mungkin Mas Al beneran mau pacaran sama aku? Duh, gimana aku harus ngadepin Mas Al kalau ketemu di rumah nanti? Dan apa benar Mas Al mengharapkan adegan ciuman seperti yang dibilang Niken? Aku mesti gimana nih?’
“Elea! Tolong perhatikan penjelasan saya! Kamu harus fokus kalau ngga ingin ketinggalan pelajaran."
“Ah, iya Bu. Maaf...”
“Dari tadi saya perhatikan kamu sama sekali tidak memperhatikan papan tulis.”
“Maaf, Bu. Apa boleh saya ke belakang sebentar?”
Elea merasa perlu menjernihkan pikirannya.
Ketika keluar dari toilet wanita Elea bertemu dengan Davian.
“El, tunggu. Gue mau ngomong bentar ama elo.”
“Mo ngomongin apa lagi sih, Kak?”
“Gue mau minta maaf soal surat itu."
"Udah lupain aja. Ngga masalah kok. Akunya aja yang salah paham."
"Kalau gitu, plis terima ini sebagai permintaan maaf gue.” Davian memberi Elea sebuah ikat pinggang rantai berukuran kecil berwarna emas.
"Sori, gue ngga bisa."
"El, plis..
***