My MicroWife

My MicroWife
Korban Fans Bar-Bar



Siang harinya, ketika beristirahat di kantin, Elea tengah menikmati makan siangnya bersama salah satu teman sekelasnya. Sebelum Bianca datang dan tiba-tiba saja menuangkan botol air mineral Elea ke piringnya yang masih berisi makanan.


“Bi! Kamu apa-apaan sih?” Elea bangun dari duduknya.


Bianca menyisakan sedikit air di dalam botol, “Ups, sori... sengaja! Hahaha..”


“Bi! Ini ngga lucu tahu!” Elea berusaha meraih air mineral dari tangan Bianca tapi gadis itu malah sengaja menumpahkan sisa airnya ke baju Elea.


“Ups, basah deh!”


Elea buru-buru lari untuk mengeringkan pakaiannya di kamar mandi karena bagian depan ********** nyaris terlihat dari balik kemeja putih yang menempel di kulitnya akibat basah.


Ketika hendak keluar dari kamar mandi, ternyata pintunya terkunci dari luar. Elea menggedor-gedor pintu tapi tidak ada seorangpun yang mendengarnya.


Jam pelajaran bahasa mandarin sudah terlewat dan belum ada seorangpun yang datang ke kamar mandi dan mengeluarkan Elea dari sana.


Elea juga menyesali karena meninggalkan ponselnya di meja kantin saking buru-burunya berlari ke kamar mandi karena malu.


Beberapa menit kemudian bel pergantian pelajaran berbunyi dan Elea mulai mendengar langkah kaki mendekati kamar mandi. Dua orang siswa membuka pintu yang terkunci dari luar dan Elea berhambur keluar menuju kelasnya.


“Makasih yah?”


Dan kedua siswa itupun bingung bagaimana Elea bisa terkunci selama itu di dalam kamar mandi.


******


Jam pelajaran terakhir adalah seni pahat dan semua siswa diminta memasuki galeri dengan celemek dan peralatan masing-masing.


Siang itu, mereka harus menyelesaikan tugas seni pahat yang sudah mereka kerjakan sejak minggu lalu. Elea hanya perlu merapikan beberapa bagian kecil saja sebelum mengumpulkan hasil karyanya siang itu.


Semua siswa tengah sibuk menyelesaikan tugasnya masing-masing, lalu Bianca tiba-tiba saja berpura-pura jatuh dan menyenggol patung kecil milik Elea yang kemudian jatuh dan hancur berantakan di lantai.


“Bi! Lo apa-apaan sih?!” protes Elea kesal.


“Sori, gue ngga sengaja, El. Gimana dong?” jawab Bianca pura-pura panik.


“Ada apa ini?” tanya Pak Akbar, dosen mereka.


Elea dan Bianca saling tuduh dan menyalahkan satu sama lain sehingga membuat kegaduhan di dalam kelas.


“Cukup! Aturan tidak akan berubah hanya karena kelalaian kalian berdua. Kalian semua harus tetap mengumpulkan hasil karya kalian hari ini. tidak ada toleransi.”


“Baik, Pak!”


Semua siswa yang sudah selesai mulai meninggalkan galeri karena sebagian besar dari mereka harus mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang kebanyakan diadakan setelah jam kuliah.


“Gimana ini? Aku ada kelas lukis setelah ini.” Ujar Mimi salah satu anggota kelompok Elea.


“Iya, gue juga ada kelas karate.” Timpal Samuel.


“Gue juga ada kelas vokal.” Imbuh Mirna. “Lo ngga papa kan El, kita tinggal sendiri?”


“Ya sudah, kalian langsung pulang aja. Gue bisa sendiri kok.”


“Tapi El, gue yakin tadi Bianca sengaja nyenggol patung lo. Ngga bakal keburu kalau lo buat lagi dari awal.” Ujar Mimi


“Bianca? Ya udah ngga papa, Mi. Lo buruan ke ruang lukis.” Elea terus membersihkan potongan patungnya yang tercecer di lantai.


“Tapi El, bukannya lo juga ada kelas lukis hari ini?” tanya Mirna.


“Udah ngga papa. Sesekali bolos juga ngga masalah. Ijinin gue ya, Mi? Buruan sana keburu telat!”


Semua teman meninggalkannya dan sekarang Elea sendirian di galeri, mengumpulkan puing-puing patungnya dan menyusun serta merekatkannya kembali dengan lem. Akan butuh waktu lama dan itu artinya dia benar-benar harus bolos kerja siang itu.


Sekitar setengah jam kemudian, Arka tiba-tiba datang menghampirinya di galeri.


“El, lo ngapain masih disini sendirian?”


“Belajar menempel.” Jawab Elea singkat


“Kok bisa? Terus teman-teman kamu kemana?”


“Ada UKM.”


“Kamu ngga ikut UKM?”


“Bolos. Dahulukan yang wajib baru yang sunnah. Hehe..”


“Dasar! Sini gue bantuin. Lo buruan ikut UKM sana!”


*****


Hari berikutnya Arka mengantar Elea sampai kelas sambil membawakan tasnya. Tidak hanya itu, Arka juga membantu Elea piket dan meninggalkan sebuah susu coklat di meja Elea sebelum pergi.


Tentu saja itu membuat Bianca semakin geram dan mendorongnya untuk berbuat makin nekat.


Siang itu Bianca sengaja membantu petugas catering untuk melayani siswa-siswi yang ingin mengambil makanan. Ia ingin mengerjai Elea lagi. Tapi karena tahu niat Bianca, Elea bergegas pergi dari kantin begitu melihat bianca di balik meja prasmanan.


Untung ia masih memiliki sebotol susu coklat yang ditinggalkan Arka, jadi ia bisa sedikit mengganjal perutnya siang itu.


Karena ia sedang piket hari itu dan sebentar lagi kelas praktikum seni lukis akan segera dimulai, maka Elea sengaja menghabiskan sisa jam istirahatnya untuk pergi ke gudang. Ia ingin mengambil beberapa peralatan yang nantinya akan dipakai untuk kelas lukis yang merupakan tugas rutin petugas piket kelas hari itu.


Ia kembali ke gudang untuk ketiga kalinya setelah membawa banyak kanvas dan tiang penyangga sebelumnya. Dosen pengajar selalu minta petugas piket untuk menyediakan semua alat dan bahan sebelum kelas dimulai. Jadi ia hanya perlu membawa palet dan kuas lagi untuk menuntaskan tugasnya.


Sayangnya ketika ia masuk ke dalam gudang, pintu tiba-tiba tertutup dan dikunci dari luar. Elea tahu bahwa itu pasti perbuatan Bianca, tapi ia merasa cemas karena ia tahu bahwa gudang terletak jauh dari ruang kelas maupun ruang guru sehingga jarang ada orang yang lewat dan akan mendengar teriakan minta tolongnya.


Jika terkunci disana, maka akan sangat sulit baginya untuk bisa keluar. Elea segera mengambil ponselnya dan sayangnya baterainya hampir habis. Ia segera menghubungi Arka, namun ponselnya mati sebelum sempat berbicara dengan Arka.


‘Sial!’


Elea mulai merasa pengap di gudang yang gelap dan tertutup rapat itu. ia meraba dinding untuk menemukan jendela agar ia bisa bernafas dan mendapat cahaya. Namun sia-sia karena satu-satunya jendela yang ia temukan sepertinya rusak dan terkunci rapat.


Elea mulai lemas dan ketakutan. Sehingga ia memutuskan untuk berhenti berteriak dan duduk demi menghemat sisa tenaganya sampai ada orang yang membukakan pintu gudang.


Arka yang mendapat panggilan dari ponsel Elea merasa cemas karena ponselnya tiba-tiba mati dan tidak bisa dihubungi lagi. Arka bergegas ke sekolah Elea dan mencari gadis itu kemana-mana.


Ia tiba di kelas lukis milik SH dimana teman-teman sekelas Elea sedang belajar tapi Elea tidak ada disana.


“Kak Arka!” Bianca langsung menghampiri Arka. “Ada apa? Tumben kakak kesini?”


“Kamu tahu dimana Elea?”


“Elea?” Bianca memilih berbohong dan menggeleng. “Ngga kelihatan dari tadi. Kemana yah?”


Arka langsung mendatangi dosen pengajar dan mereka langsung mencari Elea ke semua tempat termasuk gudang.


“El!”


“Mas Arka!”


Arka langsung menghampiri dan memeluk Elea. “Kamu ngga papa?”


Gadis itu terlihat pucat dan keringat mulai mengaliri pelipis dan dahinya.


“Aku ngga papa, Mas.”


“Siapa yang ngelakuin ini sama kamu?”


Elea menggeleng. “Ngga tahu, Mas.”


Arka dan guru olahraga Elea segera membawa Elea ke lapangan dan membiarkannya beristirahat di tribun untuk sementara waktu.


Arka kemudian keluar sebentar untuk membelikan Elea minum.


“Jadi lo kekunci di gudang, El?” ledek Bianca.


“Lo sengaja ya Bi?”


“Hah? Lo nuduh gue? Mana buktinya? Kalau ngga ada bukti itu pencemaran nama baik namanya. Lo mau gue tuntut?”


Elea memilih diam karena ia memang tidak memiliki bukti saat itu. dan ia sudah selamat jadi tidak ingin memperpanjang masalah itu.


“Kan gue sudah pernah ingetin sama elo, jadi cewek jangan kecentilan. Supaya ngga banyak musuhnya.”


“Siapa yang kecentilan?” tanya Arka tiba-tiba.


Bianca tidak tahu kalau Arka sudah kembali dan berdiri di belakangnya. “Ah jadi gini Ka. Banyak yang bilang Elea kecentilan karena suka godain Ka Arka dan ngintilin terus kaya perangko gitu. Padahal kan kalian sepupuan yak?”


“Kasih tahu temen-temen lo itu. Elea cewek gue. Dan siapa aja yang berani gangguin dia bakal berurusan sama gue. Ngerti lo?”


“Ngerti kak.”


“Ya udah, pergi sana!”


“Iiiiya kak!” Bianca pergi dengan rasa kesal.


*******